Ambulans Pembawa Jenazah Dihadang Warga

Kamis, 11 September 2014 – 09:27 WIB

jpnn.com - TANJUNG MORAWA –  Pasien dugaan terkena virus Ebola, NN (57) menghembuskan nafas terakhir Selasa ( 9/9) sekira pukul 19.30 Wib , di RSUP Adam Malik Medan.

Setelah dimandikan dan dikafani jenazah NN dibawa ke rumah duka menggunakan mobil ambulans.

BACA JUGA: 10 Jam, Dua Kebakaran Terjadi di Sungai Kujang

Namun saat tiba di Simpang Sinalko, Kecamatan Tanjung Morawa saat menuju kediaman NN, tiba-tiba warga sekitar menghadang mobil ambulans yang membawa jenasah NN. Warga sekitar takut kalau penyekit yang diderita NN menular ke warga sekitar tempat tinggal NN.

Perdebatan pun sempat terjadi antara keluarga almarhum NN dengan  warga sekitar yang melakukan penghadangan. Namun warga sekitar tetap bersikeras tidak mengizinkan jenazah NN dibawa ke rumah duka.

BACA JUGA: Dituntut 18 Bulan Penjara, Penyeleweng Dana Hibah Nangis

Keluarga pun membawa jenasah NN ke Musala Ubuddiyah yang berada di Gang Wakaf, Dusun III, Desa Tanjung Morawa B, Kecamatan Tanjung Morawa untuk disalatkan.

Setelah disalatkan oleh keluarga dekat alamarhum, jenasah NN pun dimakamkan di tanah wakaf milik keluarga NN yang ada di sekitar musala sekira pukul 02.00 Wib.

BACA JUGA: Polda Bentuk Tim Buru Pencuri Rp 5,3 M ke Papua

Dona Nasution ( 51), adik almarhum NN mengaku sedih  dengan sikap warga sekitar yang melarang jenazah abangnya dibawa ke rumah duka disebabkan warga takut penyakit yang diderita NN menular ke warga sekitar. Akibatnya, jenazah NN pun tidak bisa disemayamkan di rumah duka.

“Aku sedih melihat warga sekitar yang melarang jenazah abangku dibawa ke rumah akibat mereka takut penyakit yang diderita almarhum menular ke mereka, kami tidak dihargai warga sekitar dan diperlakukan seperti binatang saja,” ungkap Dona.

Sakti Harahap ( 52), keluarga almarhum juga kecewa dengan tindakan warga sekitar yang melarang jenasah NN dibawa ke rumah duka sehingga tidak bisa disemayamkan di rumah duka.

Selain itu mereka pun kecewa dengan Kepada Desa Tanjung Morawa B, Kecamatan tanjung Morawa, H A Fauzi yang mengatakan kalau warga sekitar tidak menerima jenazah NN dibawa ke rumah duka.

Seharusnya kepala desa bisa menjelaskan apa yang sebenarnya penyebab kematian almarhum NN dan menenangkan warga sehingga jenazah NN bisa dibawa ke rumah duka.

”Seharusnya kepala desa bisa menjelaskan apa penyebab kematian almarhum dan menenangkan warga sehingga jenazah almarhun bisa dibawa ke rumah duka,” ungkapnya.

Dirinya pun mengungkapkan tidak seharusnya warga  menghadang mobil ambulans yang membawa jenazah NN.

”Seperti teroris saja almarhum itu, sedangkan teroris saja masih bisa dibawa jenazahnya ke rumah duka. Bagaimana kalau ini terjadi kepada keluarga mereka apa mereka terima diperlakukan seperti ini,” ungkapnya.  

Sakti mengaku, keluarga membantah jika almarhum meninggal akibat terkena virus Ebola seperti yang diberitakan di media.

”Tak seharusnya media memberitakan almarhum meninggal akibat terkena virus Ebola sehingga warga yang cepat tanggap ketakutan dan melarang jenazah almarhum dibawa ke rumah duka. Almarhum meninggal akibat menderita malaria berat bukan akibat terkena virus Ebola,” ungkapnya.  

Sakti pun menjelaskan kalau sampel darah almarhum sudah dibawa ke Jakarta untuk dilakukan pengecekan dan hasilnya belum keluar.  

Kepala Dusun II Desa Tanjung Morawa B, Kecamatan Tanjung Morawa, Heri Sembiring membenarkan kalau ada penghadangan mobil ambulans yang membawa jenasah NN saat menuju ke rumah duka. Sementara itu terkait langsung dimakamkannya jenazah almarhum pada malam itu juga merupakan hasil musyawarah.

Kepala Desa Tanjung Morawa B Kecamatan Tanjung Morawa, H A Fauzi membantah kalau ada penghadangan mobil ambulans yang membawa jenasah almarhum NN oleh warga. Dirinya pun mengungkapkan tidak tahu persis apa yang terjadi saat pemakaman.

Seperti berita sebelumnya, NN merupakan seorang supervisor perusahaan mie instan Indonesia di Nigeria. Sudah empat tahun NN betugas di sana. Berdasarkan data yang diperoleh pihak rumah sakit, NN pulang dari Nigeria dan tiba di Indonesia pada 27 Agustus 2014, kemudian mengalami demam dan hilang kesadaran.

NN mulai dirawat di RSUP H Adam Malik Minggu (7/9) setelah dirujuk dari RSUD Deli Serdang di Lubuk Pakam. Dia mengalami demam dan penurunan kesadaran. Setelah diperiksa ada tanda-tanda malaria berat dengan gangguan fungsi otak, atau mengalami malaria serebral atau malaria otak.

Tim dokter  Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan, dr Yosia Ginting SpPD KPTI Finasim, menuturkan awalnya keadaan pasien sudah stabil. Namun karena malaria berat terjadi penurunan tekanan darah, dan sudah terjadi Koagulasi Intrafaskuler Desiminasi (KID) di mana tingkat kematian di atas 90 persen.

"Saat ini tim dokter sedang menunggu hasil pemeriksaan darah dari Balitbang Kesehatan di Jakarta, untuk mencari tahu apakah pasien positif atau negatif Ebola. Tapi yang pasti pasien meninggal karena penyakit malaria berat, dengan bukti adanya kuman plasmodium flasifarum dalam darah pasien. Walaupun kita sudah berikan obat maksimal dan terbaik untuk penyakit malaria sesuai dari Kementrian Kesehatan, namun Tuhan berkehendak lain," katanya, Rabu (10/9).

Lanjutnya, apabila hasil sampel NN positif Ebola, maka keluarga akan diperiksa kesehatannya. Terutama pada keluarga yang demam selama tiga hari akan diperiksa darahnya. Ketika keluarga tidak mengalami demam maka tidak dapat diperiksa darah karena hasilnya tidak dapat diketahui.

"Ebola tidak bisa menular lewat udara. Sehingga, penularan penyakit hanya bisa terjadi lewat cairan tubuh pasien. Oleh karena itu, masyarakat harus rajin mencuci tangan agar tidak terkena penyakit itu," ujarnya.

Saat ini, pihaknya sedang menunggu  hasil dari Balitbang di Jakarta. Namun, ia juga berharap hasilnya tidak positif Ebola karena hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan medis di RSUP H Adam Malik, pasien positif malaria berat. (cr-1-/nit/gir)

BACA ARTIKEL LAINNYA... BPKTKI Selapajang Akan Dibubarkan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler