JPNN.com

BPOM Dorong Industri Farmasi Produksi Obat Asli Indonesia

Kamis, 16 Januari 2025 – 17:58 WIB
BPOM Dorong Industri Farmasi Produksi Obat Asli Indonesia - JPNN.com
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar dalam kunjungannya ke perusahaan produsen obat PT Cendo di Kabupaten Bandung, Kamis (16/1/2025). Foto: Nur Fidhiah Shabrina/JPNN.com

jpnn.com, BANDUNG - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong industri farmasi di Indonesia untuk mengembangkan dan memproduksi Obat Asli Indonesia.

Potensi ini dinilai sangat besar untu menjadikan produk obat-obatan asli Indonesia seperti jamu kian populer di negara sendiri bahkan internasional.

BACA JUGA: Daewoong Memperkenalkan Terapi Sel dari Fasilitas yang Sudah BPOM CPOB

Hal itu dikatakan Kepala BPOM RI Taruna Ikrar saat mengunjungi perusahaan produsen obat PT Cendo di Kabupaten Bandung, Kamis (16/1).

Taruna menuturkan, jika Tiongkok memiliki Traditional Chinese Medicine (TCM) yang terstandarisasi dan terkenal di internasional, ini saatnya memajukan Obat Asli Indonesia.

BACA JUGA: PNM dan BPOM Dorong UMKM Pangan Bersertifikasi

Menurutnya, saat ini Obat Asli Indonesia jumlahnya ada lebih dari 17.200 yang terdaftar di Badan POM, namun yang dikembangkan menjadi obat herbal terstandar baru 97.

“Berarti peluang kerja, peluang pengembangan masih sangat besar,” ucapnya.

BACA JUGA: Fitofarmaka Bukan Obat Tradisional, Tenaga Medis Jangan Ragu Meresepkan kepada Pasien

Dia mengatakan Obat Asli Indonesia yang naik jelas menjadi obat fitofarmaka setingkat obat, khususnya dari obat tradisional, baru 21 item.

"Berarti peluang untuk pengembangannya masih sangat luar biasa. Ya mudah-mudahan nanti PT Cendo juga bisa memperluas apakah itu obat-obat yang sifatnya untuk mata," ujarnya.

Apalagi di bidang farmasi, katanya, kebutuhannya sangat tinggi. Hal ini dipicu perdagangan antarnegara dan jumlah manusia yang makin bertambah.

"Saya yakin industri farmasi itu tidak akan pernah berkurang karena produknya sangat dibutuhkan oleh masyarakat banyak," ungkapnya.

Dalam kunjungan ini, Taruna mengatakan industri farmasi berskala besar di Indonesia berjumlah 240. Dalam kunjungan ke Bandung, BPOM RI mengunjungi Biofarma, PT Cendo, dan Sanbe Farma.

Pihaknya melakukan monitoring terhadap industri farmasi dan mengevaluasi apakah sertifikasi yang sudah diberikan dilaksanakan sebagaimana mestinya, dari bagian hulu sampai hilirnya, mulai dari sertifikat cara pembuatan obat yang baik, sertifikasi clinical trial, sertifikasi produk, nomor izin edar, distributor, hingga surat keterangan ekspor.

Dia pun mendorong PT Cendo dengan 213 item model produknya untuk segera melakukan ekspor. Sebab produk-produknya sangat dibutuhkan bukan hanya di dalam negeri.

Apalagi, katanya, Cendo memiliki hak paten terhadap 48 produk. Artinya itu produk-produk baru hasil inovasi.

"Selain itu teknologi, saya sebagai seorang ahli farmakologi dan seorang entrepreneur global ya saya melihat kita tidak kalah dengan perusahaan-perusahaan besar yang lain seperti yang saya pernah kunjungi, Pfizer dan Moderna. Kita punya keunggulan karena spesifikasi dan spesialistiknya itu, dan saya melihat berdasarkan pengalaman saya, Cendo ini bisa go public, go internasional," jelasnya.

Sementara itu, Direktur PT Cendo Pharmaceutical Industries Donny Hardiana, berterima kasih atas kunjungan dan dukungan Kepala BPOM RI terhadap perkembangan perusahaannya.

"Sehingga kami bisa terus meningkatkan diri, terus berinovasi dan juga kami bisa menyampaikan apa yang kami rasa perlu didukung lebih banyak guna kami bisa melayani lebih banyak kebutuhan masyarakat Indonesia," kata Donny.

Dia mengatakan tentunya juga mengenai bagaimana perusahaannya untuk bisa ekspor sampai melakukan penelitian terhadap obat-obatan asli Indonesia.

"Kami akan fokus di sana (Obat Asli Indonesia) juga untuk mendukung program dari pemerintah," tuturnya. (mcr27/jpnn)


Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Nur Fidhiah Sabrina

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler