Dalam beberapa tahun terakhir, manajer pabrik sepatu Emu Australia Steve Maul kesulitan menemukan pekerja pembuat sepatu yang berpengalaman.

Akhirnya dia mendapatkan seorang migran asal Suriah Anas Jawish yang mempunyai pengalaman dan ketrampilan yang diinginkannya.

BACA JUGA: Kunjungan PM Baru Australia ke Indonesia Dinilai Sukses

Pabrik sepatu Emu Australia ini berlokasi di Geelong, sekitar 60 km dari Melbourne, setiap hari memproduksi sekitar 350 pasang sepatu dari kulit domba.

Perusahaan tersebut memiliki 22 orang pekerja dan sebagian besar produksi sepatu mereka dijual di dalam negeri.

BACA JUGA: Chelsea Maning Jadi Pembicara Via Tautan Video

Namun manajer di perusahan tersebut Steve Maul mengalami kesulitan dalam beberapa tahun terakhir menemukan pekerja muda yang trampil dan mau bekerja di sana.

Bidang pembuatan sepatu tampaknya memang bukan bidang yang diminati oleh banyak anak muda di Australia.

BACA JUGA: Mantan Sipir Sembunyikan Senjata Api Dan Ribuan Amunisi Di Rumahnya

"Ini industri yang sekarat sebenarnya, sehingga tidak ada lagi orang muda yang mau bekerja." kata Maul.

"Saya kira tidak ada anak-anak yang mau bekerja di bidang seperti ini, dan mereka suka berpindah-pindah pekerjaan, sementara di masa lalu, kalau sudah punya kerjaan, kita akan terus di sana.'

"Sekarang anak-anak muda mungkin akan bekerja selama enam bulan atau setahun, dan setelah itu mereka akan mencari pekerjaan lain." Photo: Sepatu boot yang belum selesai di pabrik Emu Australia di Geelong. (ABC News: Nicole Mills)

Namun semua itu berubah ketika migran asal Suriah Anas Jawish mendatangi pabrik Emu Australia tersebut.

Setelah tiba di Australia dua tahun sebelumnya, Anas mengalami kesulitan mendapat pekerjaan.

Adanya lowongan pekerjaan untuk pembuat sepatu memberikannya secercah harapan.

Dengan 20 tahun pengalaman membuat sepatu di Suriah dan kemudian lima tahun lagi tinggal di Turki, Anas tahu bahwa inilah adalah kesempatan terbaiknya untuk bekerja di industri yang dikenalnya dengan baik.

"Saya pindah ke Australia di tahun 2016." katanya.

"Pertama-tama saya belajar bahasa Inggris, dan kemudian menyelesaikan kursus di lembaga kejuruan TAFE Gordon, dan kemudian saya kerja di Emu Australia."

Dengan bantuan agen pencari kerja MatchWorkds, Anas kemudian mengirimkan lamaran ke Emu, namun Maul mengakui pada awalnya dia tidak membaca lamaran Anas.

Banyak pekerjanya suda memiliki pengalaman dari masa lalu ketika Geelong dikenal sebagai pusat manufaktur di Victoria, yang menjadi lokasi bagi perusahaan pembuat mobil Ford dan juga perusahaan pembuat sepatu Grosby.

Dan baru sesudah Anas muncul di kantor pabrik tersebut, Maul memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada migran asal Suriah tersebut untuk bekerja.

"Dia tiba-tiba datang begitu saja." kata Maul.

"Dia pernah mengirim lamaran, namun tidak saya terima dan dia datang menemui saya secara pribadi, jadi dia memberi sedikit tekanan."

"Saya awalnya memang enggan, namun saya kira 'mengapa tidak mencoba saja, dia perlu kerjaan, dan dia mau kerja." Dan dia ternyata bagus sekali." Photo: Anas Jawish (kanan) bersama manajer Emu Australia Steve Maul. (ABC News: Nicole Mills)

Anas Jawish sudah bekerja di sana sekarang selama 10 bulan terakhir, bekerja dengan mesin yang memotong kulit domba untuk sepatu boot.

Dia mengatakan dulu membuat sepatu dilakukannya dengan tangan, di Suriah kebaanyakan sepatu dibuat di pengrajin kecil tanpa bantuan mesin sama sekali.

Dari awalnya, pengetahuan bahasa Inggris Anas sudah bagus, namun dia pada awalnya jarang berbicara.

Namun setelah hampir setahun bekerja di sana Maul mengatakan bahasa Inggris Anas sekarang sudah meningkat luar biasa.

"Ini tidak menjadi masalah sama sekali." kata Maul.

"Dia betul-betul bagus. Dia menyesuaikan diri dengan baik dengan rekan-rekan yang lain. Mudah-mudahan dia akan terus bekerja di sini." Photo: Sepatu boot dari bulu domba ini harus dimasukkan ke dalam mesin yang panas agar merekat menjadi satu. (ABC News: Nicole Mills)

Anas Jawish juga senang bahwa dia akhirnya menemukan pekerjaan, khususnya di industri yang dipandang sebagai industri yang sekarat di Australia.

Menurut data sensus, jumlah pembuat sepatu di Australia turun dari 1307 di tahun 2006 menjadi 903 di tahun 2016.

"Saya sangat senang karena ketika kita harus belajar dan tinggal di rumah, semuanya membosankan." kata Anas.

"Ketika kita senang melakukan pekerjaan kita, maka itu bagus. Saya senang bisa bekerja."

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

BACA ARTIKEL LAINNYA... PM Scott Morrison Benarkan Tindakan Peter Dutton Dalam Kasus Pengasuh Asing

Berita Terkait