Boeing Tidak Transparan Soal Potensi Eror Fitur Baru Max 8?

Senin, 19 November 2018 – 14:41 WIB
Fasilitas milik Boeing di Chicago, Amerika Serikat. Foto: REUTERS

jpnn.com, JAKARTA - Presiden Direktur Aviatory Indonesia Ziva Narendra menyayangkan Boeing yang tidak transparan soal fitur pada produk barunya tipe 737 Max 8. Menurutnya, Boeing sebagai produsen pesawat harus memberitahukan fitur atau sistem baru kepada maskapai dan pilot pengguna produknya.

Jika memang teknologi baru itu memiliki kerentanan terhadap situasi tertentu, sebaiknya penggunaannya untuk penerbangan komersial ditunda terlebih dulu. Ziva menuding Boeing tidak melakukan antisipasi atas potensi eror.

BACA JUGA: Sudah 100 Jenazah Lion Air JT 610 Teridentifikasi

“Tapi untuk tipe 737 ini pesawatnya sudah diluncurkan duluan, harusnya dikaji lebih dalam dulu. Ini yang membuat banyak khalayak penerbangan melihat adanya kurang preventif di sini,” kata Ziva, Senin (19/11).

Ziva menuturkan, Boeing saat akan meluncurkan pesawat tipe 787 beberapa tahun lalu juga pernah mengalami masalah pada baterai yang rentan terbakar saat mengudara dan berada dalam tekanan tertentu. Namun, pada saat itu Boeing akhirnya memperbaiki terlebih dulu dan menunda peluncuran komersilnya.

BACA JUGA: Baru 98 Jenazah Korban Lion Air JT 610 Teridentifikasi

Seperti diketahui, seminggu setelah kecelakaan Lion Air, Boeing baru memberitahukan adanya potensi bahaya dari sistem itu melalui sebuah buletin kepada berbagai maskapai penerbangan di seluruh dunia yang menggunakan pesawat Max 8.

“Kami telah mengeluarkan Operations Manual Bulletin (OMB) untuk awak pesawat untuk mengatasi keadaan di mana ada input yang salah dari sensor AOA,” ujar Boeing dalam pernyataan resminya.

BACA JUGA: Peti Jenazah Korban Lion Air Tiba, Istri Histeris

Sistem AOA ini sejatinya didesain untuk membantu pilot untuk menghindari ketika menaikkan hidung pesawat terlalu tinggi yang sehingga bisa menyebabkan stall.

Namun efek dari kesalahan yang mungkin terjadi dalam sistem adalah dapat membuat hidung pesawat turun secara tiba-tiba dan sangat kuat sehingga pilot tidak dapat menarik kembali bahkan ketika kemudi pesawat diterbangkan secara manual. Dalam buletin itu, Boeing juga menyebutkan bahwa akibat efek tersebut pesawat dapat menukik turun atau jatuh.

Meski mengakui ada potensi kesalahan pada komponen sensor AOA, nyatanya Boeing tidak meminta para operator pesawat untuk melakukan inspeksi, atau melarang pengoperasian pesawat jenis MAX 8.

"Boeing hanya meminta pilot, kopilot, maupun teknisi untuk mengikuti buku panduan operasional penerbangan yang diperbarui melalui penerbitan buletin tersebut. Di antaranya, mematikan sistem otomatis yang bisa membuat pesawat menurunkan posisi hidung pesawat saat menerima indikasi stall," jelasnya.

Ketua Asosiasi Pilot Southwest Airlines, Jon Weak, diberbagai media di AS telah mengungkapkan bahwa para pilot memang sebelumnya tidak diberitahu terkait adanya fitur baru anti stall di pesawat Boeing Max 8. Informasi tersebut juga tidak ada dalam buku manual penggunaan Max 8. Baru pada 6 November 2018, atau sepekan setelah kecelakaan Lion Air, pihak Boeing memberitahukannya melalui buletin.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, pengakuan dari pilot pengguna Max 8 diberbagai negara tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan pihaknya dalam melengkapi bahan investigasi.
Pihaknya juga akan melakukan investigasi mulai dari proses pesawat dibuat, dikirmkan kepada maskapai, hingga pelatihan yang diberikan oleh Boeing.

"Semua program training Boeing sedang kami pelajari," katanya.

Hal senada diungkapkan regulator penerbangan Amerika Serikat, FAA. Saat ini, FAA masih menunggu hasil investigasi atas jatuhnya JT610 selesai dilakukan. Setelah itu, barulah FAA akan meminta Boeing untuk mendesain ulang komponen maupun perangkat lunaknya jika memang diperlukan.

“Langkah lebih tegas akan diambil setelah investigasi selesai dilakukan,” tulis FAA dalam pernyataannya.(chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Polisi Belum Temukan Penyebab Jatuhnya Pesawat Lion Air


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler