Asia dan Dunia Peluang Besar Pasar Pertanian, Begini Langkah Mentan Tindaklanjuti Instruksi Presiden Jokowi

Jumat, 27 November 2020 – 23:10 WIB
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpol (SYL). Foto: Humas Kementan

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) memiliki program jangka panjang Gerakan Tiga Kali Ekspor (Geratieks).

Program ini sebagai langkah percepatan dan peningkatan ekspor nasional dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

BACA JUGA: Langkah Mentan Syahrul Diapresiasi Banyak Pihak

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) dalam beberapa kesempatanya menyampaikan pentingnya peranan pengusaha dan eksportir dalam membuka lapangan kerja secara luas.

"Kalau berbicara ekspor berarti kita bicara perluasan lapangan pekerjaan, karena itu menjadi konsen pemerintah agar manfaat ekspor ini bisa dirasakan langsung oleh masyarakat luas," ungkap Mentan SYL.

BACA JUGA: Rancang Penataan Regulasi Pertanian, Mentan Syahrul Utamakan Kepentingan Petani Kecil

Menurut Mentan SYL, pembukaan lapangan pekerjaan dinilai tepat mengingat sektor peternakan memiliki peluang besar.

Apalagi, lanjut dia, kalau semua proses ekspor dikemas dengan mengedepankan kualitas produk jual. "Peluang tersebut bisa dilihat dari hulu dan hilir,” tegasnya.

BACA JUGA: Jokowi Tegaskan Komitmen Indonesia untuk Bangun Ekonomi Tangguh dan Berkelanjutan

Ia menjelaskan, dalam hal ini eksportir harus bisa berkompetisi secara serius untuk mempersiapkan produk jualnya.

“Artinya kuantitasnya kita jaga tetapi kualitasnya juga tidak boleh kalah dengan negara lain," kata mantan gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) yang menjabat dua periode ini.

Sebagai strategi ekspor, lanjut dia, Kementan ke depan akan mendeteksi kebutuhan pasar dunia yang bisa dijadikan peluang Indonesia untuk mengekspor kebutuhan pasar global.

"Kami akan bekerja sama membangun peningkatan ekspor ini dengan Kementerian Perdagangan dan pengusaha-pengusaha di seluruh indonesia. Dari situlah kita bisa melihat peluang apa saja yang dibutuhkan oleh dunia," kata Mentan SYL.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa sektor pertanian merupakan kekuatan besar dalam membuka banyak lapangan kerja ke depan.

Terlebih, hampir setengah jumlah penduduk di dunia berada di kawasan Asia. Termasuk tiga negara besar seperti Tiongkok, India dan Indonesia.

Menurut Presiden, situasi tersebut secara tidak langsung telah membuka peluang besar terhadap akses pasar di Asia dan Dunia.

Karena itu, Ia berharap pengembangan sektor pangan dapat dilakukan secara cepat, terutama dalam merespons kemungkinan adanya krisis pangan akibat pandemi, serta melonjaknya populasi penduduk dunia yang berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan pangan.

"Kita harus melompat dengan cara-cara yang baru, dengan skala produksi yang lebih besar dengan peran sentral korporasi petani. Mengedepankan nilai tambah di tahap on farm maupun off farm, dan berbasis teknologi modern yang lebih efisien dan produktif," kata Presiden saat membuka Jakarta Food Security Summit (JFSS) ke-5 Tahun 2020 beberapa waktu lalu.

Presiden mengatakan, pandemi Covid 19 harusnya bisa dijadikan momentum tepat dalam membuka peluang pasar yang sangat besar.

Karena itu, para pelaku usaha di sektor pangan wajib meninggalkan paradigma lama dan melompat maju dengan cara-cara baru.

"Pengembangan sektor pangan membutuhkan cara-cara baru yang inovatif, yang meningkatkan efisiensi proses produksi, pangan berkualitas dengan harga terjangkau, memperbaiki daya dukung lingkungan dan yang menyejahterakan para petani," ungkapnya. (eno/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler