Cerita di Balik Lukisan Raksasa Paviliun Permata

Butuh Dua Hari Hanya untuk Buat Kanvas Jumbo

Selasa, 30 September 2014 – 14:23 WIB
Cerita di Balik Lukisan Raksasa Paviliun Permata. Gambar panorama Tugu Pahlawan yang dikelilingi gedung-gedung bertingkat hasil karya sebanyak 50 seniman. Foto: Frizal/Jawa Pos/JPNN.com

jpnn.com - Sabtu (27/9) masyarakat Surabaya disuguhi aksi melukis di kanvas raksasa. Kegiatan itu salah satu ide Taufik Monyong, seniman eksentrik Surabaya. Bagaimana proses kreatifnya?

Laporan Thoriq S. Karim, Surabaya
======================

BACA JUGA: Memajukan Desa lewat Ngerumpi Ibu-Ibu

SEPINTAS ”keriuhan” di Paviliun Permata Sabtu lalu itu adalah rutinitas pekerja biasa. Puluhan orang terlihat sibuk mengerubuti kain yang menutupi dinding. Mereka menyebar di beberapa titik.

Ternyata mereka bukan orang kebanyakan. Orang-orang itu adalah para seniman Surabaya. Mereka sedang terlibat gawe besar, melukis bersama di kanvas jumbo berukuran 20 x 60 meter.

BACA JUGA: Istri Dubes RI Untuk Brasil Sakit, Pilih Berobat di Surabaya

Nah, begitu aba-aba waktu melukis dimulai, 50 seniman itu mulai sibuk. Mereka melukis objek sesuai skenario.

Dalam hitungan menit, wujud coretan kuas puluhan seniman itu mulai terlihat. Yakni, gedung-gedung yang menjulang langit. Lalu, di antara gedung-gedung tersebut menyembul gambar Tugu Pahlawan. ”Itu simbol Surabaya,” ujar Taufik Monyong.

BACA JUGA: Legenda Klasik Harimau di Minangkabau

Dia menjelaskan, gedung jangkung yang mengelilingi ikon Surabaya itu merupakan gambaran Surabaya saat ini. ”Banyak gedung bertingkat yang merata di semua titik,” katanya.

Perkembangan Surabaya menjadi belantara beton sangat pesat. Dulu jumlah gedung bertingkat bisa dihitung dengan jari. Tapi, kini terus bertambah. Pemikiran itulah yang dituangkan pada lukisannya.

Seniman yang khas dengan sepeda motor Vespa itu mengatakan, aksi melukis di kanvas raksasa tersebut dilakukan untuk menegaskan jati diri Surabaya saat ini. Ide itu sudah lama mengendap di benak Taufik. Namun, untuk merealisasikan, dibutuhkan biaya dan tenaga.

Ketika pengembang proyek Paviliun Permata hendak melakukan pengecoran terakhir, ada komunikasi antara dia dan sang pengembang. Taufik pun menyampaikan ide itu. ’’Ternyata dia sepakat dan siap memfasilitasi,’’ ucapnya.

Mulailah dia bekerja. Awalnya Taufik mengumpulkan seniman yang sevisi dengan dirinya. Lalu, dibuatlah perencanaan bersama 50 seniman itu. Setelah yakin, Taufik bersama rekan-rekannya tersebut mempersiapkan semua perantinya.

Tantangan pertama yang dihadapi adalah menyiapkan kanvas raksasa. Taufik pun berburu dari toko ke toko. Hingga akhirnya menemukan salah satu toko di wilayah Surabaya Utara. ’’Saya memesan kanvas ukuran 2,5 meter persegi ratusan lembar,’’ ujarnya.

Awalnya pemilik toko sempat angkat tangan. Sebab, yang dibutuhkan Taufik sangat banyak. Dia merasa tidak mampu memenuhinya. Namun, Taufik terus merayu dan membujuk sehingga pemilik toko mau menerima pesanannya.

’’Kami butuh dua hari hanya untuk mengumpulkan robekan kain (kanvas, Red) itu,’’ imbuh dia.

Setelah kain terkumpul, pekerjaan lain menunggu ditangani. Puluhan lembar kain dibawa ke penjahit. Sama dengan pengalaman mencari kanvas, penjahit pun enggan menerima order tersebut.

Bujuk rayu pun dilakukan hingga akhirnya kanvas tersambung menjadi lembaran putih yang siap ditorehi cat.

Kamis (25/9) persiapan aksi melukis di kanvas raksasa dilakukan.  

Namun, kendala baru kembali menghadang. Yaitu, memasang kanvas itu ke tembok. Bisa dibayangkan, memasang kain berukuran 10 meter saja sudah cukup sulit. Apalagi, yang hendak dipasang itu mencapai 60 meter. ’’Kami harus menggunakan alat berat,’’ ujar Taufik.

Dia pun meminta bantuan pengembang yang terus mendukung proses dari awal hingga akhir. Dengan susah payah, kanvas mulai dipasang dengan menggunakan alat berat.

Setelah itu, ada persiapan lain yang harus dilakukan. Yakni, menyiapkan cat dan kuas untuk pelukis.

Taufik memerinci, cat yang dipakai berjenis akrilik dan terdari atas lebih sepuluh warna. Setiap warna membutuhkan 25 kilogram. Sedangkan kuas lebih dari seratus biji. Asumsinya, setiap seniman membawa dua kuas.

Tuntas persiapan, mulailah acara melukis. Sebelumnya 50 seniman itu kembali memantapkan konsep. Mereka melihat kondisi di lapangan. Maklum, selain kanvas cukup lebar, medan melukis harus menggunakan perangkat proyek.

Setiap seniman berkoordinasi agar lokasi penggarapan mereka tepat. Selain itu, lukisan bisa selesai cepat dan sesuai yang diharapkan. ’’Yakin dengan posisi masing-masing, kami mulai gerak ke lapangan,’’ kata Taufik.

Lima puluh seniman itu langsung menuju dinding tempat kanvas terpasang. Mereka menaiki tangga yang biasa digunakan pekerja untuk membangun dinding gedung. Ada tiga tangga yang berimpitan dengan dinding itu.

Pelukis di tangga bagian bawah kebagian melukis dasar gedung bertingkat. Lalu, yang tengah bertugas membuat badan gedung. Sedangkan yang paling atas melukis langit, awan, serta Tugu Pahlawan. Peran masing-masing itu dijalankan dengan baik.

Tidak lebih dari sepuluh menit, acara melukis di kanvas raksasa tersebut tuntas. Taufik mengatakan, aksi itu memang belum menjadi rekor dunia. Tapi, untuk kecepatan waktu, dia yakin baru yang pertama. ’”Namun, bukan itu yang kami kejar, tapi gambar wajah Surabaya saat ini. Itu yang kami tampilkan,’’ ungkapnya.

Saat ini pengerjaan Paviliun Permata masih berlangsung. Ketika pengerjaan sudah tuntas, kanvas raksasa itu akan diturunkan. Taufik sudah bersepakat dengan pengembang gedung tersebut, nanti lukisan itu dipotong dan dijadikan dekorasi interior paviliun tersebut. (*/c10/ib)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hari Gunawan, Atlet Bumerang Spesialis Trick Catch dari Surabaya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler