Aku Rindu Indahnya Langit Biru

Rabu, 30 September 2015 – 09:38 WIB
ILUSTRASI. FOTO: JPNN.com

jpnn.com - Rasanya begitu sesak. Saat oksigen harus berganti dengan karbon monoksida, unsur berbahaya dari dampak kebakaran hutan dan lahan. Bukan hitungan jam, tapi sepanjang siang dan malam tanpa henti. Sesaknya sungguh tak terperi.

Di Pekanbaru, Ibukota Provinsi Riau, anak-anak sudah hampir sebulan tidak merasakan bangku sekolah. Tinggal di rumah pun, asap menyerbu hingga ke kamar-kamar.

BACA JUGA: Hiii Serem...Banyak Tengkorak di Gua Ini, Mistis Banget

Riau pun makin terisolir. Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru masih lumpuh total. Masyarakat pun mulai merindukan indahnya langit biru.

Akun-akun media sosial warga Riau, hingga Rabu (30/9) pagi, masih didominasi curahan hati, caci maki hingga nada kepasrahan. Penyebanya adalah bencana asap yang tak hilang, hampir dua bulan ini.

BACA JUGA: Bermain Bola di Atas Sungai, Kok Bisa?

“Kapan kami bisa melihat indahnya nikmat Tuhan, langit biru dan udara segar,” demikian postingan akun facebook Eka Putri.

Postingan menyentuh juga ditulis Muhammad Ikhsan melalui akunnya.

BACA JUGA: MENGHARUKAN! Sepenggal Kisah Pilu Budi Waseso

“Wahai langit biru, dimanakah kamu? Karena asap, kami takut lupa seperti apa indahnya langit,” tulisnya yang direspon like banyak orang.

Tak hanya masyarakat biasa, Wakil Ketua DPRD Riau Noviwaldy Jusman, yang selalu getol memantau perkembangan penanganan asap, juga dibuat tak berdaya. Kekesalannya pun diluahkan dalam status face book pagi ini, yang mengecam lambannya penanganan dari pemerintah pusat, sementara ribuan korban terus berjatuhan setiap harinya.

“Saya sebagai pribadi, ingin memisahkan diri dari NKRI. Bukan karena saya tak punya rasa kebangsaan. Tapi karena kalian di pusat, tak merasakan kami ini bangsa Indonesia,” tulis Noviwaldy.

Politisi Demokrat ini juga memposting dua foto tentang kondisi kota Pekanbaru, yang bagai hilang ditelan asap.

“Ya Allah, apakah kami sudah engkau panggil? Atau kami tinggal di awan? Tetangga kami sudah hilang,” tulis Noviwaldy menggambarkan betapa parahnya pekat asap di Riau.

Seperti biasa, asap hari ini masih parah. Bahkan rumah tetangga depan rumah saja, tak terlihat tertutup asap.

BMKG Pekanbaru melansir, jarak pandang hanya berkisar 50-100 meter di Ibukota Riau. Hingga saat ini korban akibat asap dari 12 kabupaten dan Kota di Provinsi Riau, sudah tembus 43 ribu jiwa.

Di Kota Pekanbaru saja, korban terpapar asap sudah lebih dari 4 ribu jiwa, mayoritas terkena ISPA. Riau sendiri sebenarnya bukan penghasil titik api.

Jumlah titik api di Provinsi ini relatif kecil bahkan kemarin mencapai titik nol. Asap pekat yang bertahan dua pekan ini, berasal dari kebakaran lahan di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi. Jumlahnya mencapai ratusan titik api.

“Kita ini korban. Tapi paradigma masyarakat dan pemerintah nasional, titik apinya di kita. Desaknya ke kita, harusnya desak Gubernur Sumsel dan Jambi untuk padamkan titik api mereka,” tegas Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rahman.

Status Riau sendiri hingga saat ini masih tanggap darurat pencemaran udara akibat asap. Tenda-tenda kesehatan dan lokasi evakuasi sudah disiapkan, namun hampir semua tempat dipenuhi asap. Sebanyak 6,3 juta rakyat Riau harus kemana? (afz/jpg)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ada Perang Api... Awas, Jangan Ditiru di Rumah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler