Alumnus Harvard: Hidup Toleran adalah Ciri Kepribadian Bangsa Indonesia

Senin, 10 Mei 2021 – 23:55 WIB
Alumnus Harvard University Sukidi mengisi Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan, Senin (10/5) dengan tema ‘Toleransi sebagai Jati Diri Hidup Bangsa Indonesia’, dipandu KH Zuhairi Misrawi. BKNP PDI Perjuangan

jpnn.com, JAKARTA - Alumnus Harvard University Sukidi mengingatkan bahwa sejak wali sanga hingga Bung Karno selalu mengingatkan bahwa hidup rukun adalah jati diri orang Indonesia. Karena itu, pengurus Muhammadiyah Surakarta itu menganggap di tengah suasana Ramadan kali ini, semangat itu perlu diingatkan, agar masyarakat bisa hidup bersama antarumat beragama.

Sukidi mengatakan sangat sayang akhir-akhir ini kehidupan toleransi seringkali ternodai karena adanya gesekan politik.

BACA JUGA: Terima Panitia Indonesia Pasti Bisa, Bamsoet Dorong Penguatan Karakter Bangsa

Makin memanasnya kondisi masyarakat ini juga disebabkan oleh fenomena hoaks.  Bahkan terkesan ingin memecah belah persatuan bangsa demi kepentingan kelompok, padahal sangat merugikan rakyat.

Menurut Sukidi, Bung Karno sering mewanti-wanti akan terjadinya hal seperti ini.

BACA JUGA: Tolak Perpres Investasi Miras, Din Syamsuddin: Nasib Buruk untuk Seluruh Bangsa Indonesia

“Salah satu cita-cita Bung Karno adalah hidup damai para rakyat Indonesia dengan adanya sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan hanya agama Islam saja yang dimasukkan dalam Pancasila,” kata Sukidi saat mengisi Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan, Senin (10/5) dengan tema ‘Toleransi sebagai Jati Diri Hidup Bangsa Indonesia’, dipandu KH Zuhairi Misrawi

Lulusan jurusan Islamic Studies itu melanjutkan, sila itu memiliki pesan seharusnya bangsa Indonesia hidup rukun dan damai sehingga bisa tumbuh dalam kasih dan damai, menjadi masyarakat yang guyub, rukun, dan madani sesuai dengan cita-cita dan kepribadian bangsa.

BACA JUGA: Esensi Hardiknas Bagi Kehidupan dan Masa Depan Bangsa Indonesia

Namun, Sukidi menambahkan, saat ini sering sekali terjadi pertikaian antargolongan umat beragama dan antarsuku. Hal ini sangat menyedihkan karena sudah sangat jauh dari cita-cita dan kepribadian bangsa. Hoaks dan permusuhan bukanlah ajaran agama Islam dan juga bukanlah kepribadian seorang muslim.

"Untuk umat muslim saat ini yang sedang menjalankan ibadah puasa sudah seharusnya kita saling mengingatkan untuk tidak turut menyebarkan hoaks dan memicu perpecahan, karena agama Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin,” tambahnya.

Sukidi mengatakan Bung Karno pernah menegaskan umat muslim harusnya menjadi lokomotif pergerakan perdamaian. Karena setiap bertemu sesama muslim, pasti mengucapkan salam. “Salam ini yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah semoga kedamaian bersamamu,” lanjut Sukidi.

Sebagai sebuah bangsa yang mempunyai kepribadian hidup rukun dan damai, sudah seharusnya masyarakat bertahan sebagai bangsa yang melawan perpecahan. Ini bisa dimulai dengan melawan berita palsu. Dan seharusnya mempunyai sikap tenggang rasa terhadap kelompok yang berbeda. 

Sukidi mengatakan jangan sampai masyarakat saat ini menghancurkan apa yang sudah ada, yakni nilai-nilai yang ditegakkan pendiri bangsa dan wali sanga.

“Kita adalah satu sebagai bangsa Indonesia, kita harus bahu-membahu gotong royong untuk menjaga bangsa Indonesia, satu sebagai sebuah bangsa, satu sebagai sebuah cita-cita keadilan bersama, maka salah satu tindakan yang penting adlah hidup rukun antarumat beragama dan saling toleransi kepada mereka yang berbeda,” pungkas Sukidi.

Program Ngabuburit BKNP PDIP dengan tema besar ‘Mata Air Kearifan Walisongo’ hadir setiap hari pada Ramadan pukul 17.00 WIB. Sementara sebelum sahur, ditampilkan program sejenis juga. Semuanya dapat diikuti melalui kanal YouTube: BKNP PDI Perjuangan, Instagram: BKNPusat dan Facebook: Badan Kebudayaan Nasional Pusat. (tan/jpnn)


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler