Baku Tembak di Pegunungan, Satu Prajurit TNI Gugur

Rabu, 21 Desember 2016 – 11:20 WIB
Prajurit TNI. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com - POSO – Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) ternyata masih memiliki kekuatan, meski sejumlah pentolannya telah dilumpuhkan.

Terbukti, dua anggota TNI menjadi korban saat kontak tembak dengan kelompok ini. Satu anggota TNI, atas nama Pratu Yusuf Baharuddin gugur dalam tugasnya.

BACA JUGA: Pernah jadi Ajudan Presiden Soekarno, Kini Nasibnya...

Baku tembak antara pasukan Nanggala 8 Satuan Tugas (Satgas) Tinombala 2016 dengan kelompok sipil bersenjata pimpinan Ali Kalora terjadi di wilayah pegunungan Matangi Dusun Sipatuo, Desa Kilo, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Selasa (20/12) kemarin.

Kontak tembak pertamakali pecah sekitar pukul 11.48 wita. Dua anggota TNI, yakni Pratu Baharuddin dan Pratu Imam Hanafi terkena peluru yang dimuntahkan dari senjata kelompok MIT, sekitar pukul 12.15 wita.

BACA JUGA: Sambut Natal, TNI AL Wilayah Surabaya Gelar Karya Bhakti

Lokasi baku tembak berada di sektor 2 (dua) wilayah Sungai berjarak sekitar 6 KM dari perkampungan warga.

Baku tembak bermula saat pasukan Naggala Satgas mendapatkan jejak langkah manusia di pinggiran sungai Matangi, sekitar pukul 08.15 wita.

BACA JUGA: Hati-Hati, Ada Pakan Ternak Kedaluwarsa Dijadikan Jajanan Anak

Jejak langkah yang dicurigai sebagai milik kelompok sipil bersenjata itu kemudian ditelusuri hingga masuk menembus dalam hutan.

“Saat menelusuri jejak langkah kaki itulah pasukan Nanggala 8 ditembaki. Maka terjadilah kontak tembak,” sebut sumber pada wartawan.

Dari sumber informasi tersebut juga diperoleh keterangan jika kelompok sipil bersenjata yang menjadi DPO kasus terorisme ini sudah diendus keberadaannya di wilayah pegunungan Matangi sejak tiga hari terakhir.

“Jejaknya sudah dicium sekitar tiga hari lalu. Tapi mereka (DPO) baru ditemukan hari ini (kemarin, red),” tambah sumber.

Pratu Yusuf terkena tembak di dada sebelah kanan, sementara Pratu Imam Hanafi terkena tembak di bagian punggung.

Usai menembak, anggota kelompok MIT melarikan diri. Rekan-rekan dari kedua korban pun, melakukan pertolongan pertama kepada Yusuf dan Imam.

Evakuasi korban sendiri sempat dicoba dengan menggunakan helicopter, namun dikarenakan cuaca buruk, heli gagal mendarat di lokasi yang sudah terlebih dahulu disterilkan tim dari Bravo 9.

Kedua korban pun akhirnya dievakuasi melalui jalur darat, yang memakan waktu cukup lama akibat medan yang berat.

Malang bagi Pratu Yusuf, akhirnya meninggal dalam perjalanan sekitar pukul 16.10 wita. Sedangkan pratu Hanafi, masih bisa diselamatkan dan menjalani perawatan di RSUD Poso.

Pantauan di lapangan, sebuah helikopter milik TNI yang diperbantukan dalam operasi Tinombala sudah stand by di lapangan sepak bola Dusun Sipatuo.

Seorang anggota TNI menyebut, helikopter berada di Dusun Sipatuo untuk digunakan mengangkut korban luka tembak yakni Pratu Yusuf.

Dari informasi yang didapat, Nanggala merupakan sandi bagi pasukan Kopassus, yang turut diperbantukan dalam Operasi Tinombala.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Operasi Tinombala, AKBP Hari Suprapto membenarkan, terjadinya kontak tembak tersebut. “Pengejaran terhadap para pelaku masih terus dilakukan anggota Satgas Tinombala,” terang Hari.

Kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, membuat evakuasi yang semula direncanakan melalui udara batal, sehingga evakuasi menempuh jalur darat dengan menggunakan sepeda motor hingga ke perkampungan yang bisa dilalui kendaraan roda empat.

Ditanya asal satuan dari Yusuf maupun Imam Hanafi, Hari mengaku masih belum mendapat laporan lebih lanjut.

Korban Imam Hanafi sendiri, sekitar pukul 21.00 wita tiba di RSUD Poso, dan langsung menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru. Sedangkan jenazah dari Yusuf Baharuddin, rencananya akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu. (bud/agg)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tangkap Muncikari Ayam Kampus, Polisi Sita 3 Dus Kondom


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler