"Apakah Anda Puas dengan Pelayanan Kami?" tanya Nunei

Jumat, 11 Desember 2015 – 01:04 WIB
Kapal pesiar Sapphire Princess. Foto: Suprizal Tanjung/Batam Pos/JPG

jpnn.com - KAPAL pesiar Sapphire Princess memberikan pelayanan kelas hotel bintang lima. Beragam makanan lezat dan terbaru disajikan kepada 3.000 penumpang, pergi pulang dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bagaimana Sapphire Princess mengemasnya? Berikut catatan wartawan Batam Pos yang ikut dalam perjalanan kapal mewah itu 

SUPRIZAL TANJUNG, Malaysia

BACA JUGA: TNI AL Mengevakuasi 478 WNI dan 1 WNA ke Kapal Pesiar MV Norwegia Escapa

WISATAWAN dari Batam baru saja menginjakkan kaki di pelabuhan Marina Bay Cruise Centre, Singapura, Kamis (26/11/2015) pukul 11.00 waktu Singapura. Di sana sudah terkumpul ribuan orang. Mereka antre memperlihatkan dokumen perjalanan, dan paspor kepada petugas. Ada sekitar 30 meja, dimana dalam satu satu meja terdapat dua sampai tiga petugas melayani dokumen penumpang. Semua petugas terlihat tenang, namun bekerja cepat. Tidak ada suara ribut dari mereka saat melayani ribuan penumpang yang antre. 

Rombongan dari Batam, yaitu Simon Budi, Neneng Wiyanto, Velisia, Agustina, dan penulis mendapat tempat paling kanan.  Di tengah keramaian dan sambil  menunggu dokumen selesai diperiksa oleh dua wanita muda Singapura, mendadak dari arah belakang muncul Sales Co-ordinator Princess Cruises, Norsidahwati Binte Ja’far (Sida), Sales Executive Princess Cruises, Kenji Chen, dan Mrs Shirlene Ng.

BACA JUGA: 42 ABK WNI Termasuk Seorang Perempuan Dievakuasi dari Kapal Pesiar Berbendera Norwegia

“Halo, selamat datang. Moga lancar, tak ada kendala ya,” sapa Sida, Shirlene, dan Kenji panjang lebar dalam bahasa Inggris bercampur dengan bahasa Melayu.

Simon Budi, orang yang kami tuakan dalam perjalanan itu menjawab, bahwa sebagian besar surat menyurat dan dokumen mereka tidak ada kendala. Hanya saja, paspor penulis ada sedikit masalah. Masa berlaku paspornya sudah sudah kurang dari enam bulan.

BACA JUGA: Kapal Pesiar Misterius Melintas di Perairan Raja Ampat, Langsung Gempar

Sementara aturan imigrasi internasional, perjalanan ke luar negeri harus menggunakan paspor yang masa berlaku terakhirnya, lebih dari enam bulan. Untung saja, pemeriksaan kali ini tidak lagi seketat dan seteliti seperti di pelabuhan HarbourFront Singapura. Paspor penulis lolos. Mungkin petugas Princess Cruises berpikir, bila dokumen penumpang sudah disetujui pihak imigrasi di pelabuhan HarbourFront Singapura, maka berarti penumpangnya aman.

Penat kaki menunggu bersama ribuan penumpang lainnya menjadi terobati ketika pemeriksaan selesai, dan kami melangkah memasuki tangga masuk ke kapal buatan Jepang tahun 2004, dan diperbarui lagi tahun 2015, dengan bobot 116.000 ton,  serta  panjang 952 kaki (sekitar 285-300 meter) tersebut.

Sebelum masuk kapal 18 lantai (deck, dek, geladak, red) itu, ada dua pemeriksaan lagi yang kami lewati pukul. 14.00 waktu Singapura. Di pintu kapal, sekuriti kembali memeriksa dan mengambil paspor penumpang dan menggantinya dengan kartu tanda penumpang (KTP) Sapphire Princess, sebesar kartu ATM.

Kartu itulah nanti menjadi dokumen penumpang memesan makanan-minuman gratis selama 24 jam (seperti pizza, steak, burger dan lainnya) di 13 konter tempat makan minum di  Sapphire Princess, serta untuk masuk-keluar Malaysia, dan Thailand.

Pelayanan sebelum, saat naik, dan setelah turun dari Sapphire Princess betul-betul teratur, profesional, terencana, dan dipastikan aman. Tidak sembarang orang bisa naik kapal mewah ini. Butuh perencanaan, dana, waktu, siap antre, dan kesungguhan untuk berwisata selama (misalnya) enam hari. Kenyamanan, keamanan, dan keselamatan penumpang sangat diutamakan.

Untuk keselamatan penumpang, kapal ini punya 22 boat (perahu, sekoci) penyelamat bisa menampung 150 orang, dan 32 kapal karet yang bisa menampung 25 orang. Selain itu, di setiap kamar, disediakan jaket pelampung sejumlah orang yang ada di kamar. Demi kesempurnaan keselamatan, kru Sapphire Princess memberikan pelatihan singkat, bagaimana memasang jaket pelampung kepada seluruh penumpang, Jumat (27/12) pagi.

Ketika melangkahkan kaki masuk ke Sapphire Princess, bau laut berganti dengan aroma wangi, khas hotel mewah. Udara sedikit panas di pelabuhan, berganti dengan aliran udara sejuk dan harum dari Air Conditioner (AC) yang tidak pernah berhenti mendinginkan seluruh isi kapal.

Pukul 15.20, kami berlima sudah dibagi dalam tiga kelompok. Simon Budi dan penulis di lantai delapan, kamar 701. Neneng Wiyanto dan Velisia di lantai sepuluh kamar, kamar 729. Norsidahwati dan Agustina di lantai 10 kamar 746.

Saat para penumpang merapikan pakaian, atau mandi di shower  yang memiliki air panas atau dingin, kapal berangkat sekitar 16.50 waktu Singapura. Kapal bergerak sangat cepat, tidak ada terdengar suara mesin, tidak ada terasa ada goncangan, atau ada ayunan sedikitpun.

Penumpang baru tahu kapal sudah berjalan, ketika melongokkan kepala ke arah kaca jendela. Di situ, di tepi badan kapal, ombak memecah, memutih dihantam oleh kapal yang membawa 3.000 penumpang serta 1.100 Anak Buah Kapal (ABK) serta nakhoda. Total ada 4.100 orang di kapal tersebut.

Ketika malam menjelang, dari balik kaca, atau di geladak paling atas, terlihat pulau-pulau yang dilalui semakin mengecil. Dibandingkan memandang dari dalam kamar, pilihan terbaik adalah duduk di lantai 14. Pada bagian atas kapal itu, lampu-lampu yang ada di pulau sekitar terlihat menyala, ada juga yang kerlap-kerlip.

Agak lama di tempat terbuka, hembusan angin makin terasa. Rambut dan pakaian bergerak ke sana kemari, bagaikan ingin melepaskan diri mengikuti kemana angin menuju. Kalau sudah begini, lebih baik berdiri atau duduk di balik dinding kaca yang hampir menutupi seluruh lantai 14. Tubuh pun terbebas dari terpaan angin malam.

Di bawah cahaya lampu yang tidak terlalu terang, banyak wisatawan mancanegara bercerita panjang lebar, sementara, anak-anak mereka, baik yang masih balita, atau remaja, mandi di kolam renang.

Malam kan dingin? Jangan khawatir. Di situ ada kolam renang biasa untuk anak-anak dan orang dewasa. Juga ada kolam khusus air panas. Jumlah kolamnya relatif banyak. Mau mandi di kolam yang berada di tengah kapal, di belakang, atau di haluan kapal. Terserah. Semuanya ramai. Usai mandi, di tepi kolam sudah tersedia lebih dari 100 handuk putih biru  yang selalu bersih, dan diganti.

Sensasi perjalanan di Sapphire Princess relatif unik. Tidak bisa ditemukan dan disamakan dengan perjalanan menggunakan trasportasi lain. Naik Sapphire Princess, bagaikan berada di rumah, apartemen, vila, bahkan hotel. Di kapal ini kita merasa sangat tenang, damai. Semua karena  kapal  dilengkap berbagai fasilitas seperti, kasur empuk, kamar mandi, shower, toilet, restoran, café, kolam renang, dan berbagai tempat  hiburan. Penumpang tidak harus diam di satu tempat. Mereka bisa ke sana kemari sesuka hati.

Sekitar pukul 20.00 waktu Singapura, para penumpang mulai mengikuti jadwal kapal. Pertama yang dilakukan adalah, berkumpul dan makan malam di restoran yang bernuansa hotel bintang lima. Pertama kali masuk di restoran di lantai lima tersebut, rasa kagum tidak bisa ditahan.

Bagaimana tidak. Selama  ini, kita  hanya mendengar kapal pesiar memilik berbagai fasilitas lengkap. Salah satunya adalah restoran ala hotel bintang lima. Kali ini, penumpang melihat langsung cerita tersebut. Ketika akan masuk, kami disapa oleh satu dari empat petugas. Mereka dengan ramah menanyakan voucher makanan yang kami miliki. Setelah ditunjukkan, kami pun masuk di restoran, dan menyatu dengan ratusan penumpang lainnya.

Kami duduk di kursi, dengan perlengkapan seperti meja, dinding, pembatas ruangan terbuat dari kayu mahal, kuat, tak ada lecet, dan  mengkilat. Satu meja memuat enam orang. Di situ kami dilayani dengan sangat baik. Menu makanan dan minuman selalu diberikan. Aneka makanan-minuman ala barat (western), pastry (cake, aneka ice cream, roti, puding).  Kadang nasi goreng disajikan untuk para penumpang. Sapphire Princess bisa disebut surga bagi pecinta kuliner, dan hiburan.

Perjalanan kapal ini selalu diminati dan ditunggu calon penumpang baik dari Indonesia, serta negara dari benua Asia, Australia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Tim di Sapphire Princess benar-benar profesional. Tahu betul keinginan penumpang dan cara memanjakannya.

Tak heran, biaya satu kali perjalanan dengan lama enam hari (pergi pulang dari Singapura, Malaysia, Thailand) sekitar Rp 9 juta per orang bukan halangan bagi penumpang. Itu seimbang dengan sensasi, dan pengalaman yang didapat selama perjalanan.

Selama enam hari perjalanan ini, setidaknya Sapphire Princess bisa meraup uang antara Rp 21 miliar sampai Rp 30 miliar dari 3.000 penumpang. Angka yang cukup luar biasa. Jika 27 kali perjalanan, dimana satu perjalanan selama enam hari, total 162 hari atau lima bulan lebih, maka Sapphire Princess bisa mendulang Rp 810 miliar.

Dana tersebut setara dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batam sebesar Rp 810 miliar selama setahun. Sapphire Princess mendapatkan itu semua lebih cepat, hanya lima bulan. Itu semua didapat dengan cara memberikan kenyaman dan kebahagiaan. Batam dan kota, kabupaten, dan provinsi di Indonesia pada umumnya, bisa mendapatkan PAD lebih besar, jika sungguh-sungguh, profesional, penuh semangat, diiringi cinta kasih dalam mengelola dan menjual berbagai potensi, paket wisata, dan lainnya.

Kebahagiaan, perhatian, kebanggan, dan cinta kasih pulalah yang selalu diberikan Nunai, dan Merian, dua karyawan restoran kapal asal Filipina, serta Dwi asal Jakarta, kepada penumpang. Seperti kepada penumpang lain, mereka selalu menanyakan,”Apakah Anda senang dan puas dengan pelayanan kami,” tanya Nunei, Marian, ataupun Dwi tulus.

Kalimat itu sudah menjadi “merek dagang” dan selalu diucapkan, untuk memastikan apa yang mereka lakukan dan berikan telah sesuai dengan keinginan penumpang.

Bukan  hanya memberikan menu dan mengantarkan pesanan kami. Mereka juga mengajak bercerita, menjadikan kami (penumpang) sebagai kawan, di sela-sela pekerjaan rutinnya menuang air es, atau air putih ke dalam gelas kami.

Merian bercerita bahwa di kapal ini para kokinya dari berbagai negara, dan mereka ahli  menyajikan aneka makanan,  yang kadang tidak kita jumpai di darat. Mulai dari Eropa, Tiongkok, Jepang, Filipina, negara asia lainnya, termasuk Indonesia.

“Nasi goreng yang Anda nikmati itu dikerjakan oleh koki dari Indonesia. Enak rasanya kan?” tanya Merian kepada Simon Budi, Neneng Wiyanto, Velisia, Agustina, dan penulis.

Makan malam kami semakin hidup dengan kehadiran Sida, Shirlene, dan Kenji. Mereka adalah tiga anak muda yang sangat menguasai keadaan kapal, tahu apa keinginan penumpang, dan familiar.

Ada-ada saja yang mereka ceritakan dan informasikan. Semua menarik, dan lucu-lucu. Canda-tawa kerap terdengar dari meja kami orang Melayu, yang terkenal mudah akrab dan familiar. Kondisi ini sangat kontras dengan meja lain yang berasal dari Eropa, Jepang, atau Korea yang cenderung diam pada berbagai kegiatan.

Keramahan Sida, Shirlene, dan Kenji tidak dibuat-dibuat dan bukan hanya kepada kami. Semua penumpang mendapat perlakuan sama. Tak ada beda. Penumpang dibuat bahagia, disuruh kenyang, dan sehat sepanjang hari.

Makan di restoran lantai lima menjadi favorit penumpang. Suasana perabotnya yang bagaikan di istana, pelayannya yang ramah dan bergerak cepat, menunya yang selalu berganti, alunan musik klasik adalah nilai tambah pilihan penumpang.

Namun, ada satu lagi kelebihan makan di restoran lantai lima, yaitu pembagian kue Hari Ulang Tahun (HUT)  untuk penumpng. Bagi penumpang yang berulang tahun, akan datang pelayan restoran, manajer restoran membawa cake HUT dan lilin menyala.

Spontan mereka mendekati penumpang yang berulang tahun, menyalami, bersama bernyanyi Happy Birthday, bersorak, dan bertepuk tangan. Sangat familiar, dan mengesankan.

Kebahagiaan di masa HUT itu belum cukup, tim Sapphire Princess juga menggantungkan dua balon di depan pintu kamar penumpang yang berulang tahun. Begitu pintu kamar dibuka, atau saat mau masuk kamar, penumpang akan terkejut bahagia, mata berbinar melihat hadiah dua balon. Inilah salah satu upaya Sapphire Princess memanjakan penumpangnya.

Masih di lantai lima, tepatnya di bagian tengah kapal. Ada satu pangung hiburan. Panggung ini bisa dilihat dari lantai lantai delapan. Di depan panggung ada puluhan kursi dan meja. Tepat di depan tangga, ada konter pastry berisikan cake cokelat, aneka ice cream, roti, puding, juice jeruk, air es. Konter di depan panggung hiburan ini buka  24 jam, dan selalu dihampiri, dikelilingi para penumpang. 

Sapphire Princess tak pernah sepi. Di pangung ini selalu tampil  home band, beranggotakan dua perempuan, dan dua lelaki. Perempuan pertama memegang lead guitar, perempuan  kedua sebagai vokalis, lelaki pertama sebagai pemain bas, dan lelaki ketiga memainkan keyboard. Lagu-lagu lama dan terbaru menjadi santapan di setiap malam bagi penumpang yang datang ke lantai tersebut.

Ketika duduk, berdiri, atau berjalan di lantai lima, karyawan restoran kapal yang berasal dari Eropa, Pilifina, Jepang, atau Korea akan keliling membawa puluhan cokelat lezat. Coklet agak bulat ditusuk dengan sejenis lidi, l alu ditempatkan di atas piring lebar. Suka? Ambil saja, berapa saja kita mau. Mereka kadang berkeliling ruangan membawa juice jeruk, air es untuk penumpang yang duduk santai atau sedang berdiri.

Masih di lantai lima, hiburan malam lain  yang ditunggu  penumpang adalah Mr Balloon. Lelaki bertopeng  ini selalu memainkan balon berdiamater tiga sentimeter dengan panjang  satu meter tersebut. Balon tersebut dirangkai menjadi aneka tokoh, mulai dari superhero, doraemon, nobita, sampai dinosaurus. Pada saat tertentu, Mr Balloon juga membuat balon berbentuk love yang diberikan kepada anak-anak, atau pasangan suami istri (pasutri) yang ada di sekitar panggung.

Sambil menonton Mr Balloon atau menyaksikan home band Sapphire Princess, penumpang bisa singgah di konter steak yang jaraknya hanya beberapa meter. Lewat di konter steak tersebut, air liur siap-siap menetes. Bau harum daging sangat mengoda. Jangan ragu. Singgah, pesan, dan santap. Puluhan meja dan bangku kayu mewah tersedia di depannya.

Di kapal tersebut, tempat hiburan dan makanan bukan hanya ada di lantai lima. Ada 13 tempat makan-minuman berbentuk restoran, konter makanan minuman lainnya. Bila bosan dengan makanan disajikan, kita bisa pindah ke konter lain di lantai sama, atau lantai berbeda. Sangat banyak pilihannya.

Kalau di lantai lima,  makanannya dihidangkan pelayan. Sedangkan di lantai 14, gayanya prasmanan, self service. Untuk sampai ke lantai 14, kalau mau cepat, bisa menggunakan belasan lift yang ada. Kalau mau sehat dan berkeringat, berjalan saja lewat tangga yang lebar dan kuat.

Di lantai 14, ada dua ruangan besar  terpisah. Masing-masing ruangan berisi 30-50 meja bisa menampung ratusan orang. Satu ruangan menyediakan sekitar 15 meja yang menyajikan aneka makanan. Menunya western (di antaranya burger, salad, sosis), makanan nusantara (gado-gado, sate), aneka buah dan sayur, serta pastry.

Belum puas? Masih di lantai 14, silakan melangkah ke tengah kapal. Tiga meter dari kolam renang, lidah penumpang akan dimanjakan dengan pizza yang masih hangat.  Juice jeruk, air es, atau air putih tinggal diambil. Di sebelah konter pizza, ada konter pop corn. Pop corn, pizza, minuman dan makanan lainnya bisa makan di tempat.

Sekitar 15 meter dari konter pizza, ada konter ice cream. Tiga perempuan muda siap menyediakan ice cream dari pagi sampai malam untuk Anda. Patut dingat. Semuanya disediakan gratis.

Kalau mau minuman Coca-Cola kaleng, wine dan lainnya juga ada. Khusus minuman ini, penumpang harus membayar. Bukan dengan uang cash. Pembayaran menggunakan KTP Sapphire Princes yang berfungsi sebagai kartu kredit saat berlanja di kapal, sekaligus berfungsi sebagai sebagai paspor ketika masuk ke negeri orang (Singapura, Malaysia, Thailand).

Satu yang pasti. Sapphire Princess sangat memanjakan lidah, dan mata semua penumpang. Orang yang mencintai kuliner, tentu sangat menyukai pengalaman ini.

Penumpang bisa membawa makanan minuman tadi sambil duduk di kursi tepi kolam renang, di meja, atau naik ke deck paling atas. Di sana, penumpang bebas untuk berfoto, jalan-jalan dari belakang sampai ke haluan kapal, sambil memandang deburan ombak yang hadir karena diterjang oleh badan kapal. Hembusan angin laut, panasnya matahari pagi dan siang, semakin menyehatkan badan. Tak heran, banyak penumpang yang  hampir tiap pagi naik ke atas kapal dan berkeliling di bawah cahaya matahari.

Jika anda punya balita, yang memerlukan permainan, bisa datang ke beberapa ruangan di lantai 14. Di sana ada tempat penitipan anak gratis, plus aneka permainan. Ada kolam renang untuk balita, dan anak-anak. Di lantai 15 juga ada aneka permainan anak-anak.

Untuk orang dewasa, jangan ditanya. Mau main catur dengan buah sebesar balita, silakan. Tempat main bola basket, atau pingpong juga ada. Semua tempat dan peralatannya baru, lengkap, dan aman. 

Dari tadi kebanyakan cerita soal makanan saja. Apa ada fasilitas lain untuk menambah wawasan? Ada. Di lantai enam ada Library yang menyediakan ratusan buku dari berbagai jenis buku tentang nusantara, dan mancanegara. Tempat lain yang juga pantas untuk ditulis adalah ruangan yang memajang berbagai lukisan dari pelukis kenamaan mancanegara. Juga ada konter tempat menjual aneka parfum, pakaian bermerek, dan souvenir bertemakan Sapphire Princess. 

Kapal besar  ini juga menyediakan berbagai fasilitas lainnya. Jarak yang satu dengan lainnya relatif jauh. Namun jangan khawatir. Beberapa tempat tertentu di kapal itu mudah dicapai, dan tidak pernah sepi. Semua tempat di kapal itu selalu ramai, dengan belasan  orang, puluhan, hingga ratusan  orang. Suasana di kapal menang tidak pernah mati. Selalu ramai dengan berbagai aktivitas di berbagai fasilitas yang ada.

Pengalaman ini harus disampaikan kepada masyarakat lokal dan mancanegara. Itu memerlukan  orang khusus yang pernah naik Sapphire Princess, terbiasa dengan perjalanan, dan dunia wisata. Itulah sebabnya, Princess Cruises mempercayakan informasi dan penjualan tiket kepada travel agen berpengalaman, dan terpercaya kepada di Batam (Kepri) yang tergabung dalam Batam Consortium Agents (BCA) yang terdiri dari, PT Kurnia Djaya Wisata Tour and Travel, Ananda Tours, Planet Wisata Tour and Travel, Hanita Jaya Wisata, Andika Batam Tour Service, dan Prima Tour & Travel.

BCA di Batam (Kepri) sangat dipercaya dan berpengalaman di sebagai travel agent. BCA lah yang akan membagikan pengalaman, memandu calon penumpang, memaparkan tujuan perjalanan Sapphire Princess, menginformasikan dokumen apa harus disiapkan, dan perlengkapan lain apa yang harus dibawa. Patut diingat. Ketika naik Sapphire Princess sebaiknya membawa kartu kredit. Kartu itu penting untuk membeli souvenir, foto, internet, pakaian, parfum, barang-barang cantik, atau berbagai keperluan lain di kapal ini. ***

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pemerintah Harus Segera Evakuasi WNI di Kapal Pesiar Diamond Princess


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler