Anak Usaha PLN Incar Rp 10 Triliun di Pasar Modal

Senin, 13 Maret 2017 – 08:38 WIB
Ilustrasi IHSG. Foto: JPNN

jpnn.com, JAKARTA - jpnn.com - PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan PT Indonesia Power dikabarkan bakal melakukan sekuritisasi aset tahun ini.

Keduanya disebut-sebut menargetkan dana hingga Rp 12 triliun.

BACA JUGA: KSEI Genjot Jumlah Investor Lokal Dengan AKSes

JSMR menargetkan dana Rp 2 triliun. Sedangkan Indonesia Power membidik Rp 10 triliun.

Sekuritisasi aset umumnya dilakukan dengan melepas aset produktif dan dananya digunakan untuk menggarap proyek baru atau membiayai ekspansi.

BACA JUGA: Menanti Keberanian Klub Sepak Bola Melantai di Bursa

Aksi korporasi dua perusahaan milik negara tersebut dilakukan pada kuartal II mendatang.

”Salah satu pembangkit kita monetisasi. Itu PT Indonesia Power, anaknya PLN. Saya undang agen karena yang dicari besar, Rp 10 triliun,” kata Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro di Bali akhir pekan kemarin.

BACA JUGA: Tagihan Listrik Rp 2 Miliar, Kaget!

Selain itu, kata dia, sembilan anak usaha dipastikan melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada tahun ini.

Delapan anak usaha BUMN lagi yang akan melakukan IPO tahun depan.

”Kalau perencanaannya itu sudah lama. Kami buat rencana IPO secara bertahap,” lanjut Aloy.

Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, sembilan anak usaha BUMN yang akan melakukan IPO adalah PT Tugu Pratama Indonesia yang merupakan anak usaha PT Pertamina.

Selain itu, ada tiga anak usaha PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), yakni PT PP Peralatan, PT PP Urban, dan PT PP Energi.

PT Wika Realty dan PT Wika Gedung yang merupakan anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dikabarkan juga akan melaksanakan IPO.

Demikian pula dengan anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), yaitu PT Garuda Maintenance Facility, anak usaha PT Pelindo II, yaitu PT Jasa Armada Indonesia, serta PT Indonesia Power juga disebut-sebut sedang menyiapkan diri untuk menjadi perusahaan terbuka.

Dana yang diincar pemerintah dari aksi IPO tersebut Rp 20 triliun.

Jumlah saham yang akan ditawarkan ke publik 20–25 persen.

Aloy menyatakan, perencanaan IPO dilakukan tidak hanya bertahap secara tahunan, tetapi juga kuartalan.

”Ada yang kuartal I, II, III, IV, sudah kami atur. Ini bukan swastanisasi BUMN lho ya, kita jangan berpikir seperti itu. Ini untuk alternatif pendanaan,” ucapnya.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio menyambut baik rencana pemerintah mencari alternatif pendanaan di pasar modal, baik dalam bentuk sekuritisasi aset maupun IPO.

Hal itu bisa mendukung pembangunan infrastruktur yang tidak bisa mengandalkan APBN saja.

”Sudah waktunya mencari dana dari pasar modal. Kalau ada proyek dari BUMN, saya yakin responsnya bagus. Mungkin akan oversubscribed (kelebihan permintaan),” ujarnya.

Direktur Pengembangan BEI Hosea Nicky Hogan masih enggan membeberkan perusahaan mana yang bakal melantai di bursa terlebih dahulu.

 ”Sudah ada dalam pipeline kami. (mana yang lebih dulu) itu, kan, kamu (wartawan) lebih tahu daripada saya,” kelitnya. (rin/c21/noe)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Parah! 290 Desa Belum Teraliri Listrik PLN


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler