Amboi... Pak Dokter Ganteng Ini Selalu Digoda PSK Sarkem

Kamis, 17 Maret 2016 – 22:19 WIB
Tri Kusumo Bawono, dokter berstatus pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Gedongtengen, Kota Jogja. Foto: Radar Joga/JPG

jpnn.com - JOGJA – Bekerja sebagai dokter yang bertugas di lokalisasi Pasar Kembang, Kota Jogja   tentu bukan hal mudah. Bukan hanya harus menghadapi stigma negatif, tetapi juga godaan-godaan dari para pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi yang lebih kondang dengan julukan Sarkem itu.

Itulah yang dihadapi Tri Kusumo Bawono, dokter berstatus pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Gedongtengen, Kota Jogja yang membawahi wilayah Sosrowijayan, tempat lokalisasi Sarkem berada. Pria 44 tahun itu sudah bukan orang asing lagi bagi warga Sarkem.

BACA JUGA: WOW! 3000 Turis Mancanegara ke Sulteng demi Gerhana

Bagi warga Sarkem, Tri dikenal sebagai sosok yang humoris dan ramah. Pria berparas ganteng itu juga cepat dekat dengan warga, tokoh masyarakat dan para PSK di sana.

Tri merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tahun 2003. Pada tahun 2004, pria kelahiran 6 Juli 1972 ini menjadi dokter  PTT di  Puskesmas Gedongtengen, Kota Jogja.

BACA JUGA: Untuk BPK, Tolong Audit Pengadaan Pesawat di Puncak Papua

“Saya termasuk angkatan pertama di Kedokteran UMY, tahun 1993. Tahun 2003 lulus lalu 2004 jadi PTT di Puskesmas Gedongtengen,” ujarnya seperti dikutip Radar Jogja.

Saat pertama kali menjadi dokter PTT di Puskesmas Gedongtengen, ia beberapa kali mengikuti pertemuan dengan warga, lembaga swadaya masyarakat, keamanan dan para tokoh yang ada di wilayah Pasar Kembang. Pertemuan itu diadakan setelah terungkapnya 13 penderita  HIV di Sarkem.

BACA JUGA: ‎Catat, Menteri Yuddy Minta Tiga Lokasi ini Diperhatikan

Lambat laun, ia berkenalan dengan para tokoh yang ada di Sarkem. Dari pertemuan itu lantas dibentuklah klinik pelayanan khusus di Sarkem. Ia dan beberapa teman dokter dipercaya memberi pelatihan tentang penanganan HIV. “Lalu kami mendirikan klinik tes HIV dan rehabilitasi napza,” katanya.

Memberikan penyadaran pentingnya menjaga kesehatan bagi para PSK pun bukan hal yang mudah. Tri mengaku sempat pesimistis mampu memberikan edukasi mengenai HIV/AIDS dan upaya pencegahannya kepada warga serta para PSK. Sebab, semua orang tahu wilayah Sarkem dicap negatif dan disebut-sebut sebagai daerah hitam.

“Awalnya memang saya berpikiran ini pasti sulit. Karena salah satu wilayah pelayanannya di Sarkem, semua tahu seperti apa Sarkem saat itu,” ujarnya.

Ia dan tim dari Puskesmas Gedongtengen beberapa kali mendapat penolakan ketika ingin mengedukasi mengenai kesehatan reproduksi kepada para PSK. Namun, penolakan demi penolakan yang dialaminya, tak lantas membuatnya berhenti.

Apa yang dialaminya itu justru menjadi motivasi untuk bisa lebih baik memberikan edukasi. Terlebih tanggung jawab sebagai pelayan kesehatan merupakan panggilan hidup.

“Bagaiamana pun mereka juga manusia yang butuh pelayanan kesehatan seperti lainnya. Memberikan pelayanan adalah tanggung jawab kami, jadi saya tetap berusaha agar bisa diterima,” ungkapnya.

Melalui  pendekatan personal secara perlahan, ia berhasil merangkul tokoh-tokoh masyarakat. Dari situlah Tri dokter yang sejak tahun 2009 menjadi kepala Puskesmas Gedongtengen ini bisa dekat dengan warga,  termasuk para PSK di Sarkem.

“Guyon yang lucu itu sudah kebiasaan sejak dulu, ya itu salah satu yang saya terapkan agar bisa dekat. Dibantu tokoh masyarakat dan pemerintah desa juga,” ucapnya.

Ia dan tim kesehatan Puskesmas Gedongtengen secara rutin memberikan pemahaman tentang HIV/AIDS dan pencegahannya. Edukasi dan tes darah itu ia lakukan dengan mendatangi satu per satu losmen di wilayah Sosrowijayan.

“Kita bicara soal pencegahanya, kita berikan konseling komunikasi dan edukasi. Kita melakukan pemeriksaan juga tidak hanya di sini, tapi di rutan dan lapas,” jelasnya.

Di Sarkem, lanjutnya, juga telah ada kesepakatan di mana setiap tamu atau PSK harus menggunakan kondom. Jika melanggar akan dikenai denda. Kesepakatan ini disahkan pada tahun 2012 lalu.

Selain itu, agar penderita HIV tidak putus asa, Tri selalu memberikan pendampingan psikologis. Ia juga mendatangkan pembicara dari kalangan penderita HIV untuk berbagi pengalaman.

“Kita ada pendampingan psikologis. Teman-teman yang terkena HIV kita ajak untuk memberikan testimoni, hasilnya sangat efektif,” tegasnya.

Sampai sejauh, para PSK Sarkem sedikit banyak telah memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan mereka. Di antaranya rutin memeriksakan kesehatan dan menjalankan kesepakatan dengan mengenakan kondom.

Ketika memberikan pelayanan kesehatan di Sarkem, Tri juga tak luput dari peristiwa lucu. Tak jarang pula ia digoda PSK yang mangkal di Sarkem dan ditarik-tarik untuk diajak masuk.

“Pernah diajak duduk diapit, saya diam saja. Biasanya yang seperti itu penghuni baru. Setelah yang lama-lama berteriak, eh itu pak dokter lho, baru mereka tahu,” ujarnya, sambil tertawa.

Tenru saja Tri juga mendapat peringatan dari istrinya agar bisa menjaga diri dan bekerja profesional.  “Kalau yang menggoda-goda itu pasti yang baru, yang belum tahu. Kuncinya, ya tetap menjaga jarak dan selalu ingat yang di rumah,” tandasnya.(riz/laz/ong/JPG/ara/JPNN)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Alhamdullilah, Nenek Sebatang Kara di Hutan Ponorogo itu Sudah Dibantu


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler