Ketika ibu dari Monica Wallabindi baru berusia dua tahun, dia diambil paksa dari rumahnya di pinggiran Kota Geraldton, Australia Barat.

Dia adalah salah satu anak dari 10 bersaudara, dan keluarganya tinggal di gubuk dari seng berlantai tanah, tanpa air bersih.

BACA JUGA: Suami-Istri Keturunan Asia Diduga Melakukan Perbudakan Modern di Australia

Namun terlepas dari situasi itu, ia dan saudara kandungnya menikmati menghabiskan waktu bersama, membuat dan bermain boneka.

Mereka menggunakan apa saja yang tersedia, boneka-boneka itu sering dibuat dari gelas tua atau botol bir dan dibungkus dengan kantong tepung bekas atau kain bekas.

BACA JUGA: Berapa Harga Tiket Konser Coldplay di Australia? Ada Calo Enggak?

Pada tanggal 4 November 1959, anak-anak tersebut diambil paksa dari rumah mereka, dan mainan kesayangan yang dibuat seadanya itu dibuang tanpa pikir panjang.

Monica Wallabindi adalah perempuan dari suku aborigin Wadandi Bibbulmun Noongar dari Perth dan telah tinggal di Canberra selama 20 tahun terakhir.

BACA JUGA: Remaja Ditangkap Setelah Diduga Tembak Sekolah di Perth

Dia seorang penyanyi yang menggunakan musiknya untuk berbagi cerita tentang keluarganya.

Baru-baru ini, dia menulis lagu Beer Bottle Baby, yang terinspirasi dari laporan lama pemerintah yang diberikan seorang perempuan aborigin kepadanya.

"Laporan pemerintah itu mendokumentasikan pengambilan paksa ibu saya dan saudara-saudaranya," katanya.

Dokumen tersebut merinci bagaimana 10 anak dipisahkan dan dikirim ke berbagai wilayah negara bagian itu.

Disebutkan juga bahwa mainan berharga mereka telah dibuang ke tempat sampah.

Monica merefleksikan pengalamannya belajar tentang sejarah keluarganya, dan mengatakan dia merasa lebih terdorong untuk berbagi cerita dan terlibat dalam percakapan dengan orang lain.

"Ini bukan soal membuat siapa pun merasa bersalah atau bertanggung jawab secara pribadi, atau menyalahkan orang-orang yang ada di sini sekarang," katanya.

"Ini hanya tentang belajar masa lalu kolektif kita di Australia. Untuk mengetahuinya, menurut saya, adalah tanggung jawab setiap orang Australia."Apa itu 'Hari Permintaan Maaf Nasional'?

Australia menandai 'National Sorry Day' pada tanggal 26 Mei setiap tahun, mengingat dan mengakui perlakuan buruk terhadap orang aborigin dan penduduk Kepulauan Selat Torres yang anak-anaknya secara paksa direnggut dari keluarga dan komunitas mereka, atau yang dikenal sebagai the Stolen Generation atau Generasi yang Dicuri.

Anak-anak aborigin itu diambil karena undang-undang dan kebijakan pemerintah pada saat itu, yang bertujuan mengasimilasi penduduk pribumi ke dalam komunitas non-pribumi.

Anak-anak itu diganti namanya, dipaksa berhenti berbicara bahasa ibu, dan diberi tahu bahwa orangtuanya tidak lagi menginginkan mereka.

Kebijakan tersebut berlaku hingga tahun 1970-an, dan banyak orang aborigin dan Kepulauan Selat Torres masih mencari orang tua dan saudara yang hilang hingga hari ini.

Hari Maaf Nasional ini pertama kali diadakan 25 tahun yang lalu, memperingati satu tahun laporan 'Membawa Mereka Pulang' diajukan ke parlemen federal.

Laporan tersebut menemukan bahwa pemindahan paksa anak-anak pribumi telah menyebabkan dampak seumur hidup pada para penyintas Generasi yang Dicuri dan keluarga mereka.

Sepuluh tahun kemudian, pada Februari 2008, perdana menteri saat itu Kevin Rudd membuat permintaan maaf resmi kepada orang aborigin dan penduduk Kepulauan Selat Torres; meminta maaf kepada Generasi yang Dicuri.

Monica Wallabindi mengatakan dia ingat berbicara dengan ibunya pada hari permintaan maaf nasional.

"Dia sangat senang hal itu terjadi," katanya.

"Itu tidak mengubah apa yang telah terjadi padanya, tetapi ada pengakuan nasional bahwa hal itu telah terjadi, mengakui rasa sakit dan trauma banyak orang."'Mengapa saya harus meminta maaf?'

Tapi Monica mengatakan, penduduk asli Australia dapat menjadi sasaran komentar dan pelecehan dari komunitas yang lebih luas.

Dia mengaku telah mendengar banyak orang bertanya: "Mengapa saya harus meminta maaf? Saya tidak ada hubungannya dengan hal itu, nenek moyang saya tidak ada hubungannya dengan itu", atau: "Itu sudah lama sekali, mengapa kita meminta maaf?"

"Ini soal mengakui bahwa hal itu terjadi," kata Monica Wallabindi.

"Apakah leluhur Anda berperan atau tidak, itu tidak relevan."

Mantan bintang liga rugby dan perempuan suku Wiradjuri, Katrina Fanning, mengatakan Hari Maaf Nasional adalah soal berempati.

Katrina mengatakan keluarganya juga mendapat komentar serupa tentang tidak ingin meminta maaf, tetapi mereka cenderung tidak bereaksi.

"Mereka hidup di masa di mana bereaksi akan membuat mereka ditangkap, dicekal dari kota, dicekal dari sekolah," katanya.

"Saya melihat semangat dalam diri mereka. Saya melihat sesuatu yang harus mereka pikul, dan beban yang harus mereka pikul untuk waktu yang sangat lama."

Maurice Walker berasal dari Woorabinda di Queensland, dan sekarang menginvestasikan waktunya kembali ke komunitas Pribumi di Canberra.

Dia mengatakan orang tua dan leluhurnya telah dipindahkan dari tanah air mereka sebelum mereka menetap di Queensland.

Maurice mengatakan menandai Hari Maaf Nasional itu penting karena itu berarti mengakui trauma dan kehilangan yang diciptakan melalui kebijakan pemerintah.

"Ini menciptakan kesan bahwa pemerintah mengakui kesalahan yang mereka lakukan," katanya.

Tetapi Walker mengatakan penting bagi warga Australia untuk melakukan percakapan terbuka dan memungkinkan orang untuk bertanya, daripada membiarkan desas-desus atau mitos terus menyebar.Masa lalu yang tak terlupakan

Monica Wallabindi setuju bahwa mempelajari dan mendidik orang lain tentang peristiwa penting di masa lalu, seperti Generasi yang Dicuri, penting untuk mengatasi kesalahpahaman atau persepsi negatif tentang Hari Maaf Nasional.

"Saya tidak bisa mendamaikan bagaimana Anda bisa hidup di tanah ini, tanah yang telah dirawat selama puluhan ribu tahun, dan setidaknya tidak melakukan tugas Anda untuk belajar tentang sejarah kita bersama," kata Monica.

Katrina Fanning mengatakan salah satu cara terbaik untuk maju adalah melalui pendidikan dan pengungkapan kebenaran.

"Saya kira bagi sebagian besar orang Australia, hingga sejarah terbaru kita, kurikulum sekolah kita, sistem pendidikan kita, bahkan norma sosial kita dan apa yang boleh dibicarakan, telah benar-benar menumpulkan kemampuan kita semua untuk belajar lebih banyak tentang apa yang terjadi di masa lalu kita dan dampak yang ditimbulkannya," katanya.

Maurice Walker mengatakan dia mengerti bahwa masyarakat saat ini tidak terlibat dalam tindakan masa lalu, tetapi belajar tentang masa lalu masih merupakan langkah penting.

"Ada hal-hal yang terjadi di masa lalu kita yang tak terlupakan, dan nenek moyang kita, orang tua kita, kakek nenek kita benar-benar mengalami trauma itu, dan itulah yang diwariskan kepada kita sebagai anak-anak," katanya.

Sebagai sebuah negara, Australia harus segera menentukan apakah Suara Pribumi untuk Parlemen harus dicantumkan dalam konstitusi.

Meski demikian, Maurice Walker mengatakan penting untuk dibahas bagaimana Suara Pribumi akan bekerja secara berbeda dari struktur lain di masa lalu, untuk memastikan keberhasilannya.

Artikel ini dirangkum oleh Hellena Souisa dari laporan ABC News.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dunia Hari Ini: Tanggal Sidang Donald Trump Ditetapkan

Berita Terkait