Bersih-Bersih Oposisi, Rezim Erdogan Sikat 82 Personel Militer Turki

Rabu, 02 Desember 2020 – 05:39 WIB
Tentara Turki. Foto: ANP

jpnn.com, ANKARA - Rezim Recep Tayyip Erdogan kembali melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai pendukung ulama kawakan Fethullah Gulen. Kali ini operasi pembersihan lawan politik menyasar 82 tentara Turki. 

Sejak pemerintah meredam upaya kudeta empat tahun lalu, operasi yang menargetkan jaringan pendukung Fethullah Gulen terus berlanjut.

BACA JUGA: Berusaha Gulingkan Erdogan, 337 Warga Turki Dijatuhi Hukuman Penjara Seumur Hidup

Gulen menyangkal keterlibatan dalam upaya percobaan kudeta pada Juli 2016, yang menewaskan sekitar 250 warga Turki.

Operasi penangkapan yang berlangsung pada Selasa (1/12) dilakukan di 39 provinsi dan 63 tersangka langsung ditahan pada hari itu juga.

BACA JUGA: Erdogan Terus Bikin Masalah, Uni Eropa Sudah Sangat Gerah

Dari total 82 tentara yang masuk daftar tersangka, 70 di antaranya merupakan anggota aktif militer.

Kantor berita resmi Turki, Anadolu, juga menyebutkan bahwa operasi penangkapan itu diperintahkan oleh kepala kejaksaan di Provinsi Izmir, daerah di pesisir barat Turki.

BACA JUGA: Dari Jazirah Arab sampai Ujung Eropa, Erdogan Punya Musuh di Mana-Mana

Operasi itu juga merupakan upaya untuk menangkap 848 tentara, yang di antaranya termasuk para pejabat tinggi, karena mereka diyakini terlibat dalam jaringan Gulen.

Sejak percobaan kudeta berakhir, sekitar 8.000 orang di Turki masih menunggu waktu sidang. Dari jumlah itu, 15.000 di antaranya merupakan pegawai negeri, tentara, sementara sisanya ada yang dipecat atau diskors dari pekerjaannya. Lebih dari 20.000 orang juga dipecat dari militer Turki.

Pekan lalu, pengadilan Turki menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada para pemimpin percobaan kudeta. Keputusan pengadilan Turki itu menghukum ratusan perwira militer, pilot dan warga sipil atas upaya kudeta yang gagal untuk menggulingkan Presiden Tayyip Erdogan.

Sejauh ini, Gulen, lawan politik Erdogan, masih menjalani pengasingan di Amerika Serikat. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler