Alissa Wahid Sebut Penyebab Munculnya Intoleransi, Baca deh!

Senin, 23 Agustus 2021 – 19:00 WIB
Tangkapan layar - Direktur Nasional Gusdurian Network Indonesia (GNI) Alissa Wahid memberi paparan dalam Dialog Kebangsaan yang bertajuk 'Perempuan dalam Penguatan Wawasan Kebangsaan', Senin (23/8/2021). ANTARA/Putu Indah Savitri/pri.

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Nasional Gusdurian Network Indonesia (GNI) Alissa Wahid menyebut penyebab utama munculnya intoleransi hingga gerakan ekstrimisme di Indonesia.

Alasannya ternyata sangat sederhana, hanya karena faktor merasa mayoritas.

BACA JUGA: Pendiri NII Crisis Center Bandingkan FPI dan Taliban, Begini

Jadi, bukan karena ajaran agama tertentu.

“Ternyata faktor utamanya adalah perasaan bahwa, ‘Saya adalah mayoritas, karena itu minoritas harus menurut dengan saya’,” ujar Alissa dalam Dialog Kebangsaan yang bertajuk 'Perempuan dalam Penguatan Wawasan Kebangsaan', Senin (23/8).

BACA JUGA: Mengharukan! Bernazar ke Makam Ayah Menggunakan Seragam Taruna Akmil AD

Menghadapi kondisi yang ada, Alissa merasa perempuan perlu berperan penting untuk melawan ekstremisme yang terjadi di Indonesia.

“Perempuan berperan dalam memperkuat wawasan keagamaan yang moderat, karena ekstremisme di Indonesia lebih banyak atas nama agama,” ucapnya.

BACA JUGA: Hmm.., Jadi ini Alasan Pasangan Suami Istri Tak Ingin Punya Anak

Alissa menekankan, berbicara mengenai ekstremisme dan intoleransi atas nama agama tidak hanya melibatkan satu agama.

Terdapat berbagai jenis intoleransi yang terjadi di Indonesia dan melibatkan agama yang beragam.

Karena itu perempuan sebagai aktor bangsa, khususnya sebagai seorang ibu, memiliki peran penting dalam menjaga anggota keluarga masing-masing.

Paling tidak agar tidak terlibat ekstremisme.

Caranya, dengan cara menguatkan akar keindonesiaan melalui keluarga dan memperkuat wawasan keagamaan yang moderat.

Dalam presentasinya, Alissa memaparkan bahwa keberhasilan moderasi beragama pada masyarakat Indonesia dapat dilihat dari tingginya implementasi empat indikator utama dalam kehidupan sehari-hari.

Yakni, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan penerimaan terhadap tradisi.

Pada indikator komitmen kebangsaan dapat dilihat apakah masyarakat telah menerima dan menjalankan prinsip-prinsip berbangsa, sesuai dengan yang tertuang dalam konstitusi UUD 1945 dan regulasi di bawahnya.

Kemudian pada indikator toleransi, dapat dilihat apakah masyarakat Indonesia telah menghormati perbedaan dan memberi ruang kepada orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya dan menyampaikan pendapat serta menghargai kesetaraan dan bersedia bekerja sama.

Terkait indikator anti kekerasan, dapat dilihat melalui penolakan seseorang terhadap tindakan kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan, baik fisik maupun verbal dalam mengusung perubahan yang diinginkan.

Indikator keempat adalah penerimaan terhadap tradisi, yang mana dapat dilihat dari kemampuan masyarakat dalam membuka diri untuk menerima tradisi dan budaya lain, sejauh tidak bertentangan dengan pokok ajaran agama.

“Sayangnya, banyak perempuan yang sekarang menjadi aktor ekstremisme,” ucapnya.

Kelompok ISIS pada 2015 membuat pernyataan bahwa perempuan boleh terlibat di garis depan.

Hal ini merupakan ancaman yang paling ekstrem bagi perempuan dalam konteks persatuan bangsa.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Alissa Wahid mengajak para perempuan berperan aktif memperkuat kesadaran hidup bersama dengan warga lainnya berlandaskan pada semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Bersama-sama memperkuat kesadaran hidup kita, bahwa kita ini hidup sebagai warga negara dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” pungkas Alissa Wahid.(Antara/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler