Bangkitkan Tokoh Pahlawan Untuk Kalahkan Upin Ipin

Senin, 26 Agustus 2013 – 13:01 WIB
Sarjono Sutrisno. Foto: Ricardo/JPNN

jpnn.com - Dalam waktu kurang dari 6 tahun, Sarjono Sutrisno mulai menjadi pembicaraan di kalangan sineas film tanah air. Tidak hanya usianya yang masih terbilang muda untuk seorang eksekutif produser, Sarjono yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT Skylar Picture ini juga melahirkan banyak karya sebagai warisan kebanggaan untuk anak-anak Indonesia.

Laporan: Afni Zulkifli-Jakarta

BACA JUGA: Halal Fest, Festival Makanan Halal Pertama dan Terbesar di California, AS

Di usianya yang baru menginjak 37 tahun, Sarjono Sutrisno seolah sedang berada di puncak kreatifitas. Di tengah kesibukan memimpin bisnis keluarga di perusahaan berskala internasional, Sarjono tetap konsisten melahirkan pemikiran-pemikiran besar melalui karya-karya seninya.

Ia mulai mendirikan satu persatu perusahaan media, yang sebagian besar namanya diambil dari nama putra dan putri kesayangannya, Jaythaneal Skylar Sutrisno (6 tahun) dan Jadrianna Aletta Sutrisno (3 tahun). Beberapa perusahaan media tersebut, diantaranya adalah Aletta Pictures, Aletta Concerts Skylar TV, Stromotion, D’Color Films, Trilogy Live, Skylar Comics, dan Aletta Int Talent, yang tergabung dalam induk perusahaan bernama Stro World.

BACA JUGA: Berkarya Agar Film Indonesia tak Diremehkan Dunia

Rasa kasih sayang pada dua anaknya ini, diwujudkan nyata dalam karya-karya perusahaan bisnis medianya. Melalui PT Skylar Comic, Sarjono sudah memproduksi komik dengan karakter superhero bernama Volt. Komik yang terinspirasi dari masih banyaknya rumah rakyat miskin di Indonesia yang tidak dialiri listrik ini, tak lama lagi akan diangkat dalam sebuah film layar lebar.

Bila Volt didedikasikannya untuk sang putra, maka untuk putrinya, Sarjono meluncurkan komik berjudul Princess. Sama dengan Volt, komik Princess ini juga akan diangkat dalam versi film layar lebar. Keduanya nanti akan dimunculkan sebagai tokoh pahlawan asli Indonesia.

BACA JUGA: Edan, Jalan Mulus Antar-Kota Khusus untuk Sepeda

“Saya merasa punya tanggungjawab membuat film yang layak ditonton anak-anak, karena saat ini terasa langka sekali mencari tontontan menarik dan mendidik buat anak-anak. Tidak hanya untuk dua anak saya, tapi juga untuk jutaan anak Indonesia lainnya,” kata Sarjono menjawab soal ketertarikannya mengangkat film layar lebar dari cerita komik.

Khusus untuk Volt, nantinya kata Sarjono, dalam bagian kisahnya akan ‘dibangkitkan’ kembali para superhero yang mewakili 33 provinsi di Indonesia. Tujuannya agar film layar lebar versi superhero ini mengingatkan kembali anak-anak Indonesia tentang betapa kayanya negeri ini. Seluruh pembuatan film layar lebar yang diangkat dari kisak komik ini, akan dibuat dengan spesial efek khusus layaknya film animasi kelas dunia.

“Masa kita kalah dengan negara tetangga yang bisa dikenal dunia lewat kartun Upin Ipin-nya. Padahal sumber daya dan inspirasi cerita, jauh lebih kaya Indonesia,” kata Sarjono membandingkan.

Keseriusannya dalam berkarya dengan kualitas khas ‘Hollywood’, kini mulai dilirik banyak pihak. Salah satu apresiasi diberikan oleh Ed Payne, seorang editor senior kantor berita internasional ternama, CNN.

Saat dimintai tanggapannya tentang sosok Sarjono, Ed Payne melalui surat elektroniknya memuji keinginan besar Sarjono yang ingin menghidupkan pahlawan super asli Indonesia.

“Sarjono menunjukan keinginan besarnya menghidupkan kembali sejarah Indonesia yang begitu kaya, dalam bentuk karya seni sebuah film. Bagi saya ia sedang memberi sebuah hadiah terbaik bagi generasi di negerinya, yang akan semakin membuat Indonesia kaya,” puji Payne.

Segala pujian ini tidak lantas membuat Sarjono merasa tersanjung. Justru menurutnya masih banyak tantangan ke depan, karena menurutnya industri ini dinilai padat karya dan bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Sarjono menilai tantangan industri film tanah air, tidak datang dari kualitas pemain atau pun kru film. Justru tantangan itu datang dari semakin menurunnya minat, kecintaan dan rasa bangga masyarakat menonton hasil karya anak bangsanya sendiri. Akibatnya berdampak pada kebanyakan hasil kerja eksekutif produser yang membuat film dengan prinsip asal jadi.

“Penting untuk membangkitkan kembali rasa bangga menonton film produksi kita sendiri. Dari rasa bangga dan memiliki itu, baru kita bisa menunjukan jati diri sebagai Indonesia asli,” ujar Sarjono menyampaikan harapan.(TAMAT)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Capai Puncak 3.700 Meter, Tertinggi di Ajang Balap Dunia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler