Analis dari LSI Denny JA Anggap Gemoy Jadi Jurus Jitu Komunikasi Profetik ala Prabowo

Minggu, 26 November 2023 – 15:20 WIB
Gaya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat menghadiri acara purnawirawan Kopassus seluruh Indonesia di Jakarta. Foto: arsip JPNN.com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Akhir-akhir ini kata ‘gemoy’ seolah-olah sudah melekat dengan sosok Prabowo Subianto yang juga capres Pilpres 2024.

Gemoy merupakan istilah kekinian untuk menggantikan kata ‘gemas’ pada objek yang menggemaskan.

BACA JUGA: Terinspirasi dari Prabowo, Dedi Mulyadi Menggelar Lomba Joget Gemoy

Belakangan ini ‘joget gemoy’ pun menjadi tren di masyarakat, bahkan ada lombanya. Mantan bupati Purwakarta yang politikus Partai Gerindra Dedi Mulyadi sampai menggelar lomba ‘joget gemoy’ demi memopulerkan Prabowo sebagai capres dari Koalisi Indonesia Maju (KIM).

Analis politik Toto Izul Fatah dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menilai Prabowo saat ini menerapkan bentuk komunikasi profetik. Artinya, pola komunikasinya berbasis pada spirit nilai-nilai kenabian.

BACA JUGA: Megawati Tersenyum Lihat Prabowo Berjoget Penuh Semangat

Menurut Toto, saat ini Prabowo muncul sebagai sosok yang merangkul semua kalangan. Ketua umum Partai Gerindra itu juga menunjukkan diri sebagai figur yang tidak pendendam, termasuk kepada pihak yang mengkhianatinya.

"Prabowo tampak lebih tulus berjuang. Dia tidak pernah menyerang,” kata Toto, Minggu (26/11/2023).

BACA JUGA: Prabowo Gemoy, Apa sih Artinya? Oh, Ternyata

Direktur eksekutif Citra Komunikasi LSI itu menambahkan Prabowo juga tidak bereaksi saat diserang. Toto menyebut capres yang berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka itu juga tidak menggubris berbagai fitnah yang menyasarnya.

“Saat diserang, dia (Prabowo, red) lebih memilih diam ketimbang melayani serangan, termasuk fitnah," imbuh Toto. "Dari sisi ini, saya melihat Prabowo itu sebenarnya sedang mengamalkan jurus komunikasi profetik.”

Lebih lanjut Toto menganggap ‘joget gemoy’ juga memunculkan pesan bahwa Prabowo tidak memdulikan berbagai serangan negatif, baik hinaan, cacian, maupun fitnah.

"Ini, kan, jelas pesan moral para nabi kepada umatnya agar kita selalu sabar, kuat, dan tahan menghadapi berbagai bentuk serangan seperti tadi, termasuk dalam konteks pertarungan politik," ulasan Toto.

Selain itu, Toto menyebut penggunaan ‘joget gemoy’ juga menunjukkan kecerdasan Prabowo dalam menanggapi serangan. Buktinya, tagar ‘gemoy’ berkali-kali menjadi trending di media sosial sehingga melambungkan popularitas Prabowo.

Istilah ‘gemoy’ yang banyak dipakai kalangan anam muda pun membuat Prabowo memiliki tempat di pemilih milenial maupun generasi (gen) Z.

“Efek positifnya sangat potensial punya tempat di segmen anak muda, khususnya anak muda berkategori gen Z yang jumlahnya makin besar,” kata Toto.

Peneliti senior di LSI Denny JA itu juga merujuk pada hasil survei lembaganya. Menurut Toto, saat ini publik memiliki pandangan yang berbeda tentang Prabowo dibandingkan pada Pilpres 2019.

Saat ini Prabowo dianggap sebagai sosok yang lebih suka bercanda, humanis, tidak emosional, dan tidak gampang terpancing.

"Seperti yang terpotret di survei LSI Denny JA, secara karakter personal, Prabowo hari ini dipersepsi sebagai figur strong leader," kata Toto.(jpnn.com)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sudah Jalankan Perintah Nabi, Prabowo Belum Memenuhi Tawaran Jadi Khatib Salat Jumat


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler