AS Jual Amunisi ke Ukraina Senilai Rp 2,38 Triliun, Niatnya Membantu Atau Cari Untung ya?

Selasa, 26 April 2022 – 13:34 WIB
Arsip - Logo Departemen Luar Negeri AS terlihat di Washington, Amerika Serikat, 26 Januari 2017. (ANTARA/Reuters/Joshua Roberts/as)

jpnn.com, WASHINGTON - Amerika Serikat berencana menjual amunisi senilai USD 165 juta atau setara Rp 2,38 triliun ke Ukraina.

Rencana tersebut segera terealisasi setelah Departemen Luar Negeri AS pada Senin menggunakan deklarasi darurat.

BACA JUGA: Amerika Serikat Tidak Usah Khawatir, Kodam Cendrawasih Beri Jaminan

Deklarasi tersebut untuk pertama kalinya digunakan selama Joe Biden menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk menyetujui kemungkinan penjualan amunisi ke Ukraina.

Pentagon menyebut penjualan amunisi itu untuk membantu Ukraina mempertahankan diri terhadap invasi Rusia yang sedang berlangsung.

BACA JUGA: Negara Barat Pakai Standar Ganda Sikapi Kekerasan di Palestina dan Ukraina

Pemerintah Ukraina telah meminta untuk membeli berbagai peluru yang disebut amunisi tidak standar, kata departemen itu dalam sebuah pernyataan, merujuk pada amunisi yang tidak sesuai dengan standar NATO.

Pentagon mengatakan paket itu dapat mencakup amunisi artileri untuk howitzer, tank, dan peluncur granat seperti peluru 152mm untuk 2A36 Giatsint.

BACA JUGA: Ukraina Yakin Rusia Bakal Menginvasi Negara Lain, Tanda-tandanya Mulai Terlihat

Kemudian, peluru 152mm untuk meriam D-20, VOG-17 untuk peluncur granat otomatis AGS-17, amunisi 125mm HE untuk peluru T-72 dan 152mm untuk 2A65 Msta.

"Ketika pasukan Ukraina menggunakan amunisi untuk mempertahankan negara mereka, kebutuhan amunisi harian mereka terus meningkat," kata seorang pejabat Deplu.

"Cadangan amunisi Ukraina yang sangat rendah di medan tempur menjadi salah satu alasan pejabat Deplu mengatakan ada keadaan darurat.

Deklarasi darurat tidak digunakan sejak 2019 ketika pemerintahan Trump memberi tahu komite di Kongres bahwa mereka akan melanjutkan dengan 22 penjualan perangkat militer ke Kerajaan Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Yordania.

Keputusan itu membuat marah anggota parlemen karena menghindari prosedur yang sudah lama dijalankan Kongres untuk meninjau penjualan senjata utama.

Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan Pentagon memberi tahu Kongres tentang kemungkinan penjualan ke Ukraina itu pada Minggu.

"Pemerintahan Biden tampaknya berargumen melawan agresi Rusia adalah demi kepentingan keamanan nasional AS, yang tidak jauh berbeda dari apa yang dilakukan Trump terkait Iran dan penjualan ke sekutu AS di Timur Tengah pada 2019," kata Jeff Abramson dari Asosiasi Pengendalian Senjata.

Namun sejauh ini Ukraina memiliki dukungan bipartisan yang sangat luas.

"Jika penjualan senjata ini diberikan kepada negara dengan persetujuan yang kurang dari yang dibutuhkan, Anda akan mendapati anggota Kongres mengajukan pertanyaan apakah penjualan ini benar-benar darurat dari perspektif keamanan AS," kata Abramson.

Pentagon tidak mengidentifikasi kontraktor utama untuk penjualan senjata itu, tetapi mengatakan skema Pembiayaan militer asing akan digunakan untuk membayar amunisi-amunisi itu.(Antara/Reuters/JPNN).


Redaktur & Reporter : Kennorton Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler