Banyuwangi Luncurkan Aplikasi Wisata Berbasis Android

Jumat, 11 April 2014 – 19:03 WIB
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (dua dari kanan) saat meluncurkan aplikasi wisata Banyuwangi berbasis Android, Jumat (11/4). FOTO: ist

jpnn.com - SURABAYA - Kabupaten Banyuwangi tak pernah berhenti membuat terobosan-terobosan kreatif untuk mendorong kemajuan daerahnya. Kali ini, kabupaten yang dipimpin Abdullah Azwar Anas itu merilis aplikasi berbasis Android untuk memasarkan daerah-daerah wisata di sana. Langkah ini diharapkan bisa semakin mengatrol kinerja sektor wisata di kabupaten berjuluk ”The Sunrise of Java” tersebut.

Aplikasi tersebut diberi nama Banyuwangi Tourism. Para pengguna Android pun bisa dengan mudah mendownload aplikasi tersebut. Peluncuran aplikasi Banyuwangi Tourism itu digelar di Taman Budaya Jawa Timur di Surabaya, Jumat (11/4). Hari ini juga ditandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Pemkab Banyuwangi dan Telkomsel untuk mendorong promosi wisata daerah, baik melalui sarana teknologi informasi maupun pemasaran luar ruang.

BACA JUGA: Pesawat Pengangkut Surat Suara Tergelincir

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pendekatan promosi wisata harus selalu relevan dengan perilaku pasar. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara kelima terbesar pengguna telepon pintar (smartphone). Mengutip riset Yahoo! dan Mindshare, pengguna smartphone di Indonesia mencapai 41 juta pada pertengahan 2013 dan akan menjadi 103,7 juta pengguna dalam tiga tahun mendatang.

”Penetrasi penggunaan smartphone diprediksi akan terus naik, termasuk yang berbasis sistem operasi Android. Sistem operasi Android sedang melejit mengalahkan sistem operasi yang lainnya. Karena itu, kami meluncurkan aplikasi wisata berbasis Android,” ujar Anas.

BACA JUGA: Gandeng ITB Kaji Kelayakan Jembatan Bulan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pengguna internet di Indonesia hingga akhir 2013 sudah mencapai 71,19 juta orang. Mayoritas di antaranya mengakses internet melalui ponsel. Pasar itulah yang dibidik oleh Banyuwangi untuk mempromosikan sektor pariwisatanya.

”Hampir setengah dari para pengguna internet adalah kaum muda yang bisa dikategorikan sebagai kelas menengah. Mereka adalah penggerak pasar sektor pariwisata,” tutur Anas.

BACA JUGA: Berkas Rampung, Tersangka Belum Ditahan

Menurut Anas, saat ini konsumen pariwisata meminta lebih. Mereka tidak hanya ingin datang ke obyek wisata alam maupun wisata budaya, namun juga sangat memperhatikan kenyamanan dalam memperoleh informasi. Salah satu sumber rujukan informasi utama adalah internet. Informasi itu tidak hanya dari satu sumber sepihak dari pengelola tempat wisata dan pemerintah daerah, tapi juga dari pihak lain seperti blogger maupun rekomendasi teman.

Karena itulah, pemasaran wisata Banyuwangi dilakukan secara terintegrasi. Secara berkala, Banyuwangi mengundang media massa, blogger, dan tokoh-tokoh berpengaruh untuk datang. ”Dari sanalah informasi menyebar. Kami mengoptimalkan media konvensional dan social media, mulai dari Twitter, Facebook, Youtube, Path, dan Instagram,” beber Anas.

Dengan berbagai promosi itu, sektor pariwisata di Banyuawangi terus bergeliat menjadi penopang ekonomi masyarakat setelah sektor pertanian dan industri pengolahan. Berdasarkan survei oleh tim independen, belanja wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi rata-rata mencapai Rp 1,9 juta per orang dengan masa tinggal di daerah tersebut selama dua hari.

Kunjungan wisatawan mulai September sampai Desember 2013 di salah satu destinasi favorit, yaitu Gunung Ijen, mencapai 21.579 wisatawan nusantara dan 4.315 wisatawan mancanegara. Adapun pada Januari sampai Maret 2014, kunjungan wisawatan nusantara 13.600 orang dan 628 wisawatan mancanegara.

”Saat ini kami terus memperluas destination life-cycle sehingga daerah tidak hanya dikenal melalui satu atau dua destinasi wisata. Semakin banyak yang dikunjungi tentu makin banyak duit yang berputar. Saat ini kita kembangkan Pantai Pulau Merah, Pantai Boom, dan Teluk Ijo. Secara bertahap, nanti digarap obyek wisata alam dan budaya yang lain,” jelasnya.

Anas mengatakan, semua sektor industri kreatif yang berbasis pariwisata mengalami peningkatan kinerja. Misalnya, sektor jasa hiburan kebudayaan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam setahun terjadi nilai tambah Rp 22,3 miliar pada 2011 menjadi Rp 26,2 miliar pada 2012.

Sektor kuliner terepresentasi dari nilai tambah restoran yang meningkat dari Rp 560,5 miliar menjadi Rp 654,4 miliar. Adapun sektor perhotelan tumbuh dari Rp 286,6 miliar menjadi Rp 341,8 miliar

Sektor tekstil, barang kulit, dan alas kaki yang lekat dengan kerajinan rakyat, dalam setahun pada 2012 menghasilkan transaksi Rp 4,7 miliar, tumbuh dari tahun sebelumnya sebesar Rp 4 miliar. Sedangkan sektor kertas dan barang cetakan naik dari Rp 155,2 menjadi Rp 175,1 miliar.

Perkembangan sektor industri berbasis wisata tersebut selaras dengan pertumbuhan sektor pertanian yang berdasarkan data BPS terjadi nilai tambah dari Rp12 triliun menjadi Rp 13,9 triliun. ”Ini bukti bahwa integrasi antar-sektor, yaitu dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri pengolahan) dan tersier (jasa, termasuk wisata), berlangsung dengan baik. Sehingga pertumbuhan ekonomi merata,” pungkas Anas. (eri/mas)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Optimistis Teluk Lamong Diuji Coba Mei


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler