Bom Indramayu: Pak RW Sudah Diminta Pantau Jauh Hari

Senin, 16 Juli 2018 – 07:54 WIB
Bom Indramayu: Bengkel merangkap rumah yang dihuni terduga teroris, AS beserta keluarganya tampak sepi. Foto: KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU/JPNN.com

jpnn.com, INDRAMAYU - Densus 88 Antiteror 88 bergerak cepat pascaterjadinya bom Indramayu yang dilakukan pasutri Galuh Rosita (26) dan Nurhasanah (26) Minggu (15/7) dini hari. Bom tidak meledak, Galuh ditembak polisi setelah dikejar. Nursahanah juga sudah tertangkap.

Tim Densus 88 mengamankan sejumlah orang terduga jaringan teroris di Kabupaten Indramayu. Beberapa di antaranya ditangkap di kediaman masing-masing.

BACA JUGA: Pelaku Bom Indramayu Luka Parah, Kabur ke RS Arjawinangun

Di Kecamatan Anjatan tepatnya di sebuah bengkel pinggir jalan raya Jenderal Achmad Yani Anjatan, Blok Bernuk Karang Malang, Desa Anjatan, satu keluarga terdiri dari bapak, ibu dan 3 orang anak diamankan aparat, Sabtu (14/7).

Di hari yang sama, penangkapan juga dilakukan Densus 88 Antiteror terhadap beberapa orang di dua rumah kontrakan di Blok Sukajadi RT 21 RW Desa Sukajati dan kompleks perumahan Cipancuh Asri, Kecamatan Haurgeulis. Pasca penangkapan sekaligus penggeledahan oleh aparat, kediaman masing-masing terduga teroris di dua wilayah berbeda namun bertetangga itu terpantau sepi.

BACA JUGA: Detik-detik Dada Pelaku Bom Indramayu Tertembus Peluru, Dor!

Keadaan di lokasi kejadian pascapenangkapan sudah kondusif. Warga sekitar pun sudah beraktivitas secara normal, Minggu (15/7). Pantauan Radar Cirebon (Jawa Pos Group) di bengkel yang juga merangkap rumah tinggal milik Ahmad Syafei (44) warga Desa Anjatan, Kecamatan Anjatan, tampak tertutup rapat.

Hanya ada garis polisi yang terpasang melingkari teras rumah selebar sekitar 10 meter itu. Terdapat dua unit sepeda bekas, satu kompresor dan beberapa ban bekas yang tergantung ditiang teras.

BACA JUGA: Jokowi Minta Aparat dan Masyarakat Bersinergi Pukul Teroris

Lokasinya yang persis dipinggir jalan raya Anjatan-Haurgeulis, bangunan disebelah barat jalan itu kerap menjadi perhatian bagi pengendara yang melintas. Beberapa di antaranya memilih berhenti untuk melihat dari dekat kondisi rumah yang sehari sebelumnya ramai dikerubuti warga itu.

Kuwu (Kepala Desa) Desa Anjatan, Warto, mengatakan AS (Ahmad Syafei) merupakan penduduk setempat. Semula dia dan keluarganya memiliki rumah di Blok Karangbaru tapi dijual. Dia bersama istri dan 3 anaknya lantas berpindah ke bengkel yang berdiri di atas tanah negara itu.

“Dari dulu sudah buka bengkel, tempatnya ya di situ. Setelah rumah yang di Karangbaru dijual, dia dan keluarga pindah ke bengkel itu. Asli penduduk sini,” kata dia.

Keluarga AS dikenal tertutup dan kurang bermasyarakat. Hal ini mungkin karena kesibukan membuka usaha bengkel sepeda motor, servis sepeda angin dan juga stel pelek kendaraan roda dua. Sehinga ketika terjadi penggerebekan, masyarakat terutama para tetangganya dibuat terkejut.

Mayoritas warga tak menduga AS yang sehari-hari berkutat di bengkel ternyata diduga terlibat jaringan teroris. Namun bagi Kuwu Warto sendiri, diamankannya AS bukanlah kejutan. Sebab sudah sejak lama pula dia mendapat informasi jika segala aktivitas AS selalu dipantau aparat karena diduga terkait dengan jaringan teroris.

Senada dilontarkan H Iman Budi Santoso, Ketua RW 13 Komplek BTN Cipancuh Asri. Dia mengaku tidak terlalu kaget saat terjadi penggerebekan di rumah kontrakan yang berlokasi di RT 29 Blok Kubang Gading. Dari awal mereka mengontrak hampir setahun lalu, pihaknya mendapatkan informasi bahwa penghuni kontrakan terindikasi teroris.

Indikasi itu diperkuat dengan adanya imbauan dari pihak berwajib untuk memintanya terus memantau aktivitas warga yang berasal dari Kabupaten Subang itu.

“Memang sudah ada informasi seperti itu. Apalagi wilayah Kecamatan Haurgeulis lagi jadi pantauan aparat karena seringnya penangkapan terduga jaringan teroris,” terang dia.

BACA JUGA: Pelaku Bom Indramayu Luka Parah, Kabur ke RS Arjawinangun

Dari pantauannya pula, para penghuni rumah kontrakan yang tidak diketahui pekerjaan dan profesinya itu sangat tertutup alias inklusif. “Jarang bergaul dengan masyarakat sekitar, ke masjid juga jarang padahal jaraknya dekat,” ungkap dia.

Saat penggerebekan terjadi, Iman mengaku tidak mengetahui berapa orang yang diamankan serta barang apa saja yang diangkut dari rumah kontrakan itu. Pasalnya, sepanjang radius puluhan meter dari TKP langsung disterilkan polisi. Warga hanya berkerumun dibelakang garis polisi yang terpasang. (kho)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 3 Teroris Kaliurang Melawan, 2 Anggota Densus 88 Terluka


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler