Beri Khotbah di Malaysia, Nusron Bicara soal Ramadan dan Korupsi

Kamis, 07 Juli 2016 – 05:48 WIB
Suasana saat salat Idul Fitri KBRI Kuala Lumpur Malaysia. Foto: source for JPNN.com

jpnn.com - KUALA LUMPUR - Untuk kedua kalinya, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid merayakan Idul Fitri bersama TKI. 

Setelah pada Lebaran tahun lalu Nusron merayakannya di Korea Selatan, kali ini Nusron merayakannya bersama TKI di Malaysia. Dalam salat Idul Fitri, Nusron bertindak selaku khatib. Salah satu pesan yang disampaikannya adalah hikmah puasa.

BACA JUGA: Duh..6.000 Babi Terendam Banjir Besar

"Hikmah puasa yang paling besar dan nyata bagi bangsa Indonesia, manakala setelah puasa Ramadan sudah tidak ada lagi korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan kesewenangan. Perintah spiritual dalam puasa adalah menahan hawa nafsu. Jihad paling akbar juga perang melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang paling nyata di depan mata dan menjadi realitas publik adalah korupsi, manipulasi, kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok," kata Nusron, dalam khotbahnya di KBRI Kuala Lumpur Malaysia, Rabu (6/7).

Salat Idul Fitri di KBRI Kuala Lumpur dihadiri sekitar 3000-an TKI dan WNI lainnya. Selain Nusron, hadir juga Dubes RI untuk Malaysia Herman Prayitno dan beberapa tokoh lainnya. 

BACA JUGA: Obama Rayakan Ultah Anak di White House

Nusron menyatakan, korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan yang bathil, menurut Imam Ghozali, merupakan manivestasi dan implementasi sifat bahimah (kehewanan), syabu'iyyah (kebuasaan) dan syaitoniyyah (kesetanan). 

"Koruptor itu sifatnya sama dengan hewan, makan sebanyak-banyaknya untuk bersenang-senang, memangsa hak orang lain dan dilakukan penuh dengan rekayasa dan tipu daya yang sering dilakukan setan," ujarnya.

BACA JUGA: Alhamdulilah, Lebaran Ini Warga Gaza Dapat Bantuan

Ketiga sifat yang menjerumuskan ini, kata dia, hanya bisa dilawan dengan puasa Ramadan yang menjadi manivestasi dari sifat malakkiyyah yang harus dioptimalkan dalam diri manusia.

"Kalau puasa Ramadannya sukses, berarti mampu membunuh hawa nafsu dan korupsi akan sirna digembleng melalui amaliah sholeh di bulan Ramadan," ujarnya.

Namun sayangnya, lanjut Nusron, di bulan Ramadan ini masih penuh simbolik, masih sekadar ibadah formalistik, tanpa proses kontemplasi. Dia merujuk bahwa buka puasa, taraweh dan qiyamul lail marak di kantor-kantor pemerintahan dan rumah-rumah pejabat, bahkan hampir tiap malam Ramadan. Namun di sisi lain kenyataannya, korupsi juga masih marak terjadi.

"Itu merupakan hal baik. Sayangnya korupsi dan penyalahgunaan juga masih marak dan lancar dilaksanakan. Seakan puasa dan ibadah Ramadan adalah one things, sementara korupsi adalah another things. Ini yang harus diubah oleh bangsa Indonesia pasca Ramadhan tahun ini," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nusron mengajak agar di bulan Ramadhan ini dijadikan momentum amnesty (pengampunan) atas dosa dan prilaku sosial manusia Indonesia, agar kembali fitri, suci, merdeka, tanpa dosa seperti ketika bangsa ini baru lahir dan merdeka.

"Amnesty syawal ini tanpa tarif dan tebusan seperti tax amnesty. Tapi cukup dengan declare dan pengakuan, penyesalan untuk tidak mengulangi kesalahan ritual maupun sosial kita," tuturnya. (adk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Politikus Gerindra Yakin Bom Saudi Bukan untuk Lukai Jemaah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler