Amputasi Cara Satu-satunya, Raih Beasiswa dari Australia

Selasa, 12 Desember 2017 – 00:30 WIB
Syamsul Bahri. Foto: Padang Ekspres/JPNN.com

jpnn.com - Ketua National Paralympic Committee Indonesia Sumbar (induk olah raga disabilitas) Syamsul Bahri meyakini bahwa setiap cobaan yang ditanggapi secara positif, akan menjadi motivasi besar dalam menggapai kesuksesan.

Rudi Efendi - Padang

BACA JUGA: Fasilitas Bagi Penyandang Disabilitas Bakal Dikembangkan

Pada 7 November 2004, menjadi hari yang sulit dilupakan Syamsul Bahri. Sehari pasca ulang tahunnya yang ke 26, pria yang saat ini berusia 39 tahun itu harus berhadapan dengan kenyataan pahit.

Kecelakaan parah menimpanya di Simpang Presiden Jalan Khatib Sulaiman, Padang, Sumbar. Syamsul Bahri koma hampir 18 jam.

BACA JUGA: Pilkada 2018 Dipastikan Ramah Bagi Disabilitas

”Waktu itu, saya berboncengan dengan teman naik sepeda motor. Tiba-tiba saja, ada seorang anak racing yang berkendara dengan kecepatan tinggi. Karena kami tidak menduga si pengendara motor itu akan melewati jalur kami, akhirnya terjadilah kecelakaan yang membuat saya koma waktu,” ujarnya kepada Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Minggu (10/12).

Setelah sadar, ia pun harus mendengar keputusan pahit. Yakni mengharuskan kaki kirinya diamputasi. Mendengar hal tersebut, lantas dia sendiri maupun keluarganya langsung shock.

BACA JUGA: KPAI Prihatin Rendahnya Perlindungan pada Anak Disabilitas

”Jujur saja, memang berat menerima kenyataan yang mengharuskan kaki kiri saya diamputasi. Apalagi waktu itu, merupakan masa-masa keemasan saya sebagai atlet pencak silat serta kesibukan saya di Sanggar Tari dan Musik Syofyani,” kenangnya.

Bahkan, berkat kemampuannya yang multitalenta, ia banyak diundang ke berbagai negara seperti Jepang dan Australia dalam rangka mempromosikan tradisi silat dan randai.

Namun, namanya musibah, tidak ada yang tahu kapan akan datang. Mau tidak mau, ia mesti menghapi kenyataan pahit, kaki kiri diamputasi.

”Sebenarnya orangtua saya tidak membolehkan kaki saya ini diamputasi. Sehingga setelah sadar, saya dibawa ke pengobatan-pengobatan tradisional di daerah Bukittinggi dan Payakumbuh,” kata pria kelahiran Bukittinggi, 8 November 1978 itu.

Dari sekian kali menjalani pengobatan tradisional, keadaan kakinya justru semakin tambah parah.

Bahkan sudah mulai membusuk. Sehingga, pihak keluarga memutuskan untuk membawanya kembali ke rumah sakit Achmad Muchtar, Bukittinggi.

”Selama beberapa hari di sana, keadaan saya juga tidak mengalami perubahan. Bahkan, tubuh saya semakin kurus. Sesaat setelah itu juga, dokter memvonis umur saya tinggal seminggu,” katanya.

Mendengar kabar itu, keluarga larut dalam tangisan. Kecuali adik perempuannya yang masih tegar dan optimis Syamsul bisa sembuh.

”Saya kemudian memutuskan ke luar rumah sakit dan kembali ke Kota Padang. Dengan penuh ikhlas dan lapang dada, saya sampai di rumah di Padang, dirawat dengan penuh kesabaran oleh adik perempuan saya,” kata Syamsul yang beralamat di Kompleks Martha Indah Blok E11 RT.001/RW.001 Kelurahan Aiapacah, Kecamatan Koto Tangah.

Ketika dirawat di rumah, kondisi perlahan-perlahan semakin membaik. Berbagai macam obat herbal diminumnya setiap hari.

Setelah sebulan dirawat di rumah, ia pun akhirnya sadar bahwasanya amputasi merupakan satu-satunya cara agar masih bisa bertahan hidup.

”Sempat ditentang oleh orangtua waktu itu. Setelah diberikan pemahaman, akhirnya mereka pun mengizinkan saya untuk menjalani amputasi kaki kiri saya di RSUP M. Djamil Padang,” kenangnya.

Selama 6 bulan menjalani masa pemulihan setelah operasi amputasi, sebagai penyandang disabilitas baru, Syamsul Bahri meyakinkan dirinya bahwa sisa tubuh yang ada harus bisa dimanfaatkan untuk kebangkitan kehidupannya ke depan. Spirit itu membuatnya optimis bahwa ia harus melalui semua ini.

Di masa-masa itu, ternyata Tuhan telah menyiapkan skenario yang lain untuknya. Setelah menjalani pemulihan, berbagai bayangan kelam dalam fikiran Syamsul Bahri sebelumnya, ternyata tidak terjadi. Semuanya berganti dengan banyak keberkahan.

Salah satunya, ia tetap diterima bekerja di Koperasi Keluarga Besar Semen Padang (KKSP). Bahkan, berkat prestasi dan multitalenta yang dimilikinya, ia malah dipromosikan dari pekerjaan sebelumnya sebagai OB di Packing Plant Teluk Bayur ke bagian administrasi di Kantor Pusat KKSP.

Ia kemudian menjalani aktivitas sebagai orang kantoran di KKSP dengan memakai kaki palsu setelah mendapatkan bantuan kaki palsu dari PT Semen Padang.

Berkah untuk Syamsul tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 2001, ia berkesempatan menjadi duta wisata tradisi ke Jepang.

Dan pada 2015, ia mendapat beasiswa dari Australia Award Fellowship, untuk mengikuti pendidikan singkat pemberdayaan perempuan dan penyandang disabilitas dalam pengembangan studi kewirausahaan di Sydney University Australia.

Kemudian, 14 Januari hingga 31 Januari 2016, ia kembali mendapatkan beasiswa di Austalia Award Indonesia, untuk mengikuti kursus singkat “Organizational Leadership and Management Practices for Disabled People’s Organizations Short Term Awards”.

”Saya juga tidak menduga sebelumnya. Semangat dan motivasi tinggi yang saya bangun, mendapat keberkahan dari Allah SWT,” akunya.

Menurutnya keberhasilan dalam meraih beasiswa itu diawali dari keterlibatannya di National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Sumatera Barat sebagai Ketua Umum. NPCI merupakan organisasi induk olahraga disabilitas.

Disamping itu, ia juga terlibat aktif di Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia Padang.

”Sebetulnya penyebab utama saya bisa bangkit adalah motivasi dan semangat yang diberikan oleh keluarga saya. Terutama sekali motivasi dari kedua orangtua saya,” ungkapnya.

Sejak 2011, Syamsul Bahri sangat aktif dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.

Sebagai wakil sekretaris Persatuan Penyandang Disabilitas Kota Padang, tugas pokoknya adalah sebagai ketua olahraga disabilitas Sumbar.

”Melalui organisasi ini, saya bertekad untuk memperjuangkan lahirnya Perda Perlindungan Penyandang Disabilitas di Kota Padang. Di samping itu, saya ingin seluruh potensi yang dimiliki penyandang disabilitas untuk dimaksimalkan. Terutama sekali potensi di bidang olahraga,” jelasnya.

Syamsul Bahri juga selalu berusaha untuk memberikan perhatian dan memantau hal-hal berkaitan dengan pengembangan penyandang disabilitas dari berbagai aspek.

Salah satunya, dengan membuat program advokasi yang berkaitan dengan pembangunan dan pemberdayaan terhadap penyandang disabilitas. Termasuk juga mengawal fasilitas publik yang ada di kota ini.

”Kalau dari segi fasilitas publik yang ramah terhadap kami memang sudah lebih baik. Namun, dari segi perhatian pemerintah terhadap organisasi kami masih kurang. Bahkan, kami sering dimanfaatkan oleh oknum birokrat tertentu demi sebuah politik anggaran dalam even-even tertentu,” jelasnya.

Ia menambahkan, implementasi UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas masih sangat lemah.

Sehingga mereka tidak hanya dimanfaatkan demi kepentingan tertentu, perlakuan diskriminatif terhadap difabel juga masih terjadi.

”Jumlah penyandang disabilitas di Kota Padang ini mencapai seribu orang. Namun, yang kehidupannya benar-benar baik, sangat sedikit dari jumlah tersebut,” jelasnya.

Kepada masyarakat Syamsul berharap untuk memberikan ruang dan kesempatan bagi difabel untuk berkarya dengan menghargai mereka, karena semua manusia sama di hadapan Tuhan.

”Jangan sekali kali mendiskriminasi mereka yang memiliki kekurangan. Karena di balik kekurangan kami tersimpan kelebihan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya,” pesannya.

Dalam posisinya sebagai penyandang disabilitas dan Ketua NPCI Sumbar, Syamsul Bahri memiliki obsesi untuk membahagiakan orang lain melalui jalur prestasi dan pembinaan olahraga.

Karena menurutnya, olahraga telah mendapatkan perhatian besar dari pemerintah dengan adanya kesamaan hak dalam menerima penghargaaan.

Bersama NPCI, Syamsul Bahri telah banyak menukilkan prestasi bagi para atlet NPC asal Sumbar. Prestasi terbaru, tiga atlet tuna grahita Sumbar berhasil menyabet satu medali emas dan dua perunggu pada ajang Kejuaraan National Paralympic Committee (NPC) 2017 yang digelar 25-30 November, di Kota Bandung, Jawa Barat.

Ketiga atlet binaannya itu yakni Metri, Ayu Andira dan Meliana Ratih Pratama. Untuk medali emas, diraih oleh Metri yang turun pada cabang olahraga (cabor) tenis meja.

Sedangkan dua medali perunggu yang diraih melalui cabor renang, masing-masing disabet oleh Ayu Andira dan Meliana Ratih Pratama.

”Ke depannya, kami bertekad setiap cabang olahraga untuk disabilitas ini seperti renang, judo, atletik, tenis meja, catur atau boccia untuk dibentuk klubnya. Jika masing-masing induk olahraga memiliki klub, maka potensi yang telah dimiliki bisa ditingkatkan melebihi saat ini. Karena lebih terfokus,” ungkapnya dalam suasana Hari Disabilitas yang diperingati tiap 3 Desember ini.(*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Penyandang Disabilitas Kecewa Karena Sulit Akses Dana PEM


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler