"Balas Dendam" untuk Kalselteng

Senin, 28 Maret 2011 – 02:52 WIB

SAYA merasa berhutang besar kepada Kalimantan Selatan dan Kalimantan TengahDua provinsi yang menjadi satu sistem kelistrikan itu termasuk yang kurang sukses dalam menjalankan program mengatasi pemadaman bergilir

BACA JUGA: Tekan Pencurian Listrik dengan Sistem Tender



Penyebabnya adalah melesetnya janji pengusaha yang memenangkan tender pengadaan pembangkit di Kalsel-Kalteng (Kalselteng)
Bahkan, pengusaha tersebut akhirnya gagal memenuhi kontraknya

BACA JUGA: Dengan BBM, Bangun Jalan Tol

PLN kehilangan waktu yang sangat mahal
PLN harus memperbaiki diri dalam kaitannya dengan penilaian terhadap bonafide tidaknya perusahaan yang menjadi pemasok.

Sebagai penebusan atas kekeliruan itu, PLN menetapkan empat langkah sekaligus untuk Kalsel dan Kalteng

BACA JUGA: Pembunuhan Berencana Bernilai Triliunan Rupiah Setahun

Ini saya kemukakan dalam "rapat darurat" dengan para pimpinan PLN di Palangkaraya Sabtu pagi laluSaya menggunakan istilah "rapat darurat" karena rapatnya saya adakan di halaman Stadion Toeah Pahoe, Palangkaraya, jam 06.30Yakni setelah saya bersama teman-teman PLN jalan pagi mengelilingi stadion itu.
 
Kebetulan di halaman stadion tersebut ada hamparan pasir yang sangat rata karena baru saja terkena hujan malam sebelumnyaEnak sekali pasir itu untuk menuliskan angka-angka kebutuhan listrik di Kalsel-KaltengDi situlah kami menganalisis kebutuhan listrik dan bagaimana mengatasinya.
 
Misalnya, untuk PalangkarayaSelama ini hanya punya pembangkit 16 MWDalam rapat darurat itu, kami memutuskan untuk menambah 22 MW lagiKata-kata "menambah" itu sebenarnya kurang tepat karena justru lebih besar daripada pembangkit  yang sudah adaSampit yang semula direncanakan hanya akan bertambah 2,5 MW kami ubah untuk sekalian ditambah 10 MW.
 
Dengan demikian, sebelum hari kemerdekaan nanti Palangkaraya harus merdeka dari kekurangan listrik.Termasuk hotel dan mal yang selama ini masih diminta untuk menghidupkan genset sendiri-sendiri

Dengan program ini, tidak perlu lagi seperti ituHotel, kalau harus memiliki pembangkit sendiri, akan sangat menderitaBisa-bisa 25 persen hasil jualan kamarnya habis hanya untuk membiayai listrikKalau keadaan seperti itu dibiarkan berlangsung terus, iklim investasi di Kalsel-Kalteng sulit bersaing dengan Jawa.
 
Perbaikan juga akan dilakukan untuk dua daerah  yang selama ini kualitas listriknya jelekTegangannya sangat rendahTiga daerah itu adalah Kasongan daerah Tumbang Samba, Sampit daerah Parenggean, dan Panggkalan Bun daerah Pangkalan Banteng
Penyebab buruknya tegangan di tiga daerah tersebut adalah lokasinya yang terlalu jauh dari gardu induk atau dari pusat pembangkitJarak dari gardu induk Palangkaraya ke Kasongan Tumbang Sambah  165  km, dari Pembangkit Sampit ke Parenggean 252 km, dan dari Pembangkit Pangkalan Bun ke Pangkalan Bangteng Asem Baru 268 km

Tidak mustahil kalau listrik yang dikirim dari gardu induk atau pembangkit sudah banyak "hilang" di perjalananUntuk itu, di tengah-tengah jarak tersebut akan "diisi" dengan pembangkit skala 2 MW untuk memperbaiki tegangan tersebut.

Perbaikan juga akan dilakukan di BuntokBeberapa kawasan yang selama ini dilayani dari gardu induk  yang terlalu jauh bakal dialihkan ke sistem BuntokDemikian juga di Muara Teweh, penyulang yang terlalu panjang akan diawasi secara khusus

Sabtu lalu saya memang melakukan perjalanan darat dari Muara Teweh, Buntok, hingga PalangkarayaMeski pinggang serasa dikocok di sepanjang perjalanan, banyak juga ide keluar untuk memperbaiki sistem kelistrikan di wilayah itu.

Empat langkah sebagai "penebusan" dosa tersebut adalah, pertama, mengadakan pembangkit secara cepat yang harus sudah "menyala"Dalam empat bulan ke depan sebelum 17 Agustus 2011, seluruh Kalsel-Kalteng harus merdeka dari kekurangan pembangkitKhusus untuk Kalsel masih akan diputuskan minggu ini karena keperluannya jauh lebih besar

Meski begitu, penambahan tersebut diperlakukan sama, yakni harus sudah beres sebelum 17 Agustus 2011Dengan demikian, para pengusaha  mal dan hotel di Kalsel juga diperlakukan sama dengan di Kalteng.

Kedua, seluruh daftar tunggu sudah harus habis sebelum 30 Mei 2011Itu berarti rumah-rumah  yang selama ini meminta listrik dan belum terlayani sudah harus dilayaniKecuali yang rumahnya memang sangat jauh dari jaringan listrik.

Ketiga, keperluan listrik di beban puncak pun akan dipenuhi  PLNDengan begitu, tidak akan ada lagi permintaan dari  PLN agar mal dan hotel harus menyalakan genset sendiriPermintaan seperti itu hanya akan dilakukan sesekali kalau keadaannya daruratMisalnya, ada bencana yang mengakibatkan pembangkit PLN rusakItu pun PLN akan memberikan biaya kemahalan akibat menyalakan genset sendiri tersebutItu sudah harus terjadi sebelum 17 Agustus 2011.
 
Keempat, mencukupi jangka panjang listrik di Kalsel-KaltengMemang sekarang sudah ada dua proyek PLTUAsam-Asam 2 x 65 MW dan Pulang Pisau 2 x 65 MWDua-duanya sudah dalam pengerjaanMinggu lalu kami putuskan untuk mempercepat tambahan dua lagiAsam-Asam akan kami tambah pembangkit yang lebih besar lagi, 2 x 100 MW, dan proyek Sampit 2 x 25 MW juga dipercepat.
 
Selama proyek-proyek besar tersebut belum jadi, listrik di Kalsel-Kalteng bukan berarti tidak cukupSeperti yang saya sebutkan, dengan penambahan secara besar-besaran yang akan terjadi sebelum 17 Agustus  2011, listrik di dua provinsi tersebut sudah sangat cukupCadangannya juga sudah adaHanya, semua itu dilakukan PLN dengan harga energi  yang sangat mahalItu berarti PLN bakal rugi sangat besar.
 
Nah, kalau proyek-proyek besar tersebut selesai, harga energi yang didapat PLN akan lebih murahSebab, pembangkit-pembangkit besar tersebut menggunakan batu baraSedangkan pembangkit  yang bakal kami adakan dalam waktu dekat ini menggunakan BBM yang sangat mahal.
 
Persoalan lainnya lagi adalah byar-pet atau mati lampuKalau masalah-masalah pembangkit tersebut belum terselesaikan, target di bidang mati lampu masih sulit dirumuskan.
 
Misalnya, pada 2009, mati lampu terjadi sebanyak 150 kali per pelanggan per tahunTahun lalu sudah sangat membaik menjadi  50 kali per pelanggan per tahunTahun ini secara nasional sebenarnya sudah kami tetapkan harus turun lagi menjadi 9 kali per pelanggan per tahun rata-rata.
 
Kalau target jumlah mati lampu itu tercapai, kita sebenarnya sudah bisa mengalahkan Malaysia dari segi jumlah terjadinya mati lampuTanda-tanda ke arah sana sudah terlihatDi Palangkaraya, misalnya, di antara 418 unit gardu trafo yang ada, yang dulu sering rusak, selama tiga bulan ini baru dua unit yang rusakItu terjadi gara-gara banyak trafo atau gardu  yang kelebihan beban.
 
Karena itu, jumlah trafo juga akan terus ditambahTahun lalu saja PLN membeli lebih dari 10.000 unit trafo distribusiTahun ini PLN akan membeli lagi 15.000 unit trafo sejenisTentu yang sebagian digunakan untuk Kalsel-Kalteng juga

Kalau bebang trafo-trafo tahun ini berhasil diseimbangkan, persoalan di Kalsel-Kalteng tinggal ini: mengatasi bagaimana agar kabel-kabel penyulang yang  melewati hutan-hutan itu tidak terganggu oleh pohon yang tumbangItulah penyebab mati lampu terbesar di Kalsel-Kalteng tahun depan(*)


Dahlan Iskan
  Dirut PLN

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bangun Apa Saja dengan Modal Hemat Rp 2 Triliun


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler