Bang Ara: Belajarlah dari Jokowi dan Prabowo

Sabtu, 10 Desember 2016 – 15:05 WIB
Joko Widodo dan Maruarar Sirait dalam Konser Salam Dua Jari di Gelora Bung Karno jelang Pemilu Presiden 2014. Foto: dokumen JPNN.Com

jpnn.com - JAKARTA - Politikus muda PDI Perjuangan Maruarar Sirait menyatakan bahwa berpolitik berarti menyangkut keyakinan hati. Karenanya, berpolitik bukan semata untuk mencapai tujuan, tapi juga harus punya landasan ideologi.

Maruarara mengatakan hal itu saat menjadi pembicara pada  Sekolah Pemimpin Nasional (SPN) yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Jakarta, Jumat malam (9/12). Hadir pula sebagai pembicara antara lain politikus Golkar M Misbakhun dan serta  M Qodari selaku ketua panitia SPN ICMI.

BACA JUGA: Bukan Perkara Mudah Kembali ke UUD 1945 Asli

“Seorang politisi itu harus punya landasan ideologi, punya prinsip yang dipegang teguh, serta harus berkarakter dan konsisten," ujar Maruarar dalam diskusi bertema Menjadi Anggota Legistaltif yang Handal dan Berkualitas itu.

Anggota Komisi XI DPR itu menegaskan, politikus juga harus memiliki kekuatan di akar rumput dan mau  mendengarkan aspirasi rakyat, lalu memperjuangkannya dalam kerangka konstitusi. Karenanya Ara -panggilan akrab untuk Maruarar- menegaskan, berpolitik bukanlah hal mudah terutama untuk bersikap konsisten.

BACA JUGA: Mahyudin: Ibu Rachmawati Minta UUD 1945 Dikembalikan ke Naskah Asli

Lebih lanjut Ara mengatakan, ada dua tipe politikus. Yang pertama adalah juru bicara partai. Tugasnya menyampaikan keputusan partai kepada publik.

Sedangkan yang kedua kedua adalah politikus yang mewarnai dan memengaruhi keputusan partai. Sering kali, katanya, politikus punya sikap atau pandangan yang berbeda dengan keputusan partai.

BACA JUGA: Pancasila Hanya Bisa Diubah dengan Cara Makar

“Tentu hal ini tak mudah bagi seorang politisi, sehingga butuh solusi tepat mengatasi persoalan ini,” tegasnya.

Berdasar pengalaman Ara selama berpolitik, pelajaran penting yang dipetik adalah berjuang demi kebenaran dan keadilan meski itu bukan hal mudah. Selain itu, politikus harus menjauhi dendam.

Ara yang juga memimpin organisasi Taruna Merah Putih itu lantas mencontohkan sosok Nelson Mandela yang pernah memimpin Afrika Selatan. Mandela bahkan bisa menjadi tokoh dunia karena tak mau membalas dendam pada kelompok penguasa kulit putih yang menzaliminya.

"Luar biasanya, setelah menjadi Presiden, Mandela tak membalas dendam. Dia justru mengampuni dan merangkul rakyat kulit putih. Beliau jadi legend, jadi role model bagaimana seorang pemimpin politik besar itu hadir," ulasnya.

Untuk konteks Indonesia, Ara menyebut sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Meski Jokowi dan Prabowo bersaing keras di Pilpres 2014, namun keduanya tetap menjalin persahabatan.

Terlebih bila sudah menyangkut kepentingan negara, kata Ara, baik Jokowi maupun Prabowo menjadi bersatu. "Jika ingin menjadi politisi yang handal, belajarlah dari kedua tokoh bangsa itu," katanya.(rmo/ara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lebih Aman Sidang Ahok Dipindahkan, Jangan Nanti Hakim Dikejar Massa


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler