Al-Qur’an Dibakar, Senator Filep Bereaksi Keras, Bicara Nilai Toleransi Dalam Kultur Papua

Kamis, 26 Januari 2023 – 05:48 WIB
Senator atau anggota DPD RI dari Papua Barat Filep Wamafma. Foto: Dokumentasi pribadi

jpnn.com, JAKARTA - Pembakaran kitab suci Al-Qur’an yang dilakukan oleh ketua umum salah satu partai politik di Stockholm, Swedia menuai reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat di tanah air.

Senator atau anggota DPD RI dari Papua Barat Filep Wamafma turut menyayangkan peristiwa ini.

BACA JUGA: Heboh Al-Quran Dibakar di Swedia, GNPF Ulama Desak Pemerintah Bersikap

Senator Filep menilai kejadian tak pantas itu justru menunjukkan mundurnya peradaban modern yang selama ini digaungkan ‘Barat’.

“Saya secara pribadi sangat menyesalkan kejadian tersebut,” kata Filep, Rabu (25/1/2023).

BACA JUGA: Ikatan Sarjana Katolik Kecam Pembakaran Al-Qur’an di Swedia

Filep mengatakan Umat Muslim sangat tercederai hati dan pengalaman keagamaannya lantaran kejadian ini.

Dia menilai peradaban demokratis yang disebarkan di dunia Barat kini seperti berjalan mundur ke belakang lantaran nilai toleransi seolah tidak punya makna apa-apa dalam kehidupan beragama di sana.

BACA JUGA: Komisi I DPR akan Menaikkan Isu Pembakaran Al-Quran di Swedia ke Tingkat Bilateral

Filep mengingatkan harus ada langkah politik yang diambil sebagai negara berdaulat, yaitu memanggil Dubes Swedia untuk Indonesia dan meminta keterangan secara detail terkait peristiwa tersebut.

“Pasalnya, Swedia dan Indonesia punya hubungan bilateral yang baik,” kata Filep.

Selain itu, Filep menuturkan masyarakat Indonesia juga merupakan masyarakat majemuk yang mampu menunjung tinggi nilai-nilai toleransi terutama dalam kehidupan beragama.

Hal ini tentu sangat jelas tercermin dalam semboyan bangsa Indonesia ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang juga menjadi salah satu pilar kebangsaan negara.

Lebih lanjut, Filep menambahkan keberagaman suku dan budaya yang ada di Indonesia juga berkontribusi untuk menanamkan sifat dan sikap saling menghargai serta menghormati perbedaan termasuk dalam hal perbedaan keyakinan.

Salah satunya adalah Filosofi budaya ‘Satu Tungku Tiga Batu’ di tanah Papua.

“Ada satu hal lain yang mau saya tekankan terkait peristiwa ini, bahwa Dubes Swedia harus diberi pemahaman mengenai toleransi beragama di Indonesia, termasuk di antaranya tentang kultur masyarakat Papua dan Papua Barat. Toleransi beragama di Papua dan Papua Barat berlandaskan pada prinsip Satu Tungku Tiga Batu,” ungkapnya.

Menurut Filep, filosofi ini sudah turun-temurun melekat dalam diri Orang Papua. Di Fakfak misalnya, filosofi Satu Tungku Tiga Batu merupakan pengejawantahan dari filsafat hidup Etnis Mbaham Matta yang disebut KO, ON, KNO, Mi Mbi Du Qpona, yang berarti Kau, Saya, dan Dia Bersaudara.

“Inilah yang harus diceritakan berulang-ulang supaya wajah toleransi beragama benar-benar dirasakan dan disebarluaskan ke seluruh dunia,” tegas Akademisi STIH Manokwari ini.

Menurut politikus asal Biak ini, prinsip Satu Tungku Tiga Batu juga dapat dimaknai sebagai hubungan kerja sama yang baik antara agama, adat dan pemerintah.

“Agama, adat dan pemerintah merupakan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara di Papua,” ujar Filep.

Demikian juga prinsip Satu Tungku Tiga Batu itu mengikat hubungan antara pribadi-pribadi dalam masyarakat Papua, bahwasanya semua dipersatukan dalam satu kehidupan setara tanpa memandang perbedaan agama, suku, status sosial.

“Jadi, sekali lagi, untuk persolan pembakaran Al-Qur’an ini, mari kita gaungkan filosofi besar anak-anak Papua, yaitu prinsip Satu Tungku Tiga Batu agar dunia membuka mata, bahwa sejarah toleransi beragama sudah mendarah daging di Tanah Papua,” kata Filep.

“Untuk saudara-saudara saya muslim di Papua, saya ikut berbelarasa atas peristiwa ini. Kita mendorong supaya keadilan hukum ditegakkan atas kejadian ini,” kata Filep lagi.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler