Anggota DPR dari Demokrat Diburu Hingga ke Sultra

Jumat, 30 Desember 2011 – 17:48 WIB

KENDARI - Para pengusaha asal Sulawesi Tengah (Sulteng) yang mengaku telah menyetor sejumlah uang kepada Andi Rahmat, anggota DPR dari Partai Demokrat daerah pemilihan Sultra guna memuluskan usulan proyek di Badan Anggaran tak lelah berusaha agar uangnya dikembalikanKontraktor ini terus memburu AR dan meminta pertanggungjawaban atas masalah yang mereka hadapi

BACA JUGA: Anggaran Tidak Jelas, Honorer Di-PHK

AR yang saat ini ada di Sultra, mereka kejar, meskipun hasilnya juga nihil


"Kami terus berharap ada itikad baik dari AR untuk mengembalikan uang kami," kata Idrus, salah seorang pengusaha asal Sulteng, yang sudah dua hari terakhir berada di Kendari mencari AR

BACA JUGA: Gubernur Siapkan Dua Instruksi ke Bupati Kobar

Ia salah seorang pengusaha yang ikut mengumpulkan duit 2010 lalu dengan berharap bisa ikut mengerjakan proyek sektor kesehatan di RSUP Undata, Sulteng


Kepada Kendari Pos (JPNN Group), Idrus menyerahkan testimoni tertulis Sulfakar Nasir, Ketua Asosiasi Pengusaha Konstruksi Indonesia (Aspekindo) Sulteng

BACA JUGA: Teras: Massa Tetap Tolak Pelantikan

Rupanya, Sulfakar Nasir inilah yang mengusahakan pengumpulan duait dari para pengusaha di Sulteng untuk diserahkan kepada Andi Rahmat agar usulan proyek mereka bersumber APBN bisa diloloskanSulfakar lewat sambungan telepon mengakui bahwa testimoni tertulis itu berasal darinya dan diminta untuk dipublikasikan

Sulfakar bercerita mafia anggaran yang melibatkan AR ini berawal ketika pertengangahan 2010Kala itu, Sulfakar bersama Direktur RSUP Sulteng, dr Rudi bertemu Andi Rahmat di Jakarta, tepatnya di Hotel Arya Duta, Tugu TaniDalam pertemuan itu disepakati AR akan membantu alokasi dana RSUP Undata Rp 40 miliar di APBN Perubahan 2010Turut hadir dalam pertemuan itu dua orang pengusaha Lahmuddin dan Darwis

Pertemuan kedua digelar di Hotels Sultan, dimana saat itu disepakati komitmen fee senilai Rp 1,7 miliar" proses selanjutnya, penyerahan dana kami melalui saudara Kawir yang ditunjuka AR," kata Sulfakar.

Namun, alokasi anggaran APBN Perubahan 2010 untuk RSUP tersebut tidak muncul sehingga Sulfakar meinta dana tersebut dikembalikanHasilnya Ro 500 juta dikembalikan oleh AR melalui KawirMasih kata dia, sisa 1,2 milyar lainnya dijanjikan oleh AR pada APBNP 2011, dimana terjadi perubahan alokasi ke sektor jalan untuk pembangunan akses transmigrasiUsulannya Rp 45 milyar dengan rincian sektor jalan 35 milyar sedangkan Rp 10 milyar untuk irigasi"Dalam kesempatan itu, kami menambah lagi dana Rp 1 milyar sehingga total semuanya menjadi Rp 2,7 milyar," paparnya

Dana Rp 1 milyar ini diserahkan di Kramat Raya di sebuah rumah makan Pada dalam dua tahapan yang dijemput oleh asisten pribadi AR bernama AsrunMenurut pengakuan Sulfakar ketika hal ini ia pertanyakan kepada AR, anggota DPR itu mengaku menyerahkan dana itu kepada WONLagi-lagi, di APBN P 2011, usulan proyek itu tidak masuk dalam list program pemerintah

Urusa kemduian bergesar karena AR memberikan akses untuk menemui WON, tapi alokasi itu gagal sebab terjadi guncangan terhadap pimpinan BanggarPadahal Sulteng berhak mendapatkan itu karena masuk kriteria utama akibat fiskal rendahTapi, janji yang diumbarkan bai ARR maupun WON tidak terwujudSulteng pada PABNP 2011 yang muncul hanya sektor kesehatana, sehingga pihaknya meunutu dana tersebut untuk dikembalikan

"Setelah gagal kami pun mmelakukan pertemuan ketiga dengan WON, di ruangannya di lantai 19Saat itu saya didampingi Ketua Himpi Sulteng, Fahruddin Yunus, di situ WON mengatakan tetap akan masuk pada revisi APBN P,: katanya

Lalu kata dia, pertemuan kembali dilangsung di ruangan AR yang juga dihadiri WON, agusutrus 2011 teoatnya di lantai 21Saat itulah WON maupun AR berjanji mengembalikan dana para pengusaha asal Sulteng pada akhir September dan awal bulan Oktober 2011Namun, hingga beberapa kali pertemuan kedua orang tersebut tidak memenuhi janjinya"Saya SMS atau telepon WON tidak diindahkan," kata Sulfakar

"Jadi saya sudah cape kejar-kejaran dengan ARSaya ke Jakarta, dia ke KendariSaya ke sini (Kendari) dia ke Kolaka, Saya susul dia ke sana malah ke Kolut (Kolaka Utara)Saya kasih deadline waktu hingga minggu pertama Januari 2012, kalau dana kami tidak dikembalikan saya akan lapor ke aparat penegak hukum disertai dengan seluruh bukti yang adaContohnya kuintansi maupun smsIni adalah sebuah penipuan pada kami semua," kata Idrus

Lalu kenapa ada La Ode Ida? Idrus lalu bercerita bahwa 23 November 2011 lalu, ia janjian dengan Andi Rahmat bersama seorang kawannya dari Kendari yang juga kenal dengan Andi Rahmat untuk bertemua di Plaza SenayanSaat menunggu itualh, mereka bertemu La Ode Ida yang kebetulan berada di kafe yang samaMereka sempat bercerita terkait masalah itu, apalagi kasusnya memang sudah masuk di Badan Kehormatan

Tak berapa lama, Andi Rahmat datang tapi berada di kafe lain di Plaza SenayanIdrus pun pamit untuk bertemu Andi RahmatSaat ia mengobrol dengan Andi Rahmat itulah, La Ode Ida yang hendak pulang melintasSebagai orang yang saling kenal, La ode Ida pun juga mampir dan menyalami Andi Rahmat dan menyempatkan ngobrol"Jadi tidak ada rekayasa, apalagi kita ajak-ajak wartawan," bantah Idrus

Masalah ini sebenarnya sudah berulang kali dibantah ARIa membantah pemberitaan mengenai adanya kontraktor yang meminta kembali uangnya karena dana percepatan pembangunan infrastruktur daerah bidang transmigrasi yang dijanjikannya batal, hanyalah sebuah kesalahpahaman

Menurut Kader Partai Demokrat ini, dirinya tidak pernah berhubungan dengan kontraktor, apalagi meminta uang untuk memuluskan proyek DPPIDTIa juga menegaskan bahwa tidak pernah membicarakan persoalan proyek ini dengan WON sebagai anggota Banggar"Jadi tidak ada sama sekali berurusan dengan WON, mereka sendiri yang mengaran dan merekayasa, seolah-olah saya (terlibat)," katanya(abi/awa/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sambut Tahun Baru, Siapkan 2 Ton Kembang Api


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler