Bangun Pertanian Organik, Kabupaten Ciamis Bidik Petani Milenial

Selasa, 07 Desember 2021 – 10:49 WIB
Bangun pertanian organik, Kabupaten Ciamis bidik petani milenial. Foto: Pemkab Ciamis

jpnn.com, CIAMIS - Pembangunan pertanian organik di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meningkat pesat sejak adanya program Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP).

Salah satunya dengan keberhasilan Kelompok Tani Parikesit mengantongi sertifikat padi organik dari Inofice (Indonesian Organik Farming Certification).

BACA JUGA: Dari Pijat Plus-Plus, AW dan RW Kantongi Rp 800 Ribu Sehari

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis Slamet Budi Wibowo mengatakan bahwa untuk berkembang seperti sekarang butuh waktu dan proses yang panjang. Banyak tantangan dan kendala yang dihadapi dalam memberikan pengarahan kepada petani.

"Dahulu masih konvensional, mereka jalan apa adanya saja," kata Slamet melalui keterangan tertulisnya, Senin (6/12).

BACA JUGA: Dampak Sekolah Lapang Terasa, Sektor Pertanian Organik di Ciamis Makin Manis

Dia menjelaskan semenjak ada program terintegrasi IPDMIP, pola bertani masyarakatnya lebih rapi dan teratur. Kompetensi kelimuan petani maupun penyuluh meningkat.

"Dan yang terpenting ada perubahan mindset di kalangan para petani khususnya mengenai pertanian organik," katanya.

"Contohnya Kelompok Tani Parikesit. Padi organik mereka sudah tersertifikasi Inofice," lanjut dia.

Slamet memaparkan kalau hadirnya IPDMIP diharapkan makin menguatkan petani dalam pemenuhan sarana produksi. Dan itu, kata dia, banyak tantangan yang harus dihadapi terkait pembangunan pertanian organik.

"Pertama soal perilaku. Budidaya pertanian organik berbeda. Model penanaman padinya, benih, penggunaan pestisida nabati, hingga pengendalian hama," katanya.

Dia berharap program IPDMIP terus berlanjut, tidak hanya sampai pada 2023 saja. Pasalnya, program ini secara simultan mampu memberikan dampak yang besar terhadap pembangunan pertanian di daerah.

"Khusus Ciamis, semoga nanti bisa tercover semua kecamatan. Karena untuk sekarang, dari 27 kecamatan, masih 17 (kecamatan) yang difasilitasi. Mudah-mudahan tahun depan bisa semuanya," beber dia.

Terkait program Sekolah Lapangan IPDMIP di daerah irigasi, pihaknya akan menyasar lebih banyak petani milenial. Menggenjot anak-anak muda untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan pertanian organik.

"Sekarang sudah mulai merintis. Pada SL pertemuan terakhir, antusiasmenya sangat besar. Di kecamatan Bungursari sudah mendekalarsikan komitmen andil petani muda," katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi mengatakan pertanian harus diarahkan kepada bisnis. Artinya tidak sekadar mencukupi pangan sendiri.

"Tetapi pertanian harus menghasilkan uang. Ini yang menjadi salah satu core dari IPDMIP, menguatkan kapasitas dan SDM petani maupun penyuluh melalui berbagai program," ujar Dedi.

Dedi lantas menyinggung pentingnya membangun sistem agribisnis yang kukuh. Yakni melalui pemanfaatan teknologi berbasis 4.0. Menurutnya, hal tersebut bisa memberikan keuntungan yang masif bagi para petani.

"Penerapan teknologi dalam aspek usaha tani jelas meningkatkan kualitas, menekan biaya produksi, dan menjamin produktivitas pertanian. Kita optimistis pembangunan pertanian terus melangkah ke depan," ungkap alumnus IPB University itu.

Adapun kunci dari peningkatan kesejahteraan petani adalah memperkuat hilirisasi pertanian dan mengembangkan pertanian modern.

Dijelaskan Dedi, ada beberapa ciri pertanian modern. Di antaranya penggunaan varietas unggul dengan potensi hasil tinggi, pemanfaatan sarana prasarana pertanian modern (Alsintan), pemanfaatan IOT melalui smart agriculture dan SDM pertanian unggul yang mampu menggenjot produktivitas.

"Maka dari itu, pengelola dan penyuluh pendamping di lokasi IPDMIP harus mempunyai semangat untuk meningkatkan kapasitas penguasaan teknologi bagi penyuluh maupun petani. Manfaatkan segala media informasi untuk dapat mempublikasikan keberhasilan kegiatan IPDMIP," jelas dia.

"Saya mengharapkan segenap pengelola dan penyuluh pendamping di lokasi IPDMIP untuk mengembangkan kapasitas usaha poktan dan gapoktan untuk menjadikannya korporasi petani," kata Dedi. (jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler