Bamsoet Ungkap Data tentang Kondisi Pemuda Indonesia, Ini Harus Jadi Perhatian

Senin, 26 Oktober 2020 – 16:46 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo saat Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Pergerakan Melompat Maju di Jakarta, Senin (26/10). Foto MPR RI for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan mengenang peran pemuda di masa perjuangan kemerdekaan bukan berarti tidak mau beranjak dari romantisme masa lalu.

Menurutnya, sejarah adalah media introspeksi diri untuk belajar dari pendahulu. Belajar tentang keteguhan hati dan kegigihan semangat juang, jiwa patriotisme dan nasionalisme, serta cinta Tanah Air dengan segala pengorbanannya.

BACA JUGA: Peringati Hari Sumpah Pemuda, Bamsoet: Era Kolaborasi Harus Dikedepankan

"Dengan segala keterbatasan, salah satu senjata pamungkas yang mereka miliki adalah tekad baja untuk membela martabat bangsa. Banyak di antara mereka gugur di usia muda sebagai kusuma bangsa," kata Bamsoet saat Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Pergerakan Melompat Maju, secara virtual di Jakarta, Senin (26/10).

Sejumlah tokoh pemuda masa lalu yang gugur di usia muda itu menurut Bamsoet, seperti Jenderal Sudirman yang teguh berjuang dalam masa sakitnya, gugur di usia 34 tahun. Robert Wolter Monginsidi gugur di usia 24 tahun, serta Martha Christina Tiahahu gugur di usia masih sangat belia, 17 tahun.

BACA JUGA: Oknum Perwira Polisi Pengkhianat Bangsa, Reza Sebut Motif Kerakusan

Mantan ketua DPR itu kemudian menyodorkan berbagai potret generasi muda Indonesia masa kini. Dari aspek demografi mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2019 jumlah pemuda sekitar 64,19 juta jiwa atau seperempat dari total jumlah penduduk.

Dari aspek pendidikan, angka melek huruf berupa kemampuan membaca dan menulis pemuda mencapai 99,66 persen. Artinya masih ada sekitar 0,34 persen pemuda masih buta huruf.

BACA JUGA: Moeldoko Tidak Mau, Sekarang Tinggal Agung Firman Sampurna dan Ari Wibowo

"Meskipun cukup kecil, namun memprihatinkan, karena di tengah upaya mengejar modernitas zaman yang memasuki era Revolusi Industri 4.0 dan era masyarakat 5.0, masih ada sebagian kecil pemuda bangsa yang tertinggal jauh di belakang," ungkap Waketum Partai Golkar ini.

Sementara itu, dari aspek ketenagakerjaan ada sebanyak 61,72 persen pemuda yang bekerja mempunyai pendidikan terakhir sekolah menengah ke atas, dan sekitar 13,07 persen pemuda adalah pengangguran.

Data yang cukup mengejutkan adalah dari aspek sosial ekonomi, ternyata 44,47 persen pemuda tinggal di rumah tidak layak huni. Kondisi ini harus mendapatkan perhatian khusus dari segenap pemangku kepentingan.

Secara umum, kata Waketum KADIN Indonesia ini, tolok ukur memotret wajah pemuda juga dapat dirujuk dari angka Indeks Pembangunan Pemuda (IPP), yang merepresentasikan berbagai capaian kepemudaan pada lima bidang dasar; pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan dan kesempatan kerja, partisipasi dan kepemimpinan, serta gender dan diskriminasi.

Berdasarkan data yang ada, kata kepala Badan Bela Negara FKPPI ini, IPP Nasional selalu mengalami pasang surut. Tahun 2015, angkanya sebesar 47,33 persen. Pada 2016 meningkat menjadi 50,17 persen, dan turun ke angka 48 persen pada 2017. Datanya kembali naik 50,17 persen di 2018.

Dinamika tersebut menunjukkan bahwa IPP Nasional masih berada pada level menengah. "Berbagai data kepemudaan tadi sangat penting, karena saat ini Indonesia telah menginjakkan kaki pada tahap awal bonus demografi," lanjut Bamsoet.

Dia menyebutkan, berdasarkan perkiraan BPS, rentang waktu antara tahun 2020 hingga 2035 adalah periode di mana jumlah penduduk usia produktif akan berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, angkanya mencapai 68 sampai 75 persen dari total jumlah penduduk.

Pertanyaanya, kata Waketum Pemuda Pancasila ini, apakah bonus demografi itu dapat dioptimalkan, atau justru menjadi sebuah kemubaziran? Hal itu menurutnya akan sangat tergantung pada kemampuan generasi muda beradaptasi dan meningkatkan kompetensi diri. Terlebih bangsa Indonesia telah memiliki Visi Indonesia Emas 2045, yang menggariskan empat pilar utama.

Keempat pilar itu adalah pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi; pembangunan ekonomi yang berkelanjutan; pemerataan pembangunan; serta pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

Wakil Ketua Umum SOKSI ini menjelaskan, ada beberapa poin penting yang tersirat dalam rumusan pilar-pilar utama tersebut. Pertama, visi ini menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek pembangunan, yang mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana meraih keberhasilan.

Kedua, visi itu hanya bisa diwujudkan melalui proses pembangunan. Ketiga, bahwa pembangunan adalah proses yang berkelanjutan, terus menerus, tidak berhenti pada satu titik pencapaian.

Keempat, upaya mewujudkannya membutuhkan dukungan lingkungan yang kondusif, antara lain ketahanan nasional yang tangguh dan stabil, serta perbaikan tata kelola pemerintahan sebagai sistem penopang.

"Dari perspektif demografi, dengan komposisi jumlah pemuda yang cukup banyak dan signifikan, generasi muda mempunyai peran vital mewujudkan cipta kondisi yang kondusif demi keberlangsungan pembangunan nasional," pungkas Bamsoet.(jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler