Bamsoet: Bela Negara, Harga Mati bagi Kita Semua

Kamis, 11 November 2021 – 21:11 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo saat menjadi pembicara kunci dalam seminar nasional di Gedung Nusantara IV, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (11/11). Foto: Humas MPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Ketua MPR Bambang Soesatyo menegaskan setiap warga negara berhak dan wajib dalam upaya pembelaan negara.

Selain itu, setiap warga negara juga berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.

BACA JUGA: Bamsoet Minta Pemerintah Fokus Menekan Lonjakan Kasus Covid-19 di 155 Kabupaten/Kota

“Kita bisa menjaga Indonesia tetap bersatu dengan melakukan bela negara. Bela negara adalah harga mati bagi kita semua,” tegas Bamsoet saat menjadi pembicara kunci dalam seminar nasional bertema “Peran Empat Pilar MPR RI dan Kesadaran Bela Negara dalam Upaya Mendukung Pemerintah Menangani Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional” di Gedung Nusantara IV, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (11/11).

Seminar nasional kerja sama MPR RI dengan Universitas Trisakti dihadiri Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Trisakti Dr Bambang Sucondro dan narasumber Wawan Hari Purwanto (Deputi VII BIN), Dahnil Anzar Simanjuntak (Juru bicara Menteri Pertahanan), Rivai Kusumanegara, (Ketua IKA Fakultas Hukum Universitas Trisakti), dan Nata Irawan (Analis Kebijakan Ahli Utama Bidang Pemerintahan Desa Kemendagri).

BACA JUGA: Bamsoet Ungkap Praktik Kerja Kotor Dilakukan Oknum PMI di Bahrain, Memalukan

Bamsoet mengungkapkan bahwa sebagai bangsa yang besar kita harus menjaga nilai-nilai kebangsaan dan mempertebal kecintaan kepada bangsa.

“Tugas kita adalah menjaga apa yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa agar Indonesia tetap bersatu dan tidak terpecah-pecah,” ujarnya.

BACA JUGA: Sabam Sirait Mantan Sekjen Partai Kristen, tetapi Getol Bela Negara Islam Korban Serangan AS

Menurutnya, Indonesia menghadap ancaman yang nyata dengan beragam cara dan motifnya.

Dia berharap jangan sampai bangsa ini kehilangan satu pun wilayah di NKRI.

"Kita pernah kehilangan dua pulau, yaitu Sipadan dan Ligitan. Jangan sampai kita kehilangan wilayah-wilayah lain termasuk Papua. Untuk menjaga Indonesia tetap bersatu kita bisa melakukan dengan bela negara. Karena itu, bela negara adalah harga mati,” tegasnya.

Bamsoet menjelaskan bahwa Empat Pilar MPR dan bela negara adalah dua elemen senyawa yang saling bertautan dan menguatkan dalam konsepsi membangun wawasan kebangsaan.

UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara bertitik tolak pada falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia untuk menjamin keutuhan dan tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Dia menegaskan Pancasila merupakan dasar negara dan landasan ideologi, falsafah dan sumber etika moral memberikan nafas sekaligus arah tujuan dalam upaya bela negara.

"Sementara UUD 1945 sebagai landasan konstitusional kenegaraan menegaskan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib dalam upaya pembelaan negara dan tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara,” jelasnya.

Bamsoet menyampaikan landasan paling fundamental dan nyata dari konsep bela negara adalah perasaan senasib dan sepenanggungan yang dijiwai semangat persatuan dan kesatuan di tengah realita keberagaman sebagai sebuah bangsa.

"Inilah esensi semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” tandasnya.

Bamsoet mengharapkan seminar nasional ini dapat merekonstruksi kesadaran kolektif kita bahwa aktualisasi nilai-nilai Empat Pilar MPR dan implementasi bela negara memiliki kontribusi penting dalam upaya penanggulangan berbagai persoalan kebangsaan, termasuk persoalan yang kita hadapi hari ini, yaitu pandemi Covid-19 beserta dampak yang menyertainya.

“Pertanyaannya apakah nilai-nilai kebangsaan yang diamanatkan dalam Empat Pilar MPR dan semangat bela negara masih dapat kita jadikan tumpuan untuk menghadapi masa-masa sulit dan keprihatinan akibat dampak pandemi,” tanya Bamsoet.

Menjawab pertanyaan itu, dia meyakini bahwa nilai-nilai Empat Pilar MPR dan semangat bela negara akan mampu menjadi tumpuan bagi tumbuhnya jiwa solidaritas dalam mempererat ikatan soliditas kebangsaan kita.

Sebagai buktinya, Bamsoet menyebutkan, data The World Giving Index (WGI) 2021 diterbitkan Charities Aid Foundation, di masa pandemi Covid-19 yang mempengaruhi 8 miliar penduduk dunia.

Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia, dengan tingkat sukarelawan negara lebih banyak tiga kali dari rata-rata global.

John Hopskin University juga menilai bahwa penanganan pandemi Covid di Indonesia merupakan salah satu yang terbaik di dunia,” katanya. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler