Bisnis Lendir Eks Dolly Masih Beraksi, Puluhan PSK Tertangkap

Kamis, 04 Mei 2017 – 12:26 WIB
PSK. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, SURABAYA - Sejumlah tempat lokalisasi di Surabaya memang sudah ditutup. Namun, praktik prostitusi belum sepenuhnya hilang.

Buktinya, masih ditemukan bisnis esek-esek yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi di eks lokalisasi.

BACA JUGA: Rata-rata Janda, Tarif gak Tentu Mas, Tergantung...

Pelaku prostitusi sering memanfaatkan rumah kos untuk menjalankan bisnisnya.

Karena itu, pada Oktober 2016, satpol PP membentuk tim khusus. Yakni, Tim Asuhan Rembulan (TAR).

BACA JUGA: Para PSK Disuruh Pulang Kampung, Dikasih Uang Rp 7 Juta

Anggotanya melibatkan jajaran kepolisian, dinas sosial (dinsos), serta dinas kepemudaan dan olahraga (dispora).

Selama lima bulan beroperasi, mereka berhasil menjaring 40 PSK.

BACA JUGA: Inilah 9 Negara dengan Wanita PSK yang Aduhai

Irvan Widyanto, kepala satpol PP, menerangkan bahwa TAR berwenang menjaring praktik prostitusi.

Setelah terbukti, para PSK bakal diperiksa, apakah mereka terjangkit HIV-AIDS.

"Kami bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk tindak lanjutnya," ujar Irvan.

Selain tim tersebut, ada posko terpadu. Anggota posko itu tidak jauh berbeda dengan TAR.

Namun, kinerja mereka tidak didasarkan pada waktu bekerja, melainkan tempat operasi.

Posko tersebut tersebar di Surabaya Timur, Surabaya Barat, Surabaya Selatan, dan Surabaya Utara.

April lalu, tim menangkap tujuh PSK di salah satu wisma.

"Setelah pintu didobrak petugas, ternyata mereka terbukti melakukan prostitusi," lanjutnya.

Irvan menerangkan, saat ini model prostitusi bermacam-macam. Paling banyak melalui media sosial.

Beberapa kali langkah represif dilakukan, tapi prostitusi belum bisa dihentikan.

"Masih kucing-kucingan. Tapi, sampai kapan?" kata mantan camat Rungkut itu.

Irvan lantas menceritakan penutupan eks lokalisasi Dolly pada 18 Juni 2014.

Kala itu, dia menerima sejumlah ancaman teror. Misalnya, mobil satpol PP bakal dibakar saat melintasi Dolly.

Ada pula kerbau yang diarak. Di kepala kerbau terdapat nama Risma dan di pantat kerbau ada nama Kadinsos Supomo.

"Jujur, sempat down. Tapi, semangat muncul lagi setelah Bu Risma bilang, Van, nek kowe gak wani mudun, kene tak nyeleh peralatanmu. Tak tutupe dewe Dolly (Van, kalau kamu tidak berani turun, aku pinjam peralatanmu. Aku tutup sendiri Dolly, Red)," tutur Irvan, menirukan ucapan Risma saat itu.

Keseriusan tersebut dianggap bisa menampik tudingan bahwa pemkot membiarkan prostitusi kembali muncul.

Langkah represif yang diambil tak bisa menuntaskan masalah hingga ke akar rumput.

"Makanya, pelan-pelan kami lakukan pemberdayaan," katanya.

Camat Sawahan Yunus menerangkan, tugas mengurus Dolly mirip seperti piala bergilir.

Muslich, mantan camat Sawahan yang kini menjabat camat Benowo, dianggap telah memenangi pertempuran untuk menutup Dolly.

Namun, tugas mempertahankan itu dinilai lebih berat. "Dua tahun ini, batik Dolly mulai jalan. Samijali sampai bisnis sablon sudah berkembang," jelasnya. (sal/c18/oni/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Penelusuran, Ketika Karyawati Larut Dalam Bisnis Prostitusi


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler