Asesmen Nasional Bukan Penentu Kelulusan, Untuk Apa Ikut Bimbel AN?

Selasa, 03 November 2020 – 17:50 WIB
Siswa belajar menghadapi Asesmen Nasional 2021. Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) mempertanyakan urgensi pelaksanaan asesmen nasional (AN) pada Maret 2021.

Selain asesmen nasional bukan penentu kelulusan, masih banyak masalah terkait Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang harusnya jadi perhatian utama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.

BACA JUGA: SMAN 8 Gelar Diskusi Bedah Asesmen Kompetensi Minimal dan Survei Karakter

"Mas Nadiem bilang ke publik tidak butuh persiapan khusus bagi sekolah, guru, siswa, dan orang tua dalam menghadapi AN atau AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) karena bukan penentu kelulusan siswa. Format dan kedudukan AN pun jauh berbeda dari Ujian Nasional (UN) masa sebelumnya," tutur Koordinator P2G Satriwan Salim di Jakarta, Selasa (3/11). 

Namun, P2G justu menemukan praktik-praktik bisnis yang dilakukan lembaga bimbingan belajar yang menjanjikan kiat sukses lulus AN. Bahkan oleh lembaga sekolah swasta tertentu.

BACA JUGA: Mas Nadiem Didesak Tunda Pelaksanaan Asesmen Nasional 2021

P2G menilai, Nadiem Makarim seperti membiarkan praktik bisnis pendidikan seperti itu terjadi.

Padahal secara regulasi, AN itu bukan penentu kelulusan siswa. Praktik penyelenggaraan AN bukan bertujuan untuk menilai-nilai siswa seperti UN dulu.

BACA JUGA: Setelah Uji Kompetensi, Segera Terbitkan NIP PPPK, Jangan Ada Alasan Lagi

"Namun, peluang bisnis dari sekolah (swasta) yang memang jualan AN ini laku di masyarakat yang belum paham secara utuh dan komprehensif tentang AN," terangnya. 

Bisnis model ini tentu memanfaatkan persepsi publik. baik guru, siswa, orang tua yang belum paham seutuhnya tentang AN, yang sejatinya berbeda dari UN.

Inilah yang P2G khawatirkan atas pelaksanaan AN nanti Maret 2021.

UN, kata Satriwan, dulu itu menjadi beban siswa, guru, dan ortu karena model-model bisnis pendidikan seperti di atas. Jualan janji lulus AN/UN untuk bisnis pendidikan. 

"Bahaya jika (kebijakan) pendidikan dibisniskan seperti ini. Praktik-praktik seperti ini menjadi faktor yang membuat pendidikan kita makin buruk, makin terjatuh," tegasnya. 

Siswa hanya dijadikan sebagai objek ujian. Orientasi pendidikan hanya kepada pengetahuan an sich.

Bagaimana cara agar siswa lulus ujian Asesmen Nasional dengan menjual praktik atau cara-cara pintas menjawab soal. 

Karakter makin dipinggirkan. Penguatan nilai-nilai karakter bukan lagi prioritas sekolah.

Prioritas sekolah lebih dominan pada bagaimana caranya agar sekolah mendapatkan nilai AN (dulu UN) yang tinggi. Sebab akan menjadi prestise sekolah sampai kepala daerah.

"Lagi-lagi siswa terbebani secara psikologis, bahkan dari segi ekonomis. Sebab ikut Program Bimbel lulus AN pastinya berbayar, yang harganya tidaklah murah," tandasnya. (esy/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler