Begini Strategi Pertamina Dorong Transisi dan Ketahanan Energi

Selasa, 15 November 2022 – 16:28 WIB
Nicke Widyawati mengatakan bahwa proses kebelangsungan transisi energi seharusnya terjadi, agar keberlanjutan tetap terjaga. Foto: Pertamina

jpnn.com, BALI - Chair of Task Force Energy, Sustainability and Climate Business 20 (TF ESC-B20) Nicke Widyawati mengatakan bahwa proses kebelangsungan transisi energi seharusnya terjadi, agar keberlanjutan tetap terjaga.

Namun, proses transisi energi tidaklah bisa dicapai dengan singkat, kerana membutuhkan berbagai macam teknologi, biaya serta sumber daya manusia yang mampu memenuhi standar pemenuhan kebutuhan energi terbarukan.

BACA JUGA: Kejar Target Nol Emisi, Pertamina-ExxonMobil Perkuat Kerja Sama Dekarbonisasi

Karena itu, Nicke Widywati yang menjabat Direktur Utama PT Pertamina (Persero) mengatakan pihaknya di Pertamina telah menyusun strategi komprehensif yang disampaikan melalui dua pilar utama dan 3 implementasi menengah.

"Dua pilar utama tersebut yang pertama adalah bergerak fokus mengenai dekarbonisasi kegiatan bisnis, dan yang kedua adalah pengembangan bisnis hijau energi terbarukan," kata dia.

BACA JUGA: Dukung Perubahan Iklim, Pertamina Lakukan Dekarbonisasi Bisnis

Dia menambahkan, tiga strategi jangka menengah yang mendukung rencana menggerakkan Net Zero Emission adalah pertama mengembangkan standar penghitungan karbon yang memenuhi standar nasional dan internasional.

Kedua adalah pelibatan pemangku kepentingan untuk mendukung penuh target dan komitmen NZE nasional.

BACA JUGA: Pertamina Lakukan Bedah Rumah dan Intervensi Gizi Spesifik di 2 Kota Ini

Tujuan itu didukung oleh strategi investasi jangka panjang dari Pertamina. Ketiga adalah inisiatif bisnis keberlanjutan ramah lingkungan Pertamina akan difokuskan pada Biofuels, sumber energi terbarukan, Sistem Penangkapan Karbon (CCS/CCUS), baterai serta mobil listrik, hidrogen, dan bisnis karbon sendiri.

Pertamina mengembangkan strategi untuk mendukung transisi energi dengan mengalokasikan biaya modal (capex) energi rendah emisi dan pengembangan EBT.

“Kami menetapkan tujuan untuk meningkatkan porsi Bisnis Hijau dalam bauran pendapatan Pertamina dari 5 persen pada tahun 2022 menjadi 13 persen pada tahun 2030,” tegas Nicke.

Secara prediksi, pendapatan dari bahan bakar fosil diperkirakan akan menurun secara signifikan dari 86 persen pada 2022 menjadi 66 persen pada 2040.

Tujuan dari optimisme alokasi modal tersebut dikoordinasikan dengan pemerintah Indonesia, dan memastikan bahwa hal tersebut selaras target bauran energi Indonesia.

Untuk mengimbangi pembiayaan, Pertamina meramu strategi investasi jangka panjang yang terdiri dari 14 persen Capex untuk aksi bisnis energi hijau.

Selain itu, Pertamina terus melanjutkan investasi pada bahan bakar fosil dan petrokimia sebagai tulang punggung bisnis saat ini, dalam upaya memastikan bahwa transisi energi tidak akan mengganggu ketahanan energi.

Selain strategi penyertaan modal, Pertamina juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk percepatan capaian target.

Kolaborasi diperlukan, dalam menghadapi tantangan yang sama selama transisi energi, terutama dalam teknologi dan pembiayaan.

“Kami terbuka untuk kemitraan dan kolaborasi, untuk mendorong inovasi dan menurunkan biaya teknologi,” jelas Nicke.

Sebab saat ini penggunaan teknologi dalam energi baru terbarukan masih membutuhkan biaya mahal, sehingga harga jual kepada konsumen masih cukup tinggi.

Dalam menekan biaya operasional tersebut, masalah pembiayaan, diharapkan akan lebih banyak menarik investasi masuk, baik internasional maupun domestik.

Untuk meningkatkan mekanisme pembiayaan global mendukung proyek transisi energi dan dekarbonisasi. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pertamina: Saya Pikir COP27 Akan Menginspirasi Masyarakat untuk Hadapi Perubahan Iklim


Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Dedi Sofian, Dedi Sofian

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler