Langkah Pemerintah Tasmania membatasi asap di perumahan warga lewat RUU Asap menuai protes karena turut membatasi asap dari kegiatan BBQ warga yang sudah menjadi kebiasaan umum warga Australia.

Aturan itu dinilai ‘tidak mencerminkan gaya hidup warga Australia dan hanya lelucon semata.

BACA JUGA: Seekor Koala Tersangkut Di Pagar Di Adelaide

Pemerintah Tasmania telah merilis Rancangan Undang-undang (RUU) Asap yang mengurangi jumlah pemilik lahan yang diizinkan untuk membakar vegetasi dan memperketat standar seputar emisi pemanas bersumber kayu.

RUU itu juga akan memudahkan penerapan denda kepada orang-orang jika acara BBQ mereka menghasilkan terlalu banyak asap.

BACA JUGA: Lansia di Pedalaman Australia Tetap Aktif Walau Berusia 100 Tahunan

BBQ adalah kegiatan yang sudah menjadi budaya di banyak masyarakat Australia dimana di musim panas, warga akan melakukan kegiatan memanggang makanan di luar rumah.

Warga bisa berkumpul di belakang rumah atau di taman dan melakukan pesta BBQ dengan memanggang daging seperti babi, sapi, kambing dan ayam.

BACA JUGA: PM Turnbull Desak Paus Berhentikan Uskup Adelaide Kardinal Wilson

Cara pemanggangan ini bisa membuat asap akan menyebar ke tempat lain.

Sebuah perkumpulan warga bernama Masyarakat BBQ Tasmania khawatir UU yang baru diusulkan ini akan merugikan warga Tasmania pencinta daging panggang.

"Ketika Anda berbicara tentang jumlah asap yang diizinkan dan pembakaran yang terkendali dalam RUU ini, dibandingkan dengan apa yang menjadi cara hidup warga Australia - barbekyu - itu seperti lelucon saja," kata Presiden Masyarakat BBQ Tasmania, Rowan Peterson.

Kegiatan barbekyu telah menjadi bisnis besar dalam beberapa tahun terakhir bahkan dengan model alat pemanggang yang digambarkan sebagai pemanggang "turbo".

Lonjakan popularitas kebiasaan BBQ ini telah menjadikan alat pemanggang harganya bisa setara dengan sebuah mobil kecil.

Salah satu merek yang memiliki enam tungku pembakar bahkan dijual seharga $ 6.400 atau sekitar Rp 68 juta.

Mereka diperdagangkan dengan deskripsi seperti alat BBQ "turbo" dan "low'n'slow", sebuah cara populer untuk memasak daging yang menciptakan banyak asap.

Rancangan peraturan menyatakan bahwa asap BBQ dinilai melanggar hukum jika:

A) terlihat terus menerus selama 10 menit atau lebih; dan

(b) selama periode berasap terus-menerus selama 10 menit tersebut selama 30 detik - (i) dalam kasus tersebut alat pemanas atau perapian berada di dalam sebuah gedung, atau berada di bagian dari bangunan itu pada jarak 10 meter atau lebih dari titik tersebut di gedung, atau bagian dari gedung, dimana asap itu dipancarkan; atau (ii) dalam kasus itu alat pemanas atau alat pemanas luar ruangan atau alat memasak atau perapian yang tidak berada dalam bangunan, atau bagian dari bangunan - pada jarak 10 meter atau lebih dari titik di mana asap tersebut keluar.

Itu berarti dari jarak 10 meter, atau seperti yang ditakuti Rowan Peterson, dari sisi lain pagar tetangga yang tidak menyukainya.

"Jika Anda memiliki tetangga yang jahat dan atau orang pemarah yang tinggal di jalan tempat anda tinggal, menurut saya itu hanya argumen lemah yang dapat mereka gunakan untuk menyebabkan lebih banyak masalah," katanya.

Banyak dari rancangan UU Asap itu bukanlah hal baru dan merupakan revisi kembali dari aturan 2007.

Apa yang baru adalah pemberian kapasitas bagi petugas kotapraja untuk menjatuhkan denda dua kali.

Denda pertama adalah dari petugas kotapraja karena api yang disulut melanggar aturan asap.

Denda kedua dijatuhkan oleh Hakim Magistrat di Pengadilan Lokal yang bisa mengenakan denda hingga $AUD 1.600 ( Rp 17 juta) sebagai hukuman maksimal di pengadilan. Photo: Penghobi barbekyu Rowan Armitage ingin fokus dari UU Asap adalah pembakaran lahan di hutan. (ABC News: Leon Compton)

"Ada begitu banyak bentuk BBQ yang berhubungan dengan banyak budaya di Australia," kata Rowan Peterson.

"Itu tidak hanya akan memengaruhi rekan-rekan anda untuk berkumpul dan berbarbekyu di halaman belakang rumah, tapi aturan ini juga akan memengaruhi siapa saja yang berpotensi ingin memasak di luar."

Seorang anggota Masyarakat BBQ Tasmania juga mengatakan pihak berwenang harus "mengatasi sumber asap besar di kota mereka".

"Berapa banyak kerusakan yang dihasilkan oleh 500 alat BBQ pada hari Minggu sore dibandingkan dengan kebakaran hutan yang besar?" tanyanya.

Di media sosial sebagian besar penduduk menentang perubahan ini.

"Mereka bisa mendenda saya sesuka mereka, saya akan tetap melakukan BBQ berasap kecuali memang diberlakukan larangan melakukan pembakaran total," tulis warga Quinton Turner memposting di halaman Facebook ABC Hobart.Publik didesak untuk bersuara

Rancangan aturan telah dirilis oleh Otoritas Perlindungan Lingkungan Tasmania.

Direktur Otoritas Perlindungan Lingkungan, Wes Ford mengatakan aturan baru ini masih akan melalui proses uji publik dan masyarakat harus memberikan masukan jika mereka menentang BBQ dimasukan dalam aturan ini

Dia menjelaskan peraturan ini sendiri bertujuan untuk mengurangi asap di daerah pemukiman dan perkotaan.

"Rancangan peraturan ini tidak melarang apa pun, apa yang mereka coba lakukan adalah mengelola asap yang berasal dari kebakaran dan BBQ di mana asap benar-benar berdampak pada tetangga," katanya.

"Ini bukan soal tidak menjalani gaya hidup warga Australia, karena pada akhirnya kegiatan BBQ pasti akan menyebabkan asap."

"Ini berarti petugas kesehatan lingkungan dari pemerintah lokal dapat mengeluarkan pemberitahuan pelanggaran lingkungan, atau denda di tempat, daripada harus pergi ke pengadilan."

Di bawah revisi UU ini, petugas dewan akan dapat mengeluarkan denda sebesar $320 atau sekitar Rp 3,4 juta.

Masukan terhadap rancangan UU ini ditutup pada 17 Agustus mendatang.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bantu Korban Panggilkan Ambulans, Malah Dikejar Debt Collector

Berita Terkait