Biadab, Ayah Bekap Balitanya hingga Tewas di Ayunan

Selasa, 21 November 2017 – 20:43 WIB
Jenazah David, balita berusia 2 tahun 5 bulan, dikafani oleh sanak saudaranya. Foto: Wal/PM

jpnn.com, LABUHAN BATU - Seorang ayah tega membunuh anak kandungnya sendiri hanya karena terus menangis.

Anak berusia 2 tahun 5 bulan itu dibunuh dengan cara dibekap di dalam ayunan.

BACA JUGA: ‘Kenapa Nasib Kita Harus Seperti Ini, Mak?’

Mirisnya lagi, setelah dibunuh, jenazah balita itu dibiarkan saja terbujur terayun hingga beberapa jam lamanya.

Perbuatan ayah kejam bernama Yudi, 38, itu terjadi di rumah susun lantai 5, kawasan Kayu Putih, Kelurahan Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli, Senin (20/11), sekira pukul 11.00 WIB.

BACA JUGA: Astaga, Tante Kartika Habisi Keponakan Sendiri di Musala

Sementara anaknya yang dibunuh itu, David. Nyawa David berakhir di kedua telapak tangan ayah kandung nya itu. Ya, Yudi membekap mulut bungsu dari empat bersaudara itu menggunakan kedua tangannya.

Entah setan apa yang hinggap ke dalam fikiran Yudi, hingga tak bergeming sedikit pun melihat David meronta hingga mati perlahan di tangannya.

BACA JUGA: Mengejutkan! Satu Balita Selamat dari Pembunuhan Sadis

Saat ditemui di kompleks rumah susun, yang merupakan tempat David dihabisi ayahnya, Ela salahseorang tetangga korban bercerita. Ela mengatakan, siang itu sekira pukul 11.00 WIB, David terus menangis di dalam ayunan.

Memang, kata Ela, selama satu tahun belakangan ini David diketahui mengidap penyakit giji buruk. Sehingga saat kejadian, David menangis terus.

Sementara Yudi coba untuk menenangkan bungsunya dari empat bersaudara itu, sambil mengayunnya.

Diketahui, saat itu hanya Yudi dan David di rumah. Sementara isterinya, Heni, 35, sedang bekerja sebagai guru. Dan ketiga anaknya yang lain, bersekolah.

Kesal melihat David terus menangis, membuat Yudi panik dan hilang akal sehat. Tanpa fikir panjang, Yudi menutup wajah dan mulut David hingga beberapa saat lamanya.

Walau David meronta tapi Yudi tetap membekap anaknya itu hingga akhirnya mati kehabisan nafas.

Setelah David meninggal dunia, Yudi membiarkannya di dalam ayunan. Dari siang hingga sore, jenazah David terbujur di dalam ayunan tersebut.

Sore hari, Heni pulang dari tempat mengajar. Saat itu Heni melihat David di dalam ayunan tidak bergerak. Saat kain ayunan disibak, Heni menjerit melihat anaknya itu telah tak bernyawa.

Saat itu juga Heni bertanya kepada Yudi kenapa anak mereka meninggal di ayunan. Yudi berupaya mengatakan kalau dia tidak tahu anaknya itu telah meninggal dunia. Setelah kabar kematian balita itu tersebar, sore harinya, jenazah David dikebumikan.

Setelah proses pengebumian selesai, tiba di rumah, wajah Yudi berubah. Tingkahnya juga berubah. Seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.

Melihat perubahan itu, Heni coba bertanya. Tapi Yudi diam saja. Selanjutnya, Heni dan keluarga coba bertanya soal kematian David. Saat itu mereka mulai curiga terhadap Yudi, kalau David meninggal dikarenakan sesuatu. Tapi, lagi-lagi Yudi Diam.

Keluarga tidak habis akal. Mereka pun memanggil warga sekitar. Bersama warga, keluarga coba bertanya dan menginterogasi Yudi. Akhirnya apa yang mereka cemaskan, terjawab. Tadi malam, Yudi mengaku telah membunuh David.

Bagai disambar petir, Heni shok dan meraung meratapi kepergian anak bungsunya, yang dibunuh ayah kandungnya.

Saat itu juga, warga setempat dan keluarga langsung melaporkan perbuatan tak manusiawi Yudi kepada polisi. Tidak lama kemudian petugas memboyongnya ke Polres Pelabuhan Belawan.

Kasat Rerskrim Polres Pelabuhan Belawan AKP Yayang Rizki Pratama ketika dihubungi belum mengetahuinya, karena dia masih berada di luar.

“Kita belum monitor bang, saya masih diluar kota, coba saya tanyakan dulu sama anggota,” singkat Yayang.(wal)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tragis! Lima Orang Sekeluarga Tewas Dibantai di Medan


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler