Angka Kompetensi Guru Rendah, Salah Satu Penyebab Skor PISA Konsisten Jeblok

Minggu, 25 April 2021 – 10:16 WIB
Direktur Sekolah Menengah Atas, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud Purwadi mengakui kualitas siswa Indonesia masih rendah. Foto: tangkapan zoom

jpnn.com, JAKARTA - Peningkatan anggaran pendidikan di dalam APBN sebesar 20 persen kurang berefek pada kualitas siswa.

Direktur Sekolah Menengah Atas, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud, Purwadi mengakui kualitas siswa Indonesia masih rendah.

BACA JUGA: Guru Honorer Minta Keringanan Passing Grade PPPK, Bonus Poin Pemegang Akta IV

Dilihat dari skor PISA atau Programme for International Student Assessment sejak 2015 sampai 2020 yang menunjukkan tanda-tanda kurang menggembirakan.

"Indonesia konsisten sebagai negara dengan hasil PISA terendah," ungkap Purwadi dalam media gathering Zenius dan Forum Wartawan Pendidikan Kebudayaan (Fortadikbud) dengan tema Cerdas, Cerah, Asyik: Pola Pikir untuk Masa Depan yang Kompetitif, baru-baru ini. 

BACA JUGA: Gaji dan Tunjangan Guru di Indonesia Lampaui Finlandia, Kualitas Siswa?

Dia menyebutkan, skor PISA 2018 menunjukkan, 70 persen siswa berada di bawah kompetensi minimal, dilihat dari kemampuan literasi yang rendah.

Begitu juga dengan Matematika, sangat rendah, di mana 71 persen siswa berada di bawah kompetensi minimum. Sains, sebanyak 60 persen siswa di bawah kompetensi. 

BACA JUGA: Kabar Gembira untuk Warga di Sekitar Bandara Dhoho Kediri

Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas siswa ini menurut Purwadi adalah kondisi guru. Angka kompetensi guru masih rendah. 

"Kondisi guru sangat memengaruhi hasil proses pembelajaran yang akan dites dengan standar PISA maupun standar nasional kita," ujarnya.

Kemendikbud menargetkan di 2022 terjadi kenaikan. Sikap optimistis itu kata Purwadi menjadi faktor utama untuk pembelajaran.

Menurut dia, learning circle penting sekali diterapkan. Dimulai dari bahan ajar lalu guru men-delivery pembelajaran kepada siswa, kemudian dilakukan evaluasi.

"Evaluasi menjadi refleksi untuk menyempurnakan pembelajaran. Kalau kita jaga betul dan guru mengerti, insyaallah anak kita memiliki kompetensi," tandasnya.

Sebagai anggota dari OECD, Indonesia berpartisipasi dalam tes PISA  yang menguji kemampuan dasar siswa SMA.

Zenius memiliki komitmen untuk membantu meningkatkan skor PISA Indonesia. Hal ini sejalan dengan agenda pemerintah yang kini menggunakan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) untuk menilai kemampuan dasar siswa dalam hal literasi dan numerasi.

Menurut Sabda PS, Chief Education Officer Zenius, metode belajar yang Zenius terapkan berfokus pada pemahaman dasar materi dan pengembangan pola berpikir kritis.

Hal ini dicapai dengan membantu siswa mendapatkan pengalaman belajar yang personal, sesuai dengan tahapan belajar serta kemampuan masing-masing. 

“Ada empat kemampuan dasar yang penting dimiliki seorang individu yaitu logika, kemampuan matematis dasar, membaca, dan scientific thinking,” tutur Sabda.

Zenius, lanjutnya, berusaha untuk membuat materi-materi pembelajaran yang bisa menstimulasi kemampuan dasar tersebut. Hal ini untuk membentuk individu yang cerdas, cerah, dan asyik.

Sabda menjelaskan, individu cerdas terlatih untuk memiliki pemikiran kritis daripada sekadar menghafal. Cerah karena mereka memiliki kemampuan dasar yang membuat mereka lebih percaya diri menjalani kehidupan sehari-hari. 

"Siswa juga asyik karena memiliki kemampuan sosial dan memiliki motivasi untuk terus belajar atau menjadi lifelong learners," pungkasnya. (esy/jpnn)

 

 

 

 

 

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler