Baju Awan Sambut Indahnya Natal

Senin, 22 Desember 2014 – 23:08 WIB
SEPERTI AWAN: Baju Natal karya Elizabeth Andi dengan tema fantasi. Baju imut ini sesuai untuk menyambut hari yang kudus. (Dimas ALif/Jawa Pos)

jpnn.com - SURABAYA – Gumpalan awan putih nan halus selalu bertautan dengan imajinasi tentang hal yang empuk dan nyaman. Siapa pun seolah tidak bakal bisa menolak berbaring di atasnya. Fantasi itulah yang menjadi inspirasi segar busana anak karya Elizabeth Andi untuk perayaan Natal yang kudus.

”Saya coba hadirkan fantasi dalam baju anak. Tapi, tetap prioritasnya kenyamanan,” kata desainer baju anak itu. Fantasi tersebut dihadirkannya dalam tiga baju dengan warna-warna lembut nan cantik. Memang kenyamanan dan kehalusan adalah ’’standar wajib’’ baju anak. Aneka permainan warna, corak, detail, dan bahan harus membuat pemakainya nyaman.

BACA JUGA: Setahun Tak Hamil, Pasutri Wajib Periksa

Meski bertema fantasi, busana tersebut tetap terasa klasik dan manis. Sebab, desain yang timeless itu bakal sangat tepat dipakai si buah hati. Tidak harus membuat mereka berkesan dewasa, busana-busana yang tidak banyak bermain detail tersebut praktis membuat si buah hati bak putri kecil yang turun dari langit. ”Classic is forever. Itu yang jadi inspirasi saya membuatkan baju anak,” imbuhnya.

Puluhan meter kain soft tulle dan taburan bebatuan pada ball gown berhasil mewujudkan imajinasi Elizabeth tersebut. Salah satunya adalah gaun hijaumint panjang yang menjadi ikon tema fantasinya. Kesannya fresh, lembut, dan manis. Tidak tanggung-tanggung, perempuan yang awalnya hanya iseng di dunia fashion itu menghabiskan 50 meter kain tile untuk membentuk gugusan awan pada bawahan ball gown-nya. Bahan lace chantilly yang menonjolkan kesan klasik khas busana kerajaan juga ditampilkan.

BACA JUGA: Waspadai Nyeri Punggung Bawah

Sebelum dibentuk, kain terlebih dahulu digunting memanjang dengan lebar sekitar 7 sentimeter hingga puluhan helai. Tiap untaian kain kemudian dijahit dengan benang. ”Biar kelihatan menggumpal, saya pakai benang, lalu ditarik,” papar alumni Charles Sturt University, Sydney, Australia, itu.

Benang yang terjalin tersebut lantas ditarik dari bagian ujung sehingga kain menyatu dan menggumpal. Persis kapas. Itulah tantangan dalam membuat gaun edisi Natal tersebut. Bila benang terputus di tengah, prosesnya harus diulang. Dimulai dari memasukkan benang, kemudian kembali menariknya.

BACA JUGA: Waspada, Lupus Kemungkinan Besar Aktif saat Hamil

Setelah fix, kain yang berbentuk kapas lantas dirangkai hingga membentukskirt yang mengembang bak awan. Bagian top dijalin dengan kain lace yang kian menonjolkan kesan layaknya putri raja. Agar gaun itu terlihat hidup, lulusan fakultas bisnis tersebut membubuhkan taburan mutiara dan kristal swarovski pada kerah cheongsam. ”Jadinya seperti putri yang turun dari kayangan,” sambung istri Wong William itu.

Gaun kedua dibuat dengan corak putih alami berdetail bordiran bunga lili. Pola cantik tersebut kemudian digunting dan ditempelkan secara acak pada bagian bawah gaun. Menurut dia, bordiran handmade itu sengaja tidak dibordir langsung ke gaun. ”Itu supaya saya bebas taruh di tempat yang saya mau. Jadinya lebih natural,” sambung desainer yang baru lima tahun terjun di duniafashion itu.

Sementara itu, baju ketiga dibuat dengan tampilan lebih girly khas anak-anak. Gaun yang juga berbahan tile tersebut dibentuk dengan mini skirtmengembang. Persis seorang balerina.

Baginya, desain-desain klasik itu lebih tahan lama sehingga tetap mengedepankan cutting sederhana. Namun, desain tersebut tetap harus diimbangi detail atau material yang unik. (bir/c6/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Giok Wonogiren, Pamornya tak Kalah Bacan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler