Begini Respons Pakar Mikrobiologi Soal Omicron, Simak

Jumat, 17 Desember 2021 – 20:36 WIB
Ilustrasi - Waspada COVID-19 varian baru Omicron. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, BANDUNG - Pakar Mikrobiologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Dr Mia Miranti meminta pemerintah pusat untuk mengawasi secara ketat mobilitas masyarakat saat libur Nataru 2021. 

Langkah tersebut sangat penting terutama setelah pemerintah mengumumkan kasus pertama varian baru Covid-19, B.1.1.529 atau Omicron sudah masuk di Indonesia pada Kamis (16/12). 

BACA JUGA: Omicron Mengancam, Gibran Bergerak Cepat

Menurut Mia, berkaca pada kasus pertama Covid-19 di tahun 2020, saat berbagai negara mulai awas pada penyebaran virus Corona, Indonesia justru tidak menganggap itu sesuatu yang berbahaya. 

Pintu kedatangan mancanagera tetap dibuka dan berbagai dalih yang diucapkan pemerintah kala itu.

BACA JUGA: Cegah Omicron Meluas, Satgas Covid-19 Minta Masyarakat Tunda Perjalanan

"Saya melihat 2 tahun lalu, waktu semua negara sedang ribut ada Corona, kok Indonesia malah tenang. Sekarang, di berbagai belahan dunia kasus Omicron umumnya meningkat, tetapi Indonesia bilang tenang. Jadi, tidak pernah mengantisipasi dari awal," tutur Mia dihubungi JPNN.com, Jum'at (17/12).

Mia melanjutkan kebijakan pemerintah yang membatalkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di libur Nataru 2022, itu blunder. 

BACA JUGA: Kota Surabaya Menjalankan Langkah Cerdas Cegah Omicron, Bagaimana dengan Jakarta?

Pembatalan itu justru memberi kelonggaran pada masyarakat untuk mobilitas di tengah kasus penyebaran virus yang bisa saja kembali melonjak. 

"Jadi seperti sekarang, untuk Nataru kemarin (sempat) diberlakukan namun dibatalkan PPKM level 3 karena melihat data (kasus) sedang melandai. Di Indonesia tuh, kalau tidak ada kasus, kok tenang-tenang saja gitu," jelas Mia.

Mia tak menampik bila sudah jauh hari sebenarnya varian Omicron telah masuk di Indonesia. Dilonggarkannya pembatasan kegiatan ditambah masyarakat yang mulai bepergian, bukan tidak mungkin varian tersebut sudah menyebar namun tidak terdeteksi. 

"Saya ragunya begini, kalau di negara-negara lain pembatasan untuk menerima turis asing itu ketat, sedemikian ketatnya saja masih kebobolan seperti di Australia, Singapura," tutur Mia.

"Lihat Indonesia yang menurut saya, kan virus itu tidak masuk menggunakan paspor, jadi kapan pun dia (virus) mau masuk ya masuk aja. Jadi curiganya pembatasan di Indonesia ini agak mengkhawatirkan," sebutnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi temuan kasus pertama Covid-19 varian Omicron di Indonesia. 

Kasus awal tersebut terdeteksi di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Pademangan, Rabu (15/12).

Menurut Budi, kasus Omicron pertama di Indonesia dialami petugas kebersihan yang melayani pasien Covid-19. 

"Petugas ini udah melakukan perjalanan ke luar negeri," imbuhnya. 

Budi menambahkan data kasus pertama konfirmasi Omicron sudah disampaikan ke GISAID. 

"GISAID sudah mengonfirmasi data sequening benar adalah Omicron," tuturnya. 

Budi mengingatkan semua pihak agar memperketat prokes, menggencarkan PCR untuk Omicron, hingga melakukan vaksinasi. 

"Saya minta percepat vaksinasi, terutama pada orang tua," tegas Budi.(mcr27/jpnn)


Redaktur : Friederich
Reporter : Nur Fidhiah Sabrina

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler