Beri Kuliah Umum di Brawijaya, Puan Ingatkan soal GNRM

Selasa, 27 September 2016 – 20:34 WIB
Menko PMK Puan Maharani memberikan kuliah umum di Universitas Brawijaya, Malang. Foto: source for JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Kuliah umum di Universitas Brawijaya, Malang, Selasa (27/9) siang tadi sedikit berbeda. Itu terjadi karena kehadiran Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani.

Putri Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri tersebut memberikan kuliah berjudul Peran Perguruan Tinggi dalam Mewujudkan Revolusi Mental. 

BACA JUGA: Mantan Dirjen Kemdagri Diperiksa KPK Terkait Korupsi e-KTP

Menurut Puan, Revolusi Mental merupakan prasyarat penting dalam upaya mewujudkan Indonesia yang berdaulat dalam bidang politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan berlandaskan semangat gotong royong. 

"Revolusi Mental dimaksudkan sebagai Gerakan Hidup Baru, yang bertujuan menanamkan rasa percaya diri pada diri sendiri dan kemampuan sendiri, menanamkan optimisme dan daya kreatif di kalangan rakyat dalam menghadapi rintangan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Revolusi Mental adalah bagian dari proses untuk membentuk karakter bangsa, agar bangsa kita dapat mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, yang berdasarkan Pancasila,” papar Puan.

BACA JUGA: Nazaruddin Sebut Mantan Mendagri Harus Jadi Tersangka Korupsi e-KTP

Kedatangan Puan ke Brawiajaya ini didampingi Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty, anggota DPR RI Ahmad Basarah, Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf, Deputi Menko PMK Bidang Pendidikan dan Agama Prof. Dr. R. Agus Sartono beserta rombongan lainnya.

Sebagai pengantar kuliah umum, Menko PMK menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Unbraw yang sudah menginisiasi terwujudnya Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) di lingkungan perguruan tinggi, sekaligus mengapresiasi kemajuan Universitas Brawijaya dibanding kunjungan Menko PMK beberapa waktu sebelumnya.

BACA JUGA: Jangkrik Boss, Pembajak Warkop DKI Reborn Ternyata Cewek Iseng

Di tengah krisis yang mendera mental kultural bangsa berupa korupsi, SARA, individualisme, isu kesenjangan, krisis sosial lainnya seperti hilangnya karakter, dan lunturnya nilai gotong royong, maka Revolusi Mental dinilai sangat perlu untuk dihidupkan kembali sebagai suatu terobosan menjawab segala krisis karakter bangsa tadi. 

“Gerakan Nasional Revolusi Mental harus dimulai dari diri sendiri dan diawali dari hal-hal yang kecil dan ringan, selanjutnya berkembang ke suatu yang besar dan menjadi gerakan sosial yang luas oleh segenap rakyat," tandas Puan.

Di bidang pendidikan tinggi, salah satu bentuk nilai Revolusi Mental adalah penyaluran beasiswa oleh pemerintah kepada mahasiswa kurang mampu yang berprestasi. Dengan program ini, maka akses kepada pendidikan tinggi semakin merata dan mengurangi ketimpangan.

Pemerintah ingin wujudkan bangsa dan negara yang berdaulat dalam bidang politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Ketiganya sejalan dengan yang digelorakan oleh Bung Karno sebagai Trisakti, yang mencakup tiga ranah; ranah mental kultural, ranah material ekonomi dan ranah politik. 

"Ketiga ranah tersebut kini perlu dilakukan perubahan yang dipercepat revolusi untuk mencapai tujuan Revolusi Pancasila, yaitu mewujudkan peri kehidupan kebangsaan dan kewargaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, berlandaskan Pancasila," imbuh Puan.

Menko PMK juga menyitir pidato Bung Karno yang mengatakan 'Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncang dunia'.

“Sebagaimana Bung Karno, saya pun yakin akan peran dan kemampuan pemuda dalam membawa bangsa ini pada perubahan kehidupan yang lebih baik. Pemuda yang akan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian. Mahasiswa adalah bagian dari pemuda yang dimaksudkan oleh Bung Karno. Perguruan Tinggi berperan membentuk dan mengasah karakter calon pemimpin bangsa tersebut,” tandas Puan.

Peran pemuda dan mahasiswa sangat penting dan strategis dalam menghadapi bonus demografi Indonesia. Peran nyata perguruan tinggi dalam masyarakat adalah dengan melaksanakan program kuliah kerja nyata. 

“Laksanakan program KKN tematis Revolusi Mental sebagai wujud kontribusi mahasiswa untuk menjadi agen perubahan masyarakat,” imbuh Menko PMK.

Perguruan Tinggi bisa menjalankan Revolusi Mental di antaranya dengan mewujudkan kampus yang bebas dari korupsi, bebas dari narkoba, bebas dari radikalisme, bebas dari plagiarisme. 

Kampus yang memiliki karakter Pancasila, akan menanamkan karakter itu kepada para mahasiswa. Bila itu terwujud, Perguruan Tinggi akan melahirkan generasi penerus yang memiliki karakter yang dibutuhkan untuk membangun dan mensejahterakan bangsa.

Sebagai penutup kuliah umumnya, Menko PMK menyampaikan pula harapannya terhadap peran perguruan tinggi sebagai agen revolusi mental. “Jadilah agen perubahan pikiran, sikap, dan perilaku yang berorientasi pada kemajuan. Mari bersama mewujudkan Indonesia yang lebih baik, menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain," pungkas Puan.

Usai memberikan kuliah umum, Menko PMK pun melayani permintaan sejumlah mahasiswa yang mengajak foto bersama dengan dirinya. (adk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menko PMK: Perlu Terobosan untuk Sukseskan Program KB


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler