Ahok Mengkritik Kinerja Jokowi, Eks Ahoker Bereaksi, Tegas

Jumat, 09 Februari 2024 – 18:43 WIB
Komunitas mantan Ahoker atau relawan pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 berkumpul melakukan aksi “Tolak Mulut Kotor Ahok” yang digelar di Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat (09/2/2024). Foto: Komunitas Mantan Ahoker

jpnn.com, JAKARTA - Komunitas mantan Ahoker atau relawan pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 berkumpul melakukan aksi “Tolak Mulut Kotor Ahok” yang digelar di Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat (9/2/2024).

Aksi tersebut sebagai bentuk kekecewaan dan kemarahan kepada mantan Gubernur DKI Jakarta itu karena sudah berani menyerang Presiden Joko Widodo (Jokowi) tanpa dasar yang jelas dengan mengatakan tidak bisa bekerja.

BACA JUGA: Kampus Gelisah, Mahasiswa Suarakan Pemakzulan Jokowi, Anies: Patut untuk Didengar

Ahok juga disebut menjelekkan Prabowo Subianto yang pernah mendorongnya menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta dengan menuduh Prabowo emosional.

“Kami adalah mantan Ahoker yang mendukung Pak Ahok di Pilkada DKI tahun 2017. Tolak mulut kotor Ahok seperti sampah. Hal ini terkait pernyataan Pak Ahok yang menyerang Pak Jokowi selaku presiden yang tidak bisa kerja dan Pak Prabowo emosional,” ujar Koordinator Mantan Komunitas Ahoker, C Suhadi, Jumat (9/2/2024).

BACA JUGA: Ini Posisi yang Dipilih Ahok Kalau Ditawari Jabatan

Suhadi menyampaikan justru yang terjadi malah sebaliknya Ahok adalah seorang yang temperamental, mudah meledak-ledak emosinya ketika berbicara dengan lawan bicara yang tidak sependapat dengannya.

“Padahal waktu Ahok bicara sangat emosional dan bukan hanya itu saja, justru terkenal dengan emosionalnya. Ternyata tidak berubah Pak Ahok, malah sekarang menyerang tanpa data,” ucap Suhadi.

BACA JUGA: Politikus PDIP Sebut Ahok Tak Tahan Melihat Jokowi Rusak Demokrasi

Suhadi mengaku heran dengan tudingan Ahok terhadap Presiden Jokowi yang dianggap tidak bisa bekerja karena faktanya kinerja Presiden Jokowi banyak diapresiasi banyak pihak, sehingga kepuasan masyarakat terhadap Presiden Jokowi sangat tinggi.

“Pernyataan Ahok yang mengatakan Pak Jokowi tidak bisa kerja, tentunya sangat melukai kami, para relawannya yang sekarang tegak lurus ke Jokowi. Faktanya, Pak Jokowi dalam soal kinerja sangat bisa,” ujar Suhadi.

Lebih lanjut, Suhadi mengatakan rekam jejak Presiden Jokowi tidak hanya berjanji, tetapi juga berhasil membuktikan program-program kerjanya baik saat menjadi wali kota Solo dua periode, gubernur DKI Jakarta maupun menjadi presiden selama dua periode ini.

“Hal ini sudah ditunjukkan pada saat menjadi wali kota 2 periode di Solo dan menjadi gubernur DKI Jakarta bersama Pak Ahok. Jakarta Baru sebagai program kampanye menjadi kenyataan,” ungkapnya.

“Demikian juga pada saat Pak Jokowi menjadi presiden selama 2 periode, kerja-kerja fantastis telah dilakukan,” ujar Suhadi lagi.

Kinerja Presiden Jokowi, kata Suhadi, mendapat apresiasi besar dari publik dengan memperoleh tingkat kepuasan lebih dari 80 persen.

Selain itu, hasil kinerjanya bisa dirasakan dan dilihat oleh masyarakat luas seperti pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, bandara dan bendungan masif di seluruh Indonesia.

Kemudian mengambil alih saham Freeport menjadi mayoritas serta menggenjot hilirisasi sumber daya alam (SDA) Indonesia agar memberikan nilai tambah dan menjadi pondasi Indonesia Emas 2045.

“Membangun tol, membangun bandara, mengambil alih saham Freeport dari 5 persen untuk Indonesia menjadi 51 persen. Langkah yang berani dan bisa kerja. Belum lagi hilirisasi yang menjadi fondasi Indonesia Emas telah dikerjakan. Banyak lagi kerja-kerja presiden yang luar biasa,” paparnya.

“Atas tangan dinginnya, beliau sangat dihormati dan diakui sebagai presiden terbaik buat Indonesia. Jadi, di mana letak tidak bisa kerjanya?” tambahnya.

Menurut Suhadi, tudingan-tudingan Ahok tanpa data itu ditengarai karena Ahok saat ini menjadi juru kampanye PDIP untuk memenangkan capres-cawapres Ganjar Pranowo – Mahfud MD.

Namun, menurut Suhadi, dalam kampanye sebaiknya menyampaikan gagasan dan program paslon yang dijagokan, bukan malah menyerang secara personal paslon lain.

“Ahok yang mengatakan Pak Jokowi enggak bisa kerja, karena sekarang sudah ada di PDIP sebagai jurkam. Menurut kami, tidak elok karena yang namanya kampanye menawarkan program kerja, bukan menyerang orang secara pribadi,” ujar Suhadi.

“Jujur kami mantan Ahoker kecewa dengan langkah Ahok menyerang Pak Jokowi. Padahal Pak Jokowi sangat menghargai Pak Ahok karena pasca lepas dari penjara ditugaskan menjadi Komisaris Pertamina,” pungkas Suhadi.

Sementara itu, relawan Ahoker lainnya, Marleyn Naomi Saerang mengatakan para Ahoker marah dengan pernyataan Ahok yang menyudutkan kinerja Jokowi. Hal itu, menurutnya, menimbulkan reaksi keras dari para pendukung Jokowi.

“Tentu ini akan memancing reaksi keras bukan hanya para pendukung Jokowi, tetapi mayoritas masyarakat Indonesia yang puas dengan kinerja Jokowi,” kata Naomi.

“Maka, para mantan Ahoker yang juga pendukung Jokowi ini berkumpul di Tugu Proklamasi untuk bersama-sama menyatakan bahwa kami sangat kecewa dan marah dengan pernyataan Ahok yang merendahkan Pak Jokowi yang tidak bisa kerja," tambahnya.

Bagaimana pun, kata Naomi, pihaknya akan tegak lurus bersama Jokowi, sehingga pernyataan Ahok itu tidak bisa diterima. Ia memahami serangan Ahok itu karena adanya perbedaan politik, tetapi menyerang kinerja Jokowi itu kesalahan besar.

"Kami sekali lagi marah dan tidak terima. Silakan Ahok berbeda politik, itu haknya, tetapi paling tidak berkampanye dengan sejuk dan tidak provokatif. Apalagi menyerang Jokowi yang memiliki dukungan luas dari masyarakat. Itu kesalahan besar," ujar Naomi.

“Satu lagi, Ahok mengatakan Pak Prabowo sakit-sakitan. Sebagai pendukung 02, saya pribadi sangat menyesalkan ucapan Ahok,” pungkas Naomi.(fri/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler