Beli Hanya Rp 35 Ribu, Jual Lagi Sudah Ratusan Juta Rupiah

Kamis, 02 Oktober 2014 – 03:08 WIB

jpnn.com - Jika sebagian besar orang ingin memiliki aneka benda keluaran terbaru, Eko Suwandi sebaliknya. Warga Desa Jarakan, Kecamatan Gondang, itu jatuh cinta kepada yang tua. Makin tua barang makin dicari, makin bernilai, dan pasti makin mahal. 


WHENDY GIGIH P, Tulungagung 

---

DI kalangan penghobi dan kolektor motor tua di Tulungagung, nama Eko Suwandi tidak asing lagi. Dia merupakan salah seorang kolektor motor tua yang hingga kini bertahan dengan belasan motor tua koleksinya.

Saat ditemui siang kemarin (30/9), Eko Suwandi terlihat santai di rumahnya. Dia lantas mempersilakan masuk wartawan koran ini dan duduk di kursi ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga. Di dalam ruangan tersebut, langsung terlihat banyak benda-benda tua alias kuno. Bentuk, warna, serta tahun pembuatan yang ditatah pada beberapa benda menjadi bukti nyata bahwa usianya tidak muda lagi.

Di salah satu sudut ruangan itu, terdapat satu lemari kayu besar dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Bagian depan lemari hanya ditutup kaca bening sehingga isinya bisa dilihat. Ya, ada ratusan benda kuno di dalamnya. Misalnya, lampu senter, kap lampu ruangan, koin, dan setrika.

Tepat di atas lemari tersebut terdapat banyak lampu kuno yang biasanya dipasang di kereta kuda atau dokar. Bentuknya pun masih utuh dan asli buatan tangan. Mulai ukuran kecil sampai besar, semua tersedia. Beberapa di antaranya ditaruh di lubang udara pintu.

Eko lantas mulai berbagi pengalamannya mengoleksi benda-benda tersebut. Menurut dia, seluruh benda yang dimiliki berusia puluhan tahun. ''Memang sudah kesenangan saya koleksi, atau mungkin hobi mengumpulkan benda-benda kuno alias tua ini,'' ungkapnya.

Bukan hanya benda-benda yang disimpan di lemari. Pria berkumis itu juga mengoleksi kendaraan roda dua, yakni sepeda onthel dan motor. Untuk sepeda onthel, Eko hanya mengoleksi merek tertentu. Di antaranya, Royal, Norton, dan Fiat. Bahkan, dia memiliki sepeda onthel merek BSA dengan tahun pembuatan 1897. Kondisinya pun masih utuh dan lengkap dengan tas barang. Koleksi lain adalah sepeda motor. Yakni, BSA, Zundap, dan beberapa merek lain.

Menurut Eko, ada kebanggaan tersendiri ketika mengoleksi motor tua ataupun benda-benda tua. Terlebih, barang tersebut unik dan jarang ada yang memiliki. Dirinya rela merogoh kocek sampai jutaan rupiah demi barang yang diinginkan, termasuk motor dan sepeda onthel tua. ''Jangan bangga kalau belum punya motor tua,'' katanya.

Ditanya cara memperoleh motor, sepeda, dan benda-benda koleksinya, bapak satu anak tersebut menjawab, dirinya harus menjelajah keliling Indonesia. Itu biasa dilakukan sambil touring bersama klub motor tua. Paling banyak benda tua, termasuk motor, didapat di Ujung Pandang. Saat itu Eko membawa pulang barang sampai satu truk kontainer. Barang-barang tersebut diperoleh dari sesama kolektor dan pedagang di pasar.

''Kalau harga, saya beli dulu mulai Rp 35 ribu hingga jutaan. Sekarang bisa dijual sampai ratusan juta, bergantung usia barangnya,'' tutur pria yang mengoleksi motor tua sejak 1987 itu.

Demi hobinya tersebut, pria yang lahir pada 1965 itu rela menyisihkan separo pendapatannya dari sablon kaus untuk membeli benda kuno. Setelah berhasil dimiliki, benda dan kendaraan itu akan diperbaiki sehingga tetap laik pakai.

Eko lantas menunjukkan garasi kendaraan tuanya. Garasi hanya berlokasi beberapa meter di belakang rumah utama. Saat pintu dibuka, tampak motor tua berjejer di ruangan tersebut. Semua masih utuh dan laik jalan. Itu terlihat dari kondisi kendaraan yang lengkap, baik mesin, roda, maupun gir dan rantai. Di dalam garasi tersebut, juga terdapat beberapa sepeda tua yang kondisinya masih utuh.

Eko mengaku memiliki satu kendaraan tua yang tidak pernah dilupakan. Motor itu adalah BSA 250 cc. Motor tersebut menjadi motor perdana yang dimiliki Eko. ''BSA 250 cc buatan Jerman ini tidak saya jual,'' jelasnya. (ris/JPNN/c19/any)

BACA JUGA: Cerita di Balik Lukisan Raksasa Paviliun Permata

BACA ARTIKEL LAINNYA... Legenda Klasik Harimau di Minangkabau


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler