Berat Bade 6 Ton, Tinggi 26 Meter, Diusung 4.000 Orang

Jumat, 01 November 2013 – 07:31 WIB
NGABEN UTAMA: Bangunan bade setinggi 26 meter yang hari ini akan menjadi tempat upacara pelebon. Foto: WIDIADNYANA/JAWA POS Radar Bali

ARAK-ARAKAN bade setinggi 26 meter plus patung lembu akan mewarnai prosesi royal cremation Tjokorda Istri Candrawati hari ini (1/11). Ribuan warga dan turis asing diperkirakan menyaksikan upacara pelebon atau ngaben utama istri Panglingsir Puri Agung Ubud Tjokorda Gde Putra Sukawati itu.
-----------
NYOMAN WIDIADNYANA, Ubud
-----------
Puncak upacara pelebon Tjokorda Istri Candrawati hari ini akan menjadi peristiwa keagamaan yang langka. Betapa tidak. Itulah upacara ngaben (pembakaran mayat) utama yang hanya dilakukan kalangan kesatria dan brahmana tersebut.

Karena itu, persiapan dilakukan sejak seminggu lalu. Terutama pembuatan bade (tempat mayat yang akan diusung ke kuburan) yang cukup tinggi dengan hiasan warna-warni.

BACA JUGA: Munajib, Kakek tanpa Kaki yang Suka Mengasuh Anak Yatim

Kemarin (31/10) pemasangan tumpang dan sayap pada bade berjalan lancar. Dengan selesainya pembuatan bade tersebut, persiapan upacara ngaben untuk mendiang dinyatakan sudah tuntas.
 
"Sebenarnya pemasangannya tidak ada masalah. Cuma, karena pengerjaannya berada di ketinggian, jadi agak riskan dan susah. Tapi, akhirnya selesai sesuai rencana," kata Tjokorda Gde Raka Sukawati, arsitek pembuat bade dan lembu yang memimpin proses"ngatepang"(pemasang an tumpang dan sayap).
 
Sebagaimana diberitakan, istri panglingsir (tetua) Puri Agung Ubud Tjokorda Gde Putra Sukawati, yakni Tjokorda Istri Candrawati, 59, meninggal pada Senin (14/10) sekitar pukul 22.00 di RS Mount Elizabeth, Singapura. Mendiang mengalami sakit penebalan pada lambung internis sejak setahun lalu. Karena itu, mulai 27 September 2012, pensiunan pegawai Dinas Sosial Pemprov Bali tersebut harus bolak balik ke Singapura untuk menjalani pengobatan.
 
"Sejak 14 April lalu beliau akhirnya menetap di Singapura untuk mendapat perawatan yang lebih intensif," terang ipar mendiang, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati.
 
Tjokorda Istri Candrawati meninggalkan dua anak, yakni Tjokorda Gde Agung Ichiro Sukawati dan Tjokorda Gde Anggara Sukawati. Rencananya, upacara pelebon dilakukan hari ini.
 
Menurut Tjok De, panggilan Tjokorda Gde Raka Sukawati, upacara pelebon akan diawali dengan melaspas atau ritual penyucian seluruh elemen yang digunakan dalam pelebon. Terutama bangunan utama, bade dan lembu, yang bakal diarak ke kuburan.
 
Baru setelah itu dilakukan prosesi arak-arakan dari Puri Agung Ubud, Gianyar, Bali, ke setra Desa Pekraman Peliatan sejauh 800 meter. Lantaran tinggi bade yang mencapai 26 meter, aliran listrik dan telepon di sekitar rute arak-arakan sementara akan dimatikan. Sebab, kabel yang melintang di sepanjang jalan arak-arakan bakal diputus.
 
"Kami sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk pemutusan sementara aliran listrik dan telepon itu," terangnya. "Tapi, begitu arak-arakan lewat, segera disambung kembali. Kami mohon maaf atas semua itu," imbuh Tjok De.
 
Arak-arakan bade bakal dibagi dalam enam etape, sedangkan lembu dalam tiga etape. Hal itu terkait dengan bangunan bade dan lembu yang tidak ringan sehingga perlu ada pergantian pasukan pengusung pada setiap etape. Pengusung bade dan lembu nanti adalah warga dari sembilan banjar yang mengikuti upacara tersebut.
 
"Mengingat berat dan tingginya bangunan ini, diperlukan sekitar empat ribu orang utuk mengusungnya. Mereka dibagi etape per etape. Setiap etape sekitar 400 pengusung," paparnya.
 
Tjok De mengaku sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan dalam arak-arakan nanti. Termasuk, bangunan bade yang beratnya mencapai 6 ton.
 
"Aspek niskala (alam tidak nyata) dan sekala (alam nyata) pasti jalan berbarengan. Sebab, secara sekala, 400 orang mengangkat bangunan 6 ton kan tidak masuk akal. Makanya, kami sebelumnya akan melakukan persembahyangan, berdoa memohon perlindungan dan kelancaran prosesi ini," katanya.

Sementara itu, sulinggih (tokoh dari kalangan brahmana) yang bakal memuput (memimpin) upacara"melaspas"pagi ini berasal dari kalangan sulinggih aliran Syiwa dan Buddha. Yakni, Ida Pedanda Selat Duda Karangasem dan Ida Pedanda dari Gria Gunung Sari Kelod, Peliatan.
 
Untuk proses nganyut"(melarung abu ke laut) yang bakal dilaksanakan nanti malam di Pantai Matahari Terbit Sanur, yang memimpin adalah Ida Pedanda Padang Tegal Baler dan Ida Pedanda Gunung Sari Baler. Sementara itu, yang naik di bade layon"(jenazah) adalah yang memiliki hajat.
 
"Tapi, saya belum tahu siapa yang ditunjuk mewakili keluarga. Yang jelas, nanti saya ikut mendampingi," tutur ipar mendiang itu.
 
Mewakili Puri Agung Ubud, Tjo De menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah banyak membantu prosesi pelebon tersebut. Sejak awal persiapan hingga selesai nanti.
 
"Saya mewakili keluarga mengucapkan terima kasih kepada seluruh lapisan masyarakat. Ini menunjukkan nilai budaya dan hubungan kekeluargaan yang harmonis yang masih berjalan dengan baik. Kearifan lokal yang masih dipegang teguh di tengah perkembangan teknologi global," ujar dosen Universitas Udayana, Bali, tersebut. (*/c5/c10/ari)

BACA JUGA: Brigadir RS Dikenal Pendiam dan Jago Bela Diri

BACA JUGA: Humanisme Masa Lalu Sang Doctor of Humanities

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gagal Tembus Akabri, Jualan Tongseng di Jatinegara


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler