Alhamdulillah, Wahid Sudah Mau Kurangi Makan, Kini Cuman Enam Sendok

Senin, 26 September 2016 – 07:59 WIB
Wahid sedang makan ditemani ibunya, Winarni, dirumahnya. Wahid mengalami obesitas hingga berat badan mencapai 180 kg, kini mendapatkan perawatan di rumah sakit. Foto: SYAMSUL FALAK/RADAR TEGAL/dok.JPNN.COM

jpnn.com - TEGAL – Wahid Zaenanda, 19, remaja penderita obesitas dan autis, kini menjalani  perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kardinah, Tegal, Jateng. 

Selain ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal juga berjanji akan membantu biaya perawatan Warga RT 4 RW 1, Jalan Tentara Pelajar No. 5, Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, yang memliki berat badan 180 kilogram (Kg) itu.

BACA JUGA: Cegah Taman Jadi Lokasi Mesum, Jam Operasi Dibatasi

Hal itu diungkapkan Wali Kota Tegal KMT Hj Siti Masitha Soeparno saat menjenguk Wahid, bersama rombongan pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tegal Minggu (25/9).

Menurut dia, Wahid tentu membutuhkan support secara medis, moril, dan materil agar mendapat perawatan sebaik-baiknya di RSUD Kardinah. 

BACA JUGA: Pengikut Gaib Dimas Kanjeng, Ilmu Kebal, dan Semua Bohong Belaka

Selain itu, wali kota berharap, anggota keluarga terus mendukung Wahid agar kembali sehat dan mendapatkan berat badan yang ideal. 

Apalagi, melihat usia Wahid yang sangat muda, tapi bobotnya sangat berlebih. 

BACA JUGA: Beroperasi 24 Jam, Toko Modern di Pantura Batang Langar Perda

”Kami turut prihatin dan memperhatikan semua warga yang membutuhkan uluran tangan,” terang wali kota, didampingi Wakil Direktur Kardinah Drg Agus Dwi S. 

Pihaknya menegaskan bahwa Pemkot Tegal akan mengimplementasikan pelayanan terbaik, khususnya terhadap Wahid. Menurut dia, wajar jika keluarga Wahid kekhawatiran, 

Wahid tidak bisa kembali pada kondisi normal. Namun, wali kota menegaskan bahwa proses perawatan tidak bisa dilakukan secara instan. 

Apalagi, gejala obesitas sudah terindikasi sejak Wahid berusia 3 tahun. ”Wahid juga ternyata autis,” tuturnya. 

Oleh sebab itu, harus dilakukan penanganan secara profesional dari dokter-dokter ahli. Setidaknya, ada kesadaran dari orang tua untuk dilakukan penanganan secara medis. 

”Kita lihat proses penyembuhannya tanpa harus merujuk ke tempat lain, harus diperiksa semuanya mulai jantung dan organ tubuh lainnya,” jelas wali kota.  

Dalam kesempatan itu, wali kota yang juga merupakan ketua PMI memberikan tali asih kepada keluarga Wahid. 

Pascadirujuk ke RSUD Kardinah, kondisi remaja penderita obesitas itu terus dikontrol petugas paramedis. 

Bahkan, nantinya penanganan Wahid Zaenanda akan melibatkan sejumlah dokter spesialis. 

Dengan demikian, diharapkan penanganannya akan maksimal tanpa dirujuk ke rumah sakit lain. 

Salah satu dokter yang menangani, dr Tri Setyo SPKj mengatakan, Wahid didiagnosa mengalami autis sekaligus obesitas. Nah, autis yang dialami sejak kecil sudah bisa dipantau. 

”Saat ini untuk autisnya sudah tertangani dengan baik karena rutin kontrol. Jadi saat ini kita akan fokuskan pada penanganan pada obesitasnya,” katanya.

Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Kardinah Agus Dwi. S. mengatakan, tim dokter khusus sudah dibentuk untuk menangani kasus remaja obesitas. 

Mereka terdiri terdiri dari delapan personel yang dipimpin dr Nurmilawati dengan dokter spesialis meliputi ahli penyakit dalam Said Baraba, ahli kejiawaan/psikiater Tri Setyo, ahli jantung dan pembuluh darah Arbi Lizarda, ahli paru Eko, serta dokter khusus pemeriksaan laboratorium dan radiologi. 

Selain menjalani diet gizi, pemeriksaan lanjutan secara menyeluruh juga terus dilakukan pantauan tim dokter khusus. 

”Untuk sekarang, penanganan medis masih fokus untuk memastikan fungsi jantung, paru-paru, lambung, dan ginjal apakah bekerja normal atau ada gangguan,” ungkapnya.

Terkait teknis diet gizi yang diterapkan, Agus Dwi menuturkan, menjadi salah satu terapi medis bagi penderita obesitas. 

Khususnya dalam mengendalikan pola dan nafsu makan selama menjalani perawatan. 

Namun, agar asupan gizi yang dibutuhkan tetap terpenuhi, tambahan nutrisi juga sudah diberikan melalui infus. 

Hal itu untuk menyeimbangkan kinerja organ dalam. Bahkan, untuk memastikan perkembangan terkini tentang kondisi dan kinerja seluruh organ dalam, Senin-Selasa (26-27/9) Wahid akan kembali menjalani pemeriksaan lab, radiologi, hingga CT Scan. 

”Kasus obesitas ini memang tergolong langka, karena selain obesitas Wahid juga terdeteksi autis, sehingga perlu penanganan khusus psikiater,” terangnya.

Lebih lanjut Agus Dwi menjelaskan, untuk mengantisipasi tindakan melukai diri sendiri, pihaknya juga sudah memasang satu matras tepat di dinding ruang rawat inap sebelah kanan ranjang pasien.

Tujuannya agar saat pasien marah ada media atau sarana yang digunakan untuk meluapkan emosinya. 

Dengan demikian, tidak melukai dirinya sendiri, baik dengan memukul bagian tubuh atau kepalanya. 

Sementara itu, Winarni, 46, ibunda Wahid yang senantiasa mendampingi putra sulungnya dari lima bersaudara tersebut merasa bersyukur. 

Sebab, putranya langsung mendapatkan penanganan medis yang cepat dan layak. 

Bahkan, dia juga menyampaikan ucapan banyak terima kasih kepada pihak rumah sakit dan Pemkot Tegal karena mendapat pelayanan dan ruang perawatan khusus. 

BACA: Per Hari Makan Telur 3 Kg, Ayam 3 Kg, Kini Berat Badan 180 Kg

”Tiga hari, nafsu makan Wahid jadi terkontrol, karena makannya juga cuma enam sendok,” ujarnya. (dya/syf/sam/jpnn) 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kasihan, Warsiyem Sudah Lima Tahun Dikurung di Gubuk


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler