Aksi Mogok Makan Korban PT Amman Mineral Masih Berlanjut Meski 5 Orang Kritis

Minggu, 18 Desember 2022 – 13:45 WIB
Suasana aksi mogok makan oleh warga Sumbawa Barat, korban perusahaan tambang emas dan tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), di Komnas HAM ini sudah dilakukan sejak Selasa (13/12). Foto: AMANAT

jpnn.com, JAKARTA - Aksi yang dilakukan korban perusahaan tambang emas dan tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang menggelar demo di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Selasa (13/12), mulai bertumbangan.

Sebanyak lima dari 16 peserta aksi mogok makan dari Aliansi Masyarakat Anti Mafia Tambang (AMANAT) tumbang dan harus dilarikan ke rumah sakit.

BACA JUGA: Turun ke Jalan, Mahasiswa Tagih Janji Komnas HAM soal PT Amman

Aksi mogok makan oleh warga Sumbawa Barat yang digelar di Komnas HAM ini sudah dilakukan sejak Selasa (13/12).

Tim dokter dari RS Pena 98 Rudolf Usmany yang memeriksa massa aksi mengatakan ada lima orang peserta mogok makan yang harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lanjutan.

BACA JUGA: Dipanggil DPR, Presdir PT Amman Mineral Ajukan Penundaan RDP, Nih Alasannya

"Karena kami merasa bahwa sesuai dengan kondisi saat ini tidak bisa melanjutkan aksi dan ini terkait kondisi potensial ancaman jiwa sehingga kami mengambil inisiatif secara medis untuk membawa kelima sahabat kami ini ke RS Pena 98 di Kabupaten Bogor," kata dia di Kantor Komnas HAM, Minggu (18/12).

Sementara itu, Rudolf menyebut sebelas massa aksi lainnya dalam kondisi for the line, tidak bisa dikatakan baik atau tidak. Namun, masih bisa melanjutkan aksi dengan catatan akan dimonitor secara berkala.

BACA JUGA: Menjelang RDPU dengan PT Amman, Adian Kembali Serukan Setop Pelanggaran HAM

Rudolf menjelaskan pihaknya melakukan beberapa pemeriksaan fisik dan gula darah secara berkala. Untuk pemeriksaan fisik dilakukan dengan mengecek tanda-tanda vital, seperti tekanan darah, nadi, dan suhu tubuh.

"Yang kami pantau dari buang air kecilnya ada yang kemarin terakhir, ada yang hari ini, pagi dini hari. Jadi, kami melihat sudah ada tanda-tanda dehidrasi," sambung Rudolf.

Ada juga salah satu massa aksi yang tidak sanggup berjalan dan harus diangkat ke mobil ambulans menggunakan ranjang.

Menurut Rudolf, kondisi tersebut disebabkan karena kurangnya asupan gula ke tubuh.

Sementara itu, Humas AMANAT Yudi Prayudi menekankan pihaknya masih menuntut Komnas HAM untuk memeriksa dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) kepada korban.

Menurut Yudi, PT AMNT menerapkan sistem kerja yang tidak manusiawi, yakni kerja 8-2-2 alias kerja delapan minggu, istirahat dua minggu, dan sisanya karantina selama dua minggu.

"Pihak Komnas HAM sudah mengirimkan surat kepada pihak AMNT, tetapi belum ada balasan atau tanggapan. Kami juga berharap Komnas HAM menurunkan tim investigasi," tegas Yudi.

Meski ada massa aksi yang tumbang dan harus dilarikan ke RS, Yudi menegaskan pihaknya terus melanjutkan aksi mogok makan ini. Pihaknya akan terus menunggu respons baik Komnas HAM.

"Tetap melanjutkan aksi sampai kami mendapat respons yang baik," pungkasnya. (tan/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... #AmmanPelanggarHAM Trending di Twitter, DPR Didesak Bertindak


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler