Ambisi Australia Mengekspor Listrik Tenaga Surya ke Singapura

Senin, 15 Juli 2019 – 14:08 WIB
Bendera Australia. Foto: Ilustrasi

jpnn.com, DARWIN - Australia menunjukkan ambisi menjadi eksporter energi terbarukan. Salah satunya ditunjukkan dalam proyek ladang panel surya di Northern Territory (NT), Australia, senilai AUD 20 miliar (Rp 196 triliun).

Proyek yang dilakukan perusahaan Sun Cable itu menargetkan produksi listrik tenaga surya 10 gigawatts (GW) di padang pasir wilayah Tennant Creek. Energi dari panel yang tersebar di lahan seluas 15 ribu hektare itu bakal disalurkan untuk memenuhi seperlima kebutuhan listrik Singapura.

BACA JUGA: Singapura Tangkap Penggalang Dana Arakan Army

''Kami akan mengangkat salah satu cadangan radiasi surya terbesar di dunia dan menyalurkannya melalui kabel bawah laut sepanjang 3.800 kilometer,'' ujar CEO Sun Cable David Griffin kepada The Guardian.

Proyek tersebut bukan yang pertama di NT. Sebelumnya, Andrew Dickson meluncurkan proyek Asian Renewable Energy Hub. Dickson memanfaatkan angin dan panas di wilayah Pilbara untuk menghasilkan energi terbarukan hingga 15 GW. Produksi tersebut rencananya digunakan untuk menghidupi industri lokal.

BACA JUGA: Perusahaan Rental Pakaian Bermerek Asal Singapura Bidik Peluang Bisnis di Batam

''Setahu kami, proyek ini bakal menjadi pembangkit listrik hybrid (angin dan surya) terbesar di dunia,'' ungkapnya.

BACA JUGA: Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya Bakal Dibangun di 21 Ribu Titik

BACA JUGA: Target Penambahan Pembangkit Listrik dari Energi Terbarukan 16 Ribu MW

Sampai saat ini, proyek di Pilbara masih masuk tahap awal. Mereka memprediksi baru bisa mulai beroperasi satu dekade ke depan. Namun, hal itu pun sudah membuat para pemerhati lingkungan dan akademisi girang.

Ross Garnaut, profesor bidang ekonomi di University of Melbourne, mengatakan bahwa transformasi energi di Australia sudah searah dengan kesepakatan Paris tentang emisi gas buang. Hal tersebut juga bakal membuat Australia sebagai pemain utama dalam era ekonomi terbaru di masa depan.

''Pertanyaannya bukan lagi bisa atau tidak kita menggunakan energi terbarukan, tapi kapan,'' ucap Roger Dargaville, pakar bidang energi terbarukan di Monash University. (bil/c19/sof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mengintip Syuting HBO Asia Originals, Invisible Stories


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler