Biden Setuju AS Sediakan Rudal Mengerikan untuk Ukraina

Rabu, 01 Juni 2022 – 17:30 WIB
Presiden Amerika Serikat Joe Biden setuju AS menyediakan rudal canggih untuk Ukraina. Ilustrasi Foto: Reuters

jpnn.com, WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Joe Biden sudah setuju untuk menyediakan sistem roket canggih untuk Ukraina.

Sistem rudal canggih yang disiapkan bisa secara tepat menghantam target-target jarak jauh milik Rusia.

BACA JUGA: Ukraina Tuduh 600 Warga Rusia Lakukan Kejahatan Perang

Sistem roket tersebut merupakan bagian dari paket persenjataan senilai 700 juta dolar AS (sekitar Rp10,19 triliun), yang diperkirakan akan diumumkan pada Rabu.

Para pejabat tinggi AS mengatakan negaranya menyediakan bagi Ukraina sistem roket artileri dengan mobilitas tinggi, yang bisa mengenai target sejauh 80 kilometer secara akurat.

BACA JUGA: Perang Rusia-Ukraina Tidak Akan Berakhir dalam Waktu Dekat

Keputusan ini diambil setelah Ukraina memberi "jaminan" bahwa negara tersebut tidak akan menggunakan rudal-rudal itu untuk melancarkan serangan di dalam Rusia.

Dalam kolom opini surat kabar New York Times yang terbit pada Selasa (31/5), Biden mengatakan invasi Rusia ke Ukraina akan diakhiri melalui diplomasi.

BACA JUGA: AKBP Brotoseno Tak Dipecat, Aziz Yanuar Masih Percaya Komitmen Kapolri

Namun, kata Biden, Amerika Serikat harus menyediakan persenjataan dan amunisi penting untuk memungkinkan Ukraina memiliki posisi tawar terkuat di meja perundingan.

"Karena itu saya memutuskan bahwa kita (Amerika Serikat) akan menyediakan bagi Ukraina sistem roket yang lebih canggih beserta persenjataan yang memungkinkan mereka membidik target-target utama secara tepat di medan pertempuran di Ukraina," tulis Biden.

Para pejabat AS menyebutkan, paket persenjataan tersebut mencakup amunisi, radar penangkal tembakan, sejumlah radar pengintaian udara, tambahan rudal-rudal antitank Javelin, serta persenjataan antibaja.

Biden pada Selasa mengatakan kepada para wartawan bahwa "kita tidak akan mengirimkan ke Ukraina sistem roket yang ditembakkan ke Rusia."

Biden tampaknya cenderung lebih menekankan persyaratan soal penggunaan sistem persenjataan tertentu.

Presiden AS ingin membantu Ukraina agar bisa membela diri. Namun, Biden selama ini mendapat penentangan terkait penyediaan persenjataan yang bisa digunakan Ukraina untuk menyerang Rusia.

Sudah ribuan orang tewas di Ukraina dan jutaan lainnya mengungsi sejak Rusia melancarkan invasi ke negara itu pada 24 Februari 2022.

Moskow menyebut aksinya itu sebagai "operasi militer khusus" untuk mengenyahkan pengaruh Nazi di negara tetangganya itu. (Reuters/antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler