Antisipasi Guncangan Ekonomi, Cucun PKB Beri Saran Penting kepada Pemerintah

Senin, 22 Agustus 2022 – 23:10 WIB
Diskusi Fraksi PKB Bertajuk "Mampukah Arsitektur APBN 2023 Menghadapi Gelapnya Ekonomi Dunia?" di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Senin (22/8). Foto: dok. Fraksi PKB

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Fraksi PKB DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menyarankan pemerintah menguatkan pendekatan countercyclical menghadapi potensi guncangan ekonomi.

Dia mengatakan perekonomian Indonesia tahun depan masih akan menghadapi tantangan tingginya ketidakpastian dan peningkatan risiko global. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme fiskal jika sewaktu-waktu guncangan ekonomi itu terjadi.

BACA JUGA: Irjen Panca Buka Suara Ditanya Skema Kaisar Sambo, Cermati Kalimatnya

"Pendekatan countercyclical kami kira tepat karena berorientasi pada upaya untuk menstabilisasi iklim usaha yang ada,' kata Cucun saat membuka Diskusi Fraksi PKB Bertajuk "Mampukah Arsitektur APBN 2023 Menghadapi Gelapnya Ekonomi Dunia?" di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Senin (22/8).

Diskusi itu menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu, Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad, dan Pengamat Ekonomi Faisal H Basri.

BACA JUGA: Genjot Transformasi Digital, Jokowi Dinilai Sukses Percepat Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Cucun menyebut ketidakpastian situasi global menjadi tantangan nyata bagi pemulihan ekonomi nasional setelah pandemi Covid-19. IMF telah menyematkan istilah "gelap signifikan" dalam proyeksi ekonomi global 2023.

"Situasi ini mengerek laju inflasi global sehingga meningkatkan angka kemiskinan dan memperluas bencana kelaparan," tuturnya.

BACA JUGA: Analisis Skandal Cinta Terlarang Berawal dari Ucapan Putri Candrawathi, Begini

Dia menilai Indonesia bakal menghadapi beberapa tantangan berat karena adanya potensi stagflasi akibat lonjakan inflasi global akibat supply disruption dan perlambatan perekonomian sebagai dampak tensi geopolitik.

Lalu, adanya ancaman arus modal keluar karena meningkatnya cost of fund dengan adanya kenaikan suku bunga global.

"Potensi guncangan ekonomi sangat besar, oleh karena itu pemerintah perlu menyiapkan strategi khusus agar mampu melakukan stabilisasi saat itu terjadi," ucapnya.

Sementara itu, Febrio Nathan Kacaribu menyebut pemerintah relatif siap menghadapi potensi guncangan ekonomi akibat ketidakpastian global.

Beberapa indikator ekonomi diklaim cukup aman, seperti angka defisit yang relatif rendah, cadangan devisa dan nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta pengelolaan utang yang cukup prudent.

"Kita juga menikmati berkah komoditas yang memberikan kontribusi besar bagi pendapatan negara," beber Febrio.

Di sisi lain, pengamat ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri menilai perekonomian RI masih cukup riskan dalam menghadapi potensi guncangan ekonomi akibat ketidakpastian global.

Dia menilai besaran RAPBN 2023 yang mencapai hampir Rp 3.000 triliun bukanlah indikator capaian prestasi. Terlebih lagi jika dilihat dari alokasi anggaran yang didominasi pengeluaran untuk membayar beban biaya bunga utang yang harus ditanggung pemerintah.

Selain itu, Faisal melihat belanja modal di dalam postur RAPBN 2023 hanya ada di urutan keempat, sedangkan yang menduduki posisi kedua dan ketiga adalah belanja barang serta belanja pegawai.

"Situasi ini menunjukkan jika performa ekonomi kita tidak bagus-bagus amat, bahkan performa ekonomi di Indonesia relatif buruk. Hanya berada di urutan 122 di dunia," ujar Faisal.

Pembicara lainnya, Tauhid Ahmad mengatakan bom komoditas yang dinikmati tahun ini tahun depan berpotensi menurun. Situasi itu harus diantisipasi karena memberikan ancaman nyata terhadap pendapatan negara.

"Tahun depan inflasi menurun karena permintaan juga menurun. Situasi ini berbahaya bagi APBN kita sehingga harus diantisipasi," kata Tauhid. (fat/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler