Ancaman Resesi Global, Bikin Harga Minyak Dunia Ambyar, Morat-marit

Kamis, 08 September 2022 – 08:37 WIB
Harga minyak dunia turun tajam pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) karena kekhawatiran resesi ekonomi global. Ilustrasi Foto: Reuters

jpnn.com, JAKARTA - Harga minyak dunia turun tajam pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB).

Komoditas energi itu merosot di bawah level yang terlihat sebelum invasi Rusia ke Ukraina karena data perdagangan China yang suram.

BACA JUGA: Harga Minyak Dunia Turun, tetapi BBM Naik, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Kekhawatiran resesi ekonomi global pun dinilai akan merugikan permintaan bahan bakar.

Minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober anjlok USD 4,94 atau 5,7 persen, menjadi menetap di USD 81,94 per barel di New York Mercantile Exchange.

BACA JUGA: Minyak Dunia Turun, Tolong Harga BBM Subsidi Jangan Dipaksa Naik

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November tergelincir USD 4,83 atau 5,2 persen, menjadi ditutup di USD 88 per barel di London ICE Futures Exchange.

Baik kontrak acuan minyak mentah WTI AS maupun minyak mentah global Brent menetap di level terendah sejak Januari, menurut Dow Jones Market Data.

BACA JUGA: Harga Minyak Dunia Turun Terus, BBM Bersubsidi Tak Perlu Naik

Kemunduran terjadi karena pedagang makin takut bahwa pengetatan kebijakan agresif oleh bank-bank sentral utama untuk mengekang inflasi yang memanas akan menyebabkan resesi global sehingga mengurangi permintaan energi.

"Saat ini pasar mendasarkan kekhawatirannya tentang apa yang akan terjadi karena harga energi yang meningkat tajam di Eropa, permintaan yang melambat di Eropa, dan kenaikan suku bunga," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group.

Bank Sentral Eropa (ECB) secara luas diperkirakan akan menyetujui kenaikan suku bunga besar ketika bertemu pada Kamis waktu setempat. Sementara itu, data ekonomi AS baru-baru ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan tetap hawkish.

Bank Sentral Kanada (BOC) menaikkan suku bunga sebesar tiga perempat poin persentase ke level tertinggi 14 tahun pada Rabu (7/9), seperti yang diperkirakan dan mengatakan tingkat kebijakan perlu naik lebih tinggi karena memerangi inflasi yang mengamuk.

Data ekonomi China yang lemah dan kebijakan nol-COVID yang ketat menambah kekhawatiran permintaan. Impor minyak mentah negara tersebut jatuh 9,4 persen pada Agustus dari tahun sebelumnya, data bea cukai menunjukkan.

Namun, harga minyak mentah mendapat beberapa dukungan dari Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan menghentikan ekspor minyak dan gas negara itu jika batasan harga diberlakukan oleh negara-negara Barat. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler