Apresiasi PTTEP untuk Para Pejuang Kesehatan

Minggu, 30 April 2017 – 12:17 WIB
Mawarni Arumi. Foto: Dedi Finafiskar/Kendari Pos/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, data September 2016, mencapai 10,7 persen atau sebanyak 27,76 juta orang.

Sementara, jumlah penduduk miskin perdesaan mencapai 13,96 persen atau sebanyak 17,28 juta orang.

BACA JUGA: Khusus Dewasa! Ini Pengaruh Latihan Intensif terhadap Libido Pria

Jumlah tersebut cukup tinggi sehingga berdampak pada kualitas hidup masyarakat, terutama pada bidang kesehatan.

Dengan tingginya angka kemiskinan, maka dibutuhkan kerja sama pemerintah, swasta dan masyarakat dalam meningkatkan status kesehatan penduduk Indonesia.

BACA JUGA: Bukan Cuma Kasih Sayang, Kurangnya Waktu Tidur Juga Mepengaruhi Perilaku Anak

Salah satu bentuk upaya penanganan terhadap masalah kesehatan masyarakat terwujud dalam program yang digagas PTT Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP) bersama Dompet Dhuafa (DD) melalui kompetisi pejuang kesehatan.

Menurut General Manager PTTEP Titi Thongjen, tujuan utama program ini adalah sebagai bentuk apresiasi terhadap para pejuang kesehatan yang telah berkontribusi positif kepada masyarakat marjinal dengan keterbatasan dalam mengakses fasilitas kesehatan.

BACA JUGA: 5 Jurus Ampuh Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

Kompetisi pejuang kesehatan menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memperingati hari ulang tahun Gerai Sehat Rorotan ke-2.

Gerai Sehat Rorotan adalah klinik pelayanan kesehatan gratis bagi dhuafa, yang juga merupakan hasil kerja sama PTTEP dengan Dompet Dhuafa.

Para pejuang kesehatan yang terpilih mendapatkan apresiasi senilai puluhan juta rupiah yang nantinya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan program kesehatan yang berjalan.

"Proses pemilihan pejuang kesehatan ini cukup panjang. Publikasi program dilakukan sejak 1 Desember 2016. Dari 109 peserta, terpilihlah tiga terbaik yang tersebar di tiga wilayah, yakni Jawa Barat, Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Barat," kata Titi dalam keterangan tertulisnya, Minggu (30/4).

Para pejuang kesehatan ini adalah orang-orang yang terbukti mampu memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat.

Kriteria yang harus mereka penuhi untuk dapat terpilih sebagai pejuang kesehatan, salah satunya yakni durasi program yang dijalankan harus sudah berjalan minimal empat tahun.

Kriteria lain yang harus dipenuhi untuk menjadi pejuang kesehatan, lanjut Titi adalah harus memiliki program unik, menginspirasi dan kontributif, bersifat orisinil dan tentunya bermanfaat bagi masyarakat.

Pemberian apresiasi kepada tiga terbaik pejuang kesehatan ini digelar bertepatan dengan Indonesia Internasional (Bio) medical Student’s Congress (INAMSC).

INAMSC merupakan bagian Liga Medika yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Salah satu sosok peserta pejuang kesehatan yang terpilih yakni Mawarti Arumi, pejuang kesehatan dengan program klinik bank sampah.

Latar belakang pendirian klinik bank sampah yang digagas Mawarti adalah rasa empati kepada para lansia yang memilki keterbatasan ekonomi untuk mendapatkan akses layanan kesehatan yang layak.

Berlokasi di Desa Baruga, Kecamatan Uepay, Kabupatan Konewa, Sulawesi Tenggara, klinik bank sampah telah berdiri sejak 2010 dan memiliki anggota sebanyak 1.859 orang.

“Kegiatan yang dilakukan di klinik bank sampah antara lain penyuluhan kesehatan, penyuluhan hidup bersih dan sehat, hingga home visit untuk para anggota yang kesulitan berobat ke klinik bank sampah,” ujar Mawarti.

Dia berharap, dengan adanya progam ini banyak masyarakat yang tergerak untuk membantu masyarakat marjinal mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang mumpuni.‎ (esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Berapa Batas Maksimal Minum Kopi dalam Sehari?


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler