Bosan Dibohongi, Pengungsi Rohingya Ogah Pulang ke Myanmar

Jumat, 24 November 2017 – 17:18 WIB
Sejak pekan lalu, sudah puluhan ribu etnis Rohingya mengungsi dari Negara Bagian Rakhine. Foto: AP

jpnn.com, COX’S BAZAR - Ratusan ribu etnis Rohingya di kamp pengungsian Bangladesh kini punya secercah harapan untuk pulang ke kampung halaman mereka, Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Pemerintah kedua negara sudah sudah setuju untuk bekerja sama memfasilitasi proses repatriasi itu.

BACA JUGA: Myanmar dan Bangladesh Sepakat Soal Pengungsi Rohingya

Sayangnya, detail kesepakatan repatriasi itu belum terungkap. Termasuk cara pemulangan, jaminan keselamatan yang diinginkan penduduk Rohingya, kesepakatan jumlah penduduk yang akan dipulangkan, serta di mana mereka tinggal nanti.

Seperti diketahui, mayoritas desa di Rakhine yang sebelumnya dihuni penduduk Rohingya telah rata dengan tanah. Rumah, sekolah, masjid, dan berbagai bangunan lainnya dijarah dan dibakar saat konflik terjadi.

BACA JUGA: Filipina Akui Keturunan Indonesia sebagai Warga Negara

Kehidupan di kamp pengungsian memang mengenaskan. Tapi, banyak pula pengungsi yang enggan pulang kembali ke Myanmar. Pemerkosaan, penjarahan, dan kekejian militer membuat mereka diliputi trauma luar biasa.

”Saya tidak ingin kembali. Saya tidak percaya pemerintah. Setiap kali mereka menyetujui kepulangan kami, kami kembali (ke Myanmar) dan mereka melanggar janjinya,” ujar Anwar Begum kepada Reuters Oktober lalu.

BACA JUGA: AS Tak Percaya Militer Myanmar Bersih dari Darah Rohingya

Yang dia maksud adalah tindakan represif yang terjadi berkali-kali pada etnis Rohingya. Begum telah melarikan diri dari Myanmar tiga kali. Yaitu saat konflik 1978, 1991, dan yang terakhir Agustus lalu. Saat ini pun arus pengungsi dari Rakhine ke Bangladesh masih mengalir meski tidak sebanyak sebelumnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson Rabu (22/11) menyebutkan bahwa yang terjadi di Rakhine merupakan pembersihan etnis Rohingya.

AS mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi kepada orang-orang yang terlibat dalam kekejian tersebut. Di pihak lain, Duta Besar Rusia untuk Myanmar Nikolay Listopadov menyatakan, pelabelan yang dilakukan AS hanya akan memperburuk situasi. (Reuters/AP/Al Jazeera/Dhaka Tribune/sha/c9/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tak Ada Lagi Kekaguman, Rocker Gaek Ini ”Putuskan” Suu Kyi


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler