Banyak Guru Honorer di Arab Saudi Ingin Lanjutkan S2 di UT

Sabtu, 19 Oktober 2019 – 04:20 WIB
ki-ka: Dr Mohamad Yunus, S.S., M.A (wakil rektor Bidang Akademik UT) dan Mohamad Hery Saripudin, (Konsul Jenderal Republik Indonesia Jeddah). Foto: Mesya/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Para guru honorer asal Indonesia yang mengajar di Arab Saudi punya minat yang tinggi melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

Bahkan yang sudah mengantongi ijazah S1 berkeinginan kuliah S1 secara online agar pendidikan serta mata pelajaran yang diajar bisa linear

BACA JUGA: Gelar Konferensi Internasional, Universitas Terbuka Luncurkan 3 Jurnal Baru

"Guru-guru honorer yang mengajar di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) banyak yang ingin lanjut S2. Ini mereka titipkan pesar agar Universitas Terbuka bisa melayani S1 untuk mendapatkan linearitas," terang Mohamad Hery Saripudin, Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Kerajaan Saudi Arabia usai penandatanganan kerja sama (PKS) Penyelenggaraan Layanan Pendidikan Tinggi Universitas Terbuka di Wilayah Kerja KJRI Jeddah, Jumat (18/10).

Dia menyebutkan jumlah guru yang mengajar di SIJ sebanyak 45 orang. Kesemuanya tertarik melanjutkan studi. Dengan layanan UT yang menerapkan pembelajaran jarak jauh, keinginan para guru tersebut diharapkan bisa tercapai.

BACA JUGA: Universitas Terbuka Kumpulkan Pakar dan Akademisi Bahas Mitigasi Bencana

Selain guru honorer, menurut Saripudin, jumlah mahasiswa UT di Saudi Arabia terus meningkat. Di Jeddah mahasiswanya 54, Mekah 12, Madinah 20. Mereka usianya di atas 30 tahun dan bekerja di perusahaan-perusahaan besar

"Kerja sama ini merupakan yang kelima yang dilakukan KJRI Jeddah dengan institusi pendidikan. Ini sebagai implementasi nawacita akan adanya kehadiran negara dalam memberikan keadilan kepada WNI. Dalam hal ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada diaspora dan pekerja migran untuk mengakses pendidikan," tuturnya.

Sementara Dr Mohamad Yunus, S.S., M.A, wakil rektor Bidang Akademik UT mengungkapkan, pihaknya sudah membuat roadmap untuk pengembangan layanan pendidikan jarak jauh (PJJ) di luar negeri. Di mana targetnya 5 persen para diaspora dan tenaga kerja Indonesia bisa mendapatkan layanan pendidikan tinggi oleh UT.

"Kalau 2 juta orang Indonesia di luar negeri, 5 persennya sudah 100 ribu yang bisa menerima layanan UT," ujarnya.

Dia menyebutkan, ada tahapan yang harus disiapkan dalam memberikan layanan PJJ. Bukan hanya fasilitas tapi juga prodi yang membuat mereka bisa meningkatkan nilai jualnya lebih baik. UT juga meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada diaspora yang ada di luar negeri. Karena masih banyak yang belum paham soal UT.

"Tidak semua prodi ditawarkan untuk layanan UT luar negeri. Yaitu manajemen, akuntansi, hukum, komunikasi, sastra Inggris, sistem informatika. Dengan KJRI di Jeddah, UT sedang menyiapkan S2 pendidikan matematika karena banyak guru yang memintanya," tandasnya. (esy/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler